Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

IHSG Anjlok 3 Persen, Rupiah Tembus 17.893: Pasar Saham Babak Belur Dihajar Sentimen Global

Cholifatun Nisak • Rabu, 1 Juli 2026 | 20:28 WIB
IHSG anjlok 3 persen ke 5.675, rupiah melemah ke 17.893. Simak sentimen global dan sektor yang paling tertekan di pasar saham hari ini.
IHSG anjlok 3 persen ke 5.675, rupiah melemah ke 17.893. Simak sentimen global dan sektor yang paling tertekan di pasar saham hari ini.

 

JAKARTA, RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tertekan tajam pada perdagangan Selasa pagi. Kondisi ini membuat IHSG anjlok 3 persen dan melanjutkan tren koreksi yang sudah berlangsung sejak pekan sebelumnya. Pelemahan ini menempatkan indeks ke level 5.675, atau turun sekitar 2,5% hingga lebih dari 145 poin.

Fenomena IHSG anjlok 3 persen ini menjadi perhatian pelaku pasar karena terjadi di tengah bursa Asia Pasifik yang justru bergerak menguat, mengikuti reli Wall Street. Namun, tekanan domestik dan global membuat pasar modal Indonesia tidak mampu mengikuti tren positif tersebut.

Sejumlah sentimen, mulai dari geopolitik hingga data ekonomi global, menjadi pemicu utama pelemahan tajam ini. Selain itu, rupiah yang kembali tertekan juga memperburuk sentimen investor terhadap aset berisiko di Tanah Air.

Baca Juga: IHSG Anjlok 3%, Sentuh Level 5.600: Analis Ungkap Skenario Terburuk dan Peluang Rebound


IHSG Anjlok 3 Persen, Terseret Aksi Jual di Hampir Semua Sektor

Kondisi IHSG anjlok 3 persen semakin diperparah oleh aksi jual yang melanda hampir seluruh sektor saham. Data perdagangan menunjukkan tidak ada sektor yang benar-benar mampu bertahan di zona hijau, menandakan tekanan pasar yang sangat luas.

Sektor finansial tercatat turun 1,84%, disusul sektor konsumer non-primer yang melemah 2,3%, serta sektor perindustrian yang terkoreksi 2,23%. Sektor konsumer primer juga tidak luput dari tekanan dengan pelemahan 1,18%.

Di sisi lain, sektor berbasis komoditas dan infrastruktur justru mencatat penurunan lebih dalam. Sektor bahan baku ambles 3,47%, energi turun 2,72%, infrastruktur melemah 2,46%, dan properti terkoreksi 1,13%.

Sementara itu, tiga sektor lainnya yakni teknologi, transportasi, dan kesehatan juga kompak berada di zona merah. Sektor transportasi menjadi yang paling dalam terkoreksi sebesar 2,25%, diikuti kesehatan 1,68% dan teknologi 0,73%.


Geopolitik Timur Tengah dan Data Global Tekan Sentimen Pasar

Pelemahan IHSG anjlok 3 persen tidak lepas dari meningkatnya ketidakpastian global. Salah satu sentimen utama datang dari ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya terkait hubungan Amerika Serikat dan Iran.

Meski sebelumnya dijadwalkan ada pertemuan di Doha, Iran menegaskan belum ada agenda resmi perundingan dengan AS. Ketidaksinkronan pernyataan ini memperkuat kekhawatiran pasar terhadap rapuhnya gencatan senjata yang baru dicapai pertengahan Juni lalu.

Konflik tersebut bahkan sempat mengganggu jalur distribusi minyak global di Selat Hormuz, yang menjadi jalur vital perdagangan energi dunia.

Di sisi lain, pemerintah Indonesia bersama DPR dan otoritas moneter menggelar rapat koordinasi untuk menjaga stabilitas ekonomi. Fokus utama diarahkan pada penguatan fiskal dan moneter, serta menjaga kepercayaan pasar di tengah pelemahan rupiah.

Baca Juga: IHSG Anjlok 3% Lebih, Saham Big Banks Justru Jadi “Diskon Emas” Dividen Yield Tembus Belasan Persen


Rupiah Tertekan, Investor Cermati Data Tenaga Kerja AS

Tekanan terhadap IHSG anjlok 3 persen juga diperkuat oleh pelemahan nilai tukar rupiah. Mata uang Garuda tercatat melemah 0,33% ke level 17.893 per dolar AS, semakin mendekati level psikologis 18.000.

Pelemahan juga terjadi terhadap sejumlah mata uang utama lainnya, termasuk dolar Singapura, euro, dan yen Jepang. Kondisi ini mencerminkan tekanan eksternal yang masih kuat terhadap pasar keuangan domestik.

Dari Amerika Serikat, pasar menantikan rilis data job openings yang akan menjadi indikator penting ketahanan pasar tenaga kerja. Data sebelumnya menunjukkan lonjakan lowongan kerja ke 7,618 juta, jauh di atas ekspektasi pasar.

Meski diperkirakan melandai, data tersebut tetap menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja AS masih cukup kuat. Hal ini berpotensi mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi oleh The Federal Reserve (The Fed), yang pada akhirnya memberi tekanan tambahan pada pasar global, termasuk Indonesia.


Kesimpulan

Kombinasi tekanan geopolitik, pelemahan rupiah, dan sentimen global membuat kondisi IHSG anjlok 3 persen menjadi sorotan utama pelaku pasar. Investor kini menanti stabilisasi makroekonomi dan arah kebijakan moneter global sebelum kembali masuk ke aset berisiko.

Baca Juga: IHSG Terkoreksi, Dividen Yield Saham Jadi Daya Tarik: Momen Tepat Dividend Investing?

Editor : Cholifatun Nisak
#sentimen global #bursa saham #rupiah melemah #pasar saham indonesia #ihsg anjlok