Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Prediksi IHSG 2 Juli 2026: BBRI, BBCA, BMRI hingga CUAN Jadi Sorotan, Saatnya Buy atau Tunggu?

Gita Dwi Nuraini • Kamis, 2 Juli 2026 | 11:00 WIB
Prediksi IHSG 2 Juli 2026 mengulas prospek BBRI, BBCA, BMRI, BRPT hingga CUAN setelah IHSG menguat dan asing masih melakukan aksi net sell.(Gemini AI)
Prediksi IHSG 2 Juli 2026 mengulas prospek BBRI, BBCA, BMRI, BRPT hingga CUAN setelah IHSG menguat dan asing masih melakukan aksi net sell.(Gemini AI)

 

JAKARTA, RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COMPrediksi IHSG 2 Juli 2026 menjadi perhatian pelaku pasar setelah indeks berhasil ditutup menguat 0,92 persen pada perdagangan Rabu (1/7). Meski kembali berada di zona hijau, penguatan tersebut dinilai belum cukup kuat untuk mengubah tren pasar yang masih dibayangi tekanan jual investor asing.

Dalam prediksi IHSG 2 Juli 2026, analis menilai area resistance masih berada di kisaran 6.350–6.360, sedangkan support penting berada di level 5.500. Sepanjang perdagangan, IHSG sempat mendekati area support sebelum akhirnya berhasil ditutup lebih tinggi.

Selain pergerakan indeks, prediksi IHSG 2 Juli 2026 juga dipengaruhi oleh aksi net sell investor asing yang masih terjadi pada sejumlah saham perbankan besar, terutama BBRI, BMRI, dan BBNI. Kondisi tersebut membuat investor disarankan tetap selektif sebelum mengambil keputusan investasi.

Baca Juga: Jamasan Pusaka di Dalem Kanjengan Tetap Digelar, Plt Bupati Tulungagung Tegaskan Tak Terganggu Penyidikan Korupsi

IHSG Menguat, tetapi Asing Masih Gencar Melepas Saham

Meski IHSG berhasil mencatatkan kenaikan harian, investor asing masih membukukan penjualan bersih pada sejumlah saham unggulan. Saham Bank Rakyat Indonesia (BBRI) menjadi yang paling banyak dilepas dengan nilai sekitar Rp352 miliar.

Tekanan jual juga terjadi pada saham Bank Mandiri (BMRI) sebesar Rp246 miliar, sementara saham Bank Negara Indonesia (BBNI) ikut mengalami distribusi asing. Di sisi lain, saham Bank Central Asia (BBCA) justru masih mencatatkan aliran dana asing masuk sekitar Rp135 miliar meski belum tergolong besar.

Secara teknikal, analis menilai posisi IHSG saat ini sudah berada di area bawah (bottom area), sehingga mulai menarik bagi investor jangka panjang yang mengincar saham-saham dengan fundamental kuat.

Baca Juga: Kejari Tulungagung Buka Peluang Panggil Kembali Pejabat Terkait Kasus Pengadaan Tanah Dalem Kanjengan, Menunggu Hasil Analisis Dokumen

Rupiah Masih Lemah, Investor Diminta Waspada

Faktor lain yang turut menjadi perhatian adalah nilai tukar rupiah yang masih berada di kisaran Rp17.900 per dolar AS. Posisi tersebut dinilai belum menunjukkan penguatan yang signifikan.

Apabila pelemahan rupiah berlanjut hingga mendekati level Rp18.200 per dolar AS, kondisi tersebut berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap pergerakan IHSG.

Karena itu, investor diminta terus memantau perkembangan ekonomi domestik serta kebijakan pemerintah yang dapat memengaruhi sentimen pasar dalam beberapa pekan ke depan.

Baca Juga: Adakan Konseling Psikologi Gratis Di 3 Kabupaten, Mahasiswa Gandeng Relawan dan Laboratorium Psikologi Islam UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung Menuju Generasi Sehat Mental

Kondisi Global Cenderung Stabil

Dari sisi global, situasi pasar dinilai relatif kondusif. Harga emas dunia masih bertahan di sekitar USD4.030 per troy ounce setelah mengalami koreksi cukup dalam dalam beberapa waktu terakhir.

Sementara itu, harga minyak mentah WTI bergerak di kisaran USD69 per barel dan Brent sekitar USD72 per barel. Meski masih tergolong stabil, pelaku pasar tetap diminta mencermati volatilitas perdagangan Amerika Serikat yang biasanya meningkat ketika pasar Wall Street dibuka.

Di pasar aset kripto, Bitcoin justru menunjukkan sinyal teknikal yang kurang baik setelah gagal bertahan di atas level USD59.000. Jika tekanan jual berlanjut, Bitcoin diperkirakan berpotensi turun menuju area support sekitar USD54.000.

BBCA, BBRI dan BMRI Masih Menarik Dikoleksi

Untuk saham perbankan, BBCA dinilai masih memiliki peluang menguat apabila mampu menembus resistance di level Rp5.700. Jika berhasil, target berikutnya berada di kisaran Rp5.900.

Sementara itu, BBRI ditutup melemah 2,20 persen ke level Rp2.670. Meski masih mendapat tekanan jual asing, harga tersebut dinilai sudah cukup menarik bagi investor jangka panjang karena berada di area bawah. Target terdekat saham ini berada di kisaran Rp2.880 hingga kembali ke level psikologis Rp3.000 apabila sentimen pasar membaik.

Adapun BMRI juga dinilai mulai murah setelah turun ke kisaran Rp3.800. Dengan fundamental perusahaan yang masih kuat serta valuasi yang relatif rendah, saham ini disebut masih layak dipertimbangkan sebagai investasi jangka panjang, meski investor tetap diminta mengantisipasi potensi penurunan menuju area support Rp3.650.

TPIA, BRPT hingga CUAN Ikut Menjadi Sorotan

Selain sektor perbankan, sejumlah saham lain juga masuk radar pengamatan pelaku pasar.

TPIA masih berpeluang melanjutkan penguatan apabila mampu menembus level Rp1.770 dengan target menuju Rp1.820. BRPT justru mencuri perhatian setelah melonjak lebih dari 7 persen dan mendapat akumulasi investor asing.

Sementara itu, saham CUAN menjadi salah satu yang paling menonjol karena berhasil menguat sekitar 16 persen. Aksi beli asing dinilai menjadi pendorong utama kenaikan tersebut. Jika mampu bertahan di atas level Rp620, saham ini diperkirakan berpotensi melanjutkan penguatan menuju area Rp655 hingga Rp700.

Meski demikian, analis kembali mengingatkan bahwa seluruh proyeksi tersebut bersifat teknikal sehingga keputusan investasi tetap berada di tangan masing-masing investor. Penggunaan dana dingin dan manajemen risiko tetap menjadi kunci utama menghadapi volatilitas pasar.

Editor : Gita Dwi Nuraini
#Prediksi IHSG 2 Juli 2026 #ihsg #BMRI #BBRI #BBCA