JAKARTA, RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Penurunan harga saham di pasar modal Indonesia kembali memicu perbincangan hangat di kalangan investor, terutama terkait strategi dividend investing. Di tengah koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang membuat banyak saham perbankan dan komoditas terkoreksi tajam, sejumlah analis menilai kondisi ini justru membuka peluang akumulasi aset berdividen tinggi dengan imbal hasil yang semakin menarik.
IHSG dalam beberapa waktu terakhir tercatat mengalami tekanan signifikan, seiring aksi jual asing yang masih berlanjut di berbagai sektor, terutama perbankan. Meski demikian, tidak semua emiten mengalami penurunan kinerja fundamental. Beberapa perusahaan dinilai masih stabil dalam menghasilkan laba dan tetap konsisten membagikan dividen kepada pemegang saham.
Kondisi tersebut membuat dividend yield dari sejumlah saham justru meningkat seiring turunnya harga pasar. Hal inilah yang kemudian menjadi dasar pandangan sebagian pelaku pasar bahwa saat ini bisa menjadi momentum awal untuk membangun portofolio dividend investing, terutama bagi investor jangka panjang.
Baca Juga: Dividen Investing Saat IHSG Berdarah: Peluang Cuan Besar atau Justru Jebakan Value
Saham Turun, Dividend Yield Justru Naik
Dalam kondisi pasar yang melemah, saham-saham seperti BBRI, BMRI, BBCA, BBNI hingga emiten komoditas seperti PTBA, ITMG, dan ADRO tetap menjadi perhatian. Meski harga sahamnya mengalami penurunan signifikan dalam beberapa tahun terakhir—bahkan mencapai 40–50% di beberapa emiten perbankan besar—dividen yang dibagikan masih relatif kuat.
BBRI misalnya, dalam skenario tertentu menunjukkan dividend yield yang dapat mencapai sekitar 12%. Sementara BMRI berada di kisaran 11–12%, dan PTBA bahkan sempat mencatat yield di atas 14% pada periode harga komoditas tinggi. Kondisi ini membuat saham-saham tersebut dinilai menarik dari perspektif income investing.
Di sektor perbankan, BBCA tetap menjadi emiten dengan kualitas tertinggi, namun bukan yang paling murah secara valuasi. Sementara BBRI dan BMRI menawarkan kombinasi antara harga yang terkoreksi dan dividen yang tinggi, menjadikannya opsi menarik bagi investor yang mengincar pendapatan pasif.
Strategi Dividend Investing di Tengah Volatilitas
Dividend investing menekankan pada pembelian saham-saham yang secara konsisten membagikan dividen dalam jangka panjang. Dalam kondisi pasar turun seperti saat ini, strategi ini dianggap semakin relevan karena dividend yield cenderung meningkat akibat harga saham yang lebih rendah.
Beberapa investor bahkan memandang situasi ini sebagai fase “akumulasi”, terutama ketika tekanan pasar berasal dari faktor eksternal seperti kenaikan suku bunga Bank Indonesia, pelemahan rupiah, serta arus keluar dana asing dari sektor keuangan.
Namun demikian, pelaku pasar juga mengingatkan bahwa dividen tinggi tidak otomatis menjamin kenaikan harga saham dalam jangka pendek. Faktor makroekonomi seperti suku bunga, inflasi, dan likuiditas global tetap menjadi penentu utama arah pasar.
Baca Juga: IHSG Anjlok 3%, Sentuh Level 5.600: Analis Ungkap Skenario Terburuk dan Peluang Rebound
Faktor Makro Masih Jadi Penentu
Sektor perbankan, yang menjadi tulang punggung IHSG, sangat sensitif terhadap kebijakan moneter. Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia dalam beberapa bulan terakhir menekan biaya dana (cost of fund) dan berpotensi mengurangi margin keuntungan bank.
Selain itu, perlambatan pertumbuhan kredit akibat suku bunga tinggi juga menjadi tantangan tersendiri bagi industri perbankan. Kondisi ini membuat investor asing cenderung melakukan aksi jual pada saham-saham bank besar, yang pada akhirnya menekan indeks secara keseluruhan.
Meski demikian, sejumlah analis menilai bahwa jika kondisi rupiah stabil dan suku bunga mulai ditahan, sektor perbankan berpotensi kembali pulih dan mengalami re-rating valuasi.
Momentum atau Risiko?
Di tengah kondisi pasar yang penuh ketidakpastian, muncul dua pandangan berbeda. Sebagian investor melihat penurunan harga saham sebagai peluang emas untuk masuk di harga murah dengan imbal hasil dividen tinggi. Namun sebagian lainnya memilih untuk menunggu kepastian arah makroekonomi sebelum melakukan akumulasi besar.
Sejumlah saham seperti BBCA, BBRI, BMRI, BBNI, hingga emiten komoditas dinilai tetap memiliki fundamental yang kuat untuk jangka panjang. Namun keputusan investasi tetap bergantung pada profil risiko masing-masing investor.
Dengan kondisi pasar yang masih berfluktuasi, strategi dividend investing kini menjadi salah satu pendekatan yang banyak dipertimbangkan, terutama bagi investor yang mengincar pendapatan rutin di tengah ketidakpastian harga saham.
Baca Juga: IHSG Anjlok 3% Lebih, Saham Big Banks Justru Jadi “Diskon Emas” Dividen Yield Tembus Belasan Persen
Editor : Cholifatun Nisak