Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

IHSG Anjlok 3% Lebih, Saham Big Banks Justru Jadi “Diskon Emas” Dividen Yield Tembus Belasan Persen

Cholifatun Nisak • Rabu, 1 Juli 2026 | 20:25 WIB
IHSG anjlok 3%, saham big banks jadi sorotan dengan dividen yield belasan persen di tengah koreksi pasar saham 2026.
IHSG anjlok 3%, saham big banks jadi sorotan dengan dividen yield belasan persen di tengah koreksi pasar saham 2026.

 

JAKARTA, RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali berada di bawah tekanan setelah mengalami koreksi tajam lebih dari 3% dalam satu hari perdagangan. Kondisi ini membuat pasar saham domestik kembali bergejolak, namun di sisi lain justru memunculkan peluang menarik di sektor perbankan besar atau big banks yang kini dipandang sedang berada di zona undervalued.

Penurunan IHSG yang cukup dalam ini memperpanjang tren pelemahan pasar modal Indonesia sejak awal 2026. Tekanan datang dari kombinasi faktor global dan domestik, mulai dari kebijakan suku bunga Bank Indonesia, pelemahan nilai tukar rupiah, hingga derasnya arus keluar dana asing dari sektor perbankan. Meski demikian, kondisi ini justru membuka diskusi baru di kalangan investor terkait potensi strategi value investing dan dividend investing di tengah harga saham yang terkoreksi.

IHSG Tertekan, Sektor Perbankan Jadi Sorotan

Dalam perdagangan terakhir, IHSG tercatat melemah lebih dari 3% ke level sekitar 5.600-an. Pelemahan ini membuat indeks turun signifikan secara year to date dan dalam periode enam bulan terakhir. Hampir seluruh sektor tercatat berada di zona merah, termasuk sektor barang baku, energi, konsumsi non-primer, hingga properti.

Di tengah tekanan tersebut, saham-saham big banks seperti BBCA, BBRI, BMRI, BBNI, hingga BRIS justru menjadi pusat perhatian investor. Meskipun harganya terkoreksi cukup dalam, sejumlah saham perbankan besar kini menawarkan dividen yield yang meningkat tajam, bahkan mencapai dua digit.

Kondisi ini membuat sebagian pelaku pasar mulai melirik kembali sektor perbankan sebagai aset jangka panjang, terutama bagi investor yang berorientasi pada pendapatan pasif dari dividen.

Baca Juga: Dividen Investing Saat IHSG Berdarah: Peluang Cuan Besar atau Justru Jebakan Value

Big Banks Masuk Zona “Diskon”

Secara fundamental, saham-saham big banks dinilai masih memiliki kualitas yang solid. Namun, tekanan makroekonomi seperti kenaikan suku bunga Bank Indonesia dari 4,5% menjadi 5,75% dalam waktu singkat menekan kinerja sektor ini. Kenaikan suku bunga berdampak pada meningkatnya cost of fund dan potensi perlambatan pertumbuhan kredit.

Selain itu, pelemahan rupiah turut menjadi sentimen negatif yang memicu aksi jual asing di sektor perbankan. Investor asing diketahui cenderung melepas saham-saham likuid seperti perbankan ketika terjadi ketidakpastian makro.

Namun di sisi lain, penurunan harga saham yang cukup dalam justru membuat valuasi menjadi lebih menarik. Beberapa saham seperti BBRI dan BMRI kini memiliki dividen yield di kisaran dua digit, sementara BBNI bahkan dinilai berada pada posisi paling murah secara valuasi dengan price to book value di bawah 1 kali.

BBCA hingga BBNI: Siapa Paling Menarik?

Dalam analisis fundamental, BBCA tetap menjadi bank dengan kualitas terbaik namun tidak lagi dianggap paling murah. BMRI dinilai memiliki kombinasi paling seimbang antara valuasi, profitabilitas, dan dividen. Sementara BBRI menawarkan yield tinggi namun masih menghadapi risiko dari segmen mikro yang sensitif terhadap kondisi ekonomi.

BBNI menjadi sorotan sebagai saham paling undervalued dengan valuasi rendah, sementara BRIS memiliki potensi pertumbuhan jangka panjang dari sektor keuangan syariah, meski saat ini masih dinilai kurang menarik dari sisi valuasi dibandingkan bank besar lainnya.

Secara umum, dividen yield sektor perbankan kini banyak berada di kisaran 10% hingga belasan persen, jauh di atas instrumen deposito maupun obligasi pemerintah.

Sentimen Makro Masih Jadi Kunci

Meski valuasi terlihat menarik, pelaku pasar menilai pemulihan sektor perbankan sangat bergantung pada stabilitas makroekonomi. Tiga faktor utama yang menjadi perhatian adalah stabilitas rupiah, kebijakan suku bunga Bank Indonesia, dan kembalinya arus dana asing ke pasar saham domestik.

Jika ketiga faktor tersebut membaik, sektor perbankan berpotensi mengalami re-rating dan kembali menjadi motor penggerak IHSG. Namun selama tekanan makro masih berlangsung, pasar diperkirakan masih akan bergerak volatil.

Baca Juga: IHSG Anjlok 3%, Sentuh Level 5.600: Analis Ungkap Skenario Terburuk dan Peluang Rebound

Editor : Cholifatun Nisak
#saham big banks #dividen yield #BBRI BMRI BBCA BBNI #ihsg #pasar saham indonesia