JAKARTA, RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM – Prediksi IHSG 2 Juli 2026 masih diwarnai sikap hati-hati meski indeks berhasil ditutup menguat 0,9 persen ke level 5.695 pada perdagangan Rabu (1/7). Penguatan tersebut belum sepenuhnya mengubah sentimen pasar karena investor asing masih membukukan aksi jual bersih (net sell) sekitar Rp548 miliar di pasar reguler.
Dalam prediksi IHSG 2 Juli 2026, tekanan jual asing masih terfokus pada saham-saham perbankan berkapitalisasi besar. Namun di sisi lain, sejumlah saham sektor konglomerasi, nikel, hingga energi mulai menunjukkan sinyal akumulasi yang dinilai layak masuk daftar pantauan investor.
Analis menilai prediksi IHSG 2 Juli 2026 tetap harus disikapi dengan strategi selektif. Investor disarankan memanfaatkan momentum di area support untuk melakukan buy on weakness, terutama pada saham yang mulai diakumulasi investor asing.
Big Banks Masih Ditekan Asing
Saham perbankan besar masih menjadi sasaran aksi jual investor asing. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) kembali melemah 2,2 persen ke level Rp2.670 dengan nilai net sell asing mencapai sekitar Rp352 miliar.
Meski demikian, harga BBRI dinilai mulai mendekati area support di kisaran Rp2.500 hingga Rp2.600 sehingga mulai menarik untuk dicermati sebagai area akumulasi bertahap.
Kondisi serupa juga terjadi pada PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) yang mulai memasuki area beli setelah mengalami tekanan jual asing sekitar Rp73,7 miliar.
Sementara itu, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) turun sekitar 1 persen ke level Rp3.810. Saham ini juga dinilai semakin mendekati zona support di sekitar Rp3.750 sehingga berpotensi menjadi area buy on weakness bagi investor jangka menengah.
Berbeda dengan tiga bank tersebut, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) justru masih mencatatkan akumulasi asing sekitar Rp135 miliar. Meski belum terlalu besar, aliran dana tersebut dinilai menjadi sinyal positif dibandingkan saham perbankan lainnya.
Strategi Buy on Bottom Dinilai Menarik
Analis menyarankan investor memanfaatkan pelemahan harga saham-saham berkualitas untuk melakukan pembelian bertahap.
Strategi buy on bottom dinilai dapat memberikan potensi keuntungan lebih besar ketika harga kembali pulih. Namun investor tetap diingatkan untuk menyediakan dana cadangan apabila harga masih melanjutkan koreksi sehingga proses averaging down dapat dilakukan secara terukur.
Pendekatan ini dinilai lebih aman dibandingkan membeli saham yang sudah berada jauh di atas area support.
BRPT hingga RATU Mulai Dilirik
Selain sektor perbankan, perhatian investor juga mulai mengarah pada sejumlah saham yang mendapat akumulasi investor asing.
PT Barito Pacific Tbk (BRPT) menjadi salah satunya setelah melonjak sekitar 7,3 persen ke level Rp1.380. Kenaikan tersebut didukung aksi beli asing senilai sekitar Rp66 miliar sehingga saham ini dinilai menarik untuk dipantau.
Saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) juga menguat sekitar 16 persen dengan dukungan akumulasi asing sekitar Rp46 miliar. Meski demikian, investor tetap diminta mengantisipasi potensi aksi ambil untung setelah kenaikan yang cukup tinggi.
Di sisi lain, saham RAJA naik sekitar 10 persen dengan dukungan pembelian asing sekitar Rp20 miliar. Secara teknikal, saham ini sedang menguji area resistance sehingga masih layak masuk dalam watchlist.
RATU juga mencuri perhatian setelah melonjak sekitar 20 persen dan berhasil menembus rata-rata pergerakan 50 hari (MA50). Akumulasi asing yang mulai meningkat membuat saham ini dinilai memiliki momentum yang cukup baik untuk tren jangka pendek.
Sektor Nikel dan Energi Mulai Menarik
Selain saham konglomerasi, sektor nikel juga mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan.
PT Vale Indonesia Tbk (INCO) naik sekitar 5 persen dengan dukungan pembelian asing hampir Rp17 miliar. Posisi harga yang masih berada dekat area support membuat saham ini dinilai layak dipantau.
Sementara itu, PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) mulai bergerak naik dari area bawah setelah mendapat akumulasi asing sekitar Rp8,9 miliar.
Di kelompok Adaro, saham AADI masih bergerak sideways di sekitar level support sehingga berpotensi menjadi pilihan apabila mampu mempertahankan area tersebut.
Meski begitu, analis kembali mengingatkan bahwa aksi jual asing masih cukup besar pada sejumlah saham unggulan seperti BBRI, BMRI, BBNI, TPIA, ASII, AMRT, PGAS, TLKM, ITMG hingga UNTR. Oleh karena itu, investor tetap disarankan mengutamakan manajemen risiko dan hanya masuk pada saham yang telah menunjukkan sinyal akumulasi yang jelas.
Editor : Gita Dwi Nuraini