Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Prediksi IHSG 2 Juli 2026: Analis Minta Waspada, BBRI, BMRI hingga TPIA Masih Berpotensi Terkoreksi

Gita Dwi Nuraini • Kamis, 2 Juli 2026 | 11:10 WIB
Prediksi IHSG 2 Juli 2026 masih bearish. Simak analisis BBRI, BMRI, BBCA, TPIA hingga DSSA serta strategi tactical trading bagi investor.(Gemini AI)
Prediksi IHSG 2 Juli 2026 masih bearish. Simak analisis BBRI, BMRI, BBCA, TPIA hingga DSSA serta strategi tactical trading bagi investor.(Gemini AI)

 

JAKARTA, RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COMPrediksi IHSG 2 Juli 2026 masih dibayangi sentimen negatif meski indeks sempat mencatatkan penguatan sekitar 1 persen pada perdagangan sebelumnya. Analis menilai rebound yang terjadi belum cukup kuat untuk mengubah tren pasar yang masih cenderung bearish sehingga investor diminta lebih berhati-hati dalam mengambil posisi.

Dalam prediksi IHSG 2 Juli 2026, strategi yang disarankan bukan lagi membeli secara agresif, melainkan melakukan tactical trading atau perdagangan jangka sangat pendek. Investor juga diminta disiplin menerapkan batas kerugian (stop loss) apabila harga saham kembali menembus level support.

Selain kondisi teknikal domestik, prediksi IHSG 2 Juli 2026 turut dipengaruhi pergerakan bursa global, harga komoditas, serta arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed) yang masih menjadi perhatian pelaku pasar.

Baca Juga: 26 Truk Roda Enam Ditilang di Jalur Alternatif Jembatan Gondang 1 di Simpang Pacet, Rambu dan Portal Pembatas Masih Diabaikan

Bursa Global Bergerak Mixed, Investor Tunggu Arah Baru

Perdagangan di pasar saham Amerika Serikat ditutup bervariasi. Indeks Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq terkoreksi tipis setelah sebelumnya mencatatkan penguatan.

Meski demikian, secara teknikal ketiga indeks tersebut masih berada di area resistance sehingga pasar dinilai sedang menunggu momentum berikutnya. Analis memperkirakan kejutan baru berpotensi muncul menjelang akhir pekan, apakah indeks mampu melakukan breakout atau justru kembali mengalami breakdown.

Di sisi lain, harga emas dunia masih bertahan di sekitar level USD4.000 per troy ounce. Secara teknikal, emas mulai menunjukkan pelemahan setelah bergerak di bawah rata-rata pergerakan (moving average).

Sementara harga minyak dunia juga mulai kembali ke level normal setelah ketegangan geopolitik mereda. Kondisi tersebut membuat sentimen terhadap saham sektor energi dan komoditas dinilai belum terlalu menarik dalam jangka pendek.

Baca Juga: Dalem Kanjengan Beralih Fungsi Jadi Perkantoran, Status Situs Bersejarah Tulungagung Tetap Dipertahankan

IHSG Masih Berpotensi Melanjutkan Koreksi

Meski sempat rebound sekitar 1 persen, kondisi teknikal IHSG dinilai belum memberikan sinyal pembalikan arah yang kuat.

Analis menyoroti indikator MACD yang mulai mengarah pada pola dead cross, sementara bentuk candlestick penguatan dinilai belum cukup meyakinkan karena belum mampu menutup sebagian besar pelemahan pada perdagangan sebelumnya.

Dengan kondisi tersebut, peluang IHSG kembali menguji area support masih cukup terbuka. Investor disarankan menghindari pembelian agresif hingga muncul konfirmasi perubahan tren.

Strategi yang dianggap paling aman adalah membeli di area support dan segera melakukan aksi ambil untung (take profit) ketika terjadi rebound jangka pendek.

Baca Juga: Jamasan Pusaka di Dalem Kanjengan Tetap Digelar, Plt Bupati Tulungagung Tegaskan Tak Terganggu Penyidikan Korupsi

Saham Perbankan Masih Berada dalam Tren Bearish

Sejumlah saham perbankan berkapitalisasi besar juga dinilai masih berada dalam tekanan.

BBCA sempat mengalami technical rebound, tetapi kembali melemah pada sesi sore. Analis melihat pola perdagangan saat ini menunjukkan tekanan jual lebih sering muncul menjelang penutupan pasar sehingga investor disarankan memanfaatkan kenaikan harga untuk melakukan trading cepat.

BBRI juga masih berada dalam tren turun dan diperkirakan berpotensi kembali menguji area support. Hal serupa terjadi pada BMRI yang masih menunjukkan kecenderungan koreksi sehingga investor diminta menunggu harga lebih rendah sebelum melakukan akumulasi.

Menurut analis, strategi terbaik untuk saham perbankan saat ini adalah menunggu terbentuknya area bottom sebelum mulai menambah posisi.

TPIA, BRPT hingga DSSA Masih Perlu Dicermati

Pada kelompok saham konglomerasi, TPIA dinilai masih memiliki risiko koreksi setelah gagal mempertahankan level penting di kisaran Rp1.800.

Analis memperkirakan arah pergerakan TPIA masih berpotensi menuju area Rp1.300 apabila tekanan jual kembali meningkat. Oleh karena itu, pembelian baru sebaiknya dilakukan setelah muncul sinyal rebound yang lebih kuat.

BRPT juga dinilai belum sepenuhnya pulih karena pergerakan yang terjadi saat ini masih dianggap sebagai technical rebound setelah menembus level support sebelumnya.

Sementara DSSA menjadi salah satu saham yang relatif lebih kuat dibandingkan saham konglomerasi lain. Selama mampu bertahan di sekitar level Rp800, saham ini dinilai masih menarik untuk dipantau dengan target jangka pendek menuju area Rp850.

Tactical Trading Jadi Strategi Utama

Melihat kondisi pasar yang masih belum stabil, analis menegaskan bahwa pendekatan tactical trading menjadi strategi yang paling relevan pada perdagangan saat ini.

Investor disarankan membeli saham ketika harga berada di area support, kemudian segera merealisasikan keuntungan saat terjadi rebound. Sebaliknya, apabila level support ditembus, langkah yang disarankan adalah melakukan stop loss untuk membatasi risiko kerugian.

Analis juga mengingatkan bahwa kondisi IHSG masih berpotensi menguji kembali area support sehingga kehati-hatian dan disiplin dalam menerapkan manajemen risiko menjadi faktor utama dalam menghadapi perdagangan awal Juli 2026.

Editor : Gita Dwi Nuraini
#Prediksi IHSG 2 Juli 2026 #TPIA #ihsg #BMRI #BBRI