Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Rekomendasi Saham 2 Juli 2026: BBCA, BBRI, DSSA dan TPIA, Buy on Weakness atau Buy on Break?

Gita Dwi Nuraini • Kamis, 2 Juli 2026 | 11:05 WIB
Rekomendasi saham 2 Juli 2026 mengulas prospek BBCA, BBRI, DSSA dan TPIA. Simak level support, resistance, serta strategi buy on weakness.(Gemini AI)
Rekomendasi saham 2 Juli 2026 mengulas prospek BBCA, BBRI, DSSA dan TPIA. Simak level support, resistance, serta strategi buy on weakness.(Gemini AI)

 

JAKARTA, RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COMRekomendasi saham 2 Juli 2026 kembali menjadi perhatian investor setelah analis pasar modal memberikan empat saham pilihan yang dinilai menarik untuk dicermati pada perdagangan Kamis (2/7). Saham-saham tersebut berasal dari sektor perbankan dan konglomerasi, yakni BBCA, BBRI, DSSA, serta TPIA.

Dalam rekomendasi saham 2 Juli 2026, investor tetap diingatkan bahwa seluruh analisis merupakan pandangan teknikal sehingga keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan masing-masing. Strategi yang disarankan pun berbeda-beda, mulai dari buy on weakness hingga buy on break sesuai karakter pergerakan setiap saham.

Selain mempertimbangkan kondisi teknikal, rekomendasi saham 2 Juli 2026 juga dipengaruhi sejumlah sentimen global, mulai dari arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed), pergerakan nilai tukar rupiah, hingga kondisi ekonomi domestik yang masih menjadi perhatian pelaku pasar.

Baca Juga: Dalem Kanjengan Beralih Fungsi Jadi Perkantoran, Status Situs Bersejarah Tulungagung Tetap Dipertahankan

BBCA Masih Dibayangi Sentimen Negatif

Analis menilai saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) masih menghadapi tekanan meski berhasil ditutup menguat sekitar 0,90 persen ke level Rp5.600 pada perdagangan terakhir.

Secara teknikal, harga BBCA masih berada di bawah rata-rata pergerakan (moving average) jangka pendek 10 hingga 20 hari. Kondisi tersebut mengindikasikan pelaku pasar, termasuk fund manager dan investor institusi, masih memilih bersikap wait and see menjelang keputusan suku bunga The Fed.

Untuk strategi perdagangan, investor disarankan melakukan buy on weakness secara bertahap pada kisaran Rp4.800 hingga Rp5.150 apabila harga kembali mengalami koreksi. Sementara resistance jangka pendek diproyeksikan berada di sekitar Rp6.400.

Baca Juga: Jamasan Pusaka di Dalem Kanjengan Tetap Digelar, Plt Bupati Tulungagung Tegaskan Tak Terganggu Penyidikan Korupsi

BBRI Berpotensi Bottoming pada Juli

Berbeda dengan BBCA, saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) justru ditutup melemah 2,20 persen ke level Rp2.670 setelah sempat menyentuh Rp2.750 pada perdagangan intraday.

Tekanan terhadap BBRI dipicu sejumlah faktor, antara lain tingginya inflasi, pelemahan sektor manufaktur yang tercermin dari data PMI, kenaikan suku bunga, hingga aksi buyback perusahaan yang dinilai relatif kecil dibandingkan bank besar lainnya.

Secara teknikal, BBRI masih menunjukkan sinyal bearish setelah indikator harian membentuk pola dead cross. Karena itu, investor disarankan mulai mencicil pembelian apabila harga bergerak menuju area Rp2.540 hingga Rp2.200 yang diperkirakan menjadi area bottom.

Meski demikian, analis menilai sektor perbankan berpotensi mulai membentuk dasar penguatan (bottoming) selama Juli apabila tekanan eksternal mulai mereda.

Baca Juga: Kejari Tulungagung Buka Peluang Panggil Kembali Pejabat Terkait Kasus Pengadaan Tanah Dalem Kanjengan, Menunggu Hasil Analisis Dokumen

DSSA Layak Dicermati Jika Tembus Resistance

Dari sektor konglomerasi, saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) menjadi salah satu yang menarik perhatian. Saham ini ditutup menguat lebih dari 3 persen ke level Rp820.

Analis menjelaskan DSSA merupakan salah satu saham konglomerasi yang mampu mencatatkan kenaikan signifikan selama Juni meski sebelumnya sempat terkoreksi cukup dalam pasca stock split.

Strategi yang direkomendasikan adalah buy on break atau membeli ketika harga berhasil menembus level resistance sekitar Rp920. Jika berhasil breakout, saham ini diperkirakan berpotensi melanjutkan penguatan menuju Rp1.050 hingga Rp1.200 dalam jangka pendek.

Namun bagi investor yang ingin mengoleksi di harga bawah, area support berada pada kisaran Rp685 hingga Rp480.

TPIA Disarankan Buy on Break

Sementara itu, saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) juga masuk daftar rekomendasi dengan strategi buy on break.

Meski tren jangka menengah masih dinilai belum sepenuhnya pulih, peluang kenaikan jangka pendek dinilai tetap terbuka apabila harga berhasil menembus resistance penting.

Analis memperkirakan TPIA memiliki peluang bergerak menuju kisaran Rp2.200 hingga Rp2.660 apabila momentum breakout terjadi. Bahkan dalam skenario yang lebih optimistis, harga masih memiliki ruang menuju area Rp2.900.

Di sisi lain, investor diminta tetap disiplin menerapkan manajemen risiko. Area support berada di kisaran Rp1.700 hingga Rp1.300 sehingga pembelian sebaiknya dilakukan setelah muncul konfirmasi penguatan atau ketika harga kembali mendekati level support.

Analis juga mengingatkan bahwa Juli diperkirakan menjadi periode yang cukup menantang bagi pasar saham. Selain menunggu keputusan The Fed dan Bank Indonesia, pelemahan rupiah masih menjadi faktor yang berpotensi menekan saham-saham berkapitalisasi besar.

Karena itu, strategi yang dinilai paling aman adalah membeli secara bertahap di area support atau menunggu konfirmasi breakout sebelum melakukan akumulasi.

Editor : Gita Dwi Nuraini
#Rekomendasi saham 2 Juli 2026 #DSSA #TPIA #BBRI #BBCA