JAKARTA, RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM – IHSG berhasil ditutup menguat 0,92 persen pada perdagangan terakhir meski dibayangi sederet sentimen negatif dari dalam negeri. Mulai dari defisit neraca dagang pertama dalam lebih dari enam tahun hingga data manufaktur yang melemah, pasar saham Indonesia masih menghadapi tekanan sehingga investor diminta tetap selektif dalam memilih saham.
Dalam Morning Meeting yang digelar pada Kamis, 2 Juli 2026, tim riset menilai kenaikan IHSG belum menunjukkan sinyal pembalikan tren yang kuat. Penguatan indeks lebih banyak ditopang oleh saham-saham perbankan berkapitalisasi besar dan sejumlah saham konglomerasi.
Sementara itu, kondisi makroekonomi Indonesia dinilai masih menjadi perhatian pelaku pasar. Selain IHSG, investor juga mencermati perkembangan inflasi, defisit neraca dagang, hingga prospek laporan keuangan emiten pada kuartal II 2026 yang diharapkan mampu menjadi katalis positif.
Baca Juga: Bermodal HP, Kreator Asal Tulungagung Ini Tembus 6 Juta Views lewat Konten Keseharian
Inflasi Naik, Risiko Harga Pangan Masih Membayangi
Tim riset menjelaskan inflasi bulanan tercatat naik sekitar 0,4 persen, sedangkan inflasi tahunan mencapai 3,3 persen. Kenaikan tersebut terutama dipengaruhi oleh meningkatnya biaya energi, transportasi, dan harga pangan.
Di sisi lain, inflasi inti berada di kisaran 1,8 persen. Namun kenaikan ini dinilai bukan berasal dari membaiknya permintaan domestik, melainkan akibat produsen mulai meneruskan kenaikan biaya produksi kepada konsumen.
Tekanan harga diperkirakan masih berlanjut dalam beberapa bulan ke depan. Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah potensi fenomena El Nino yang diproyeksikan mencapai puncaknya pada Agustus mendatang sehingga berisiko mengganggu pasokan pangan dan mendorong inflasi lebih tinggi.
Defisit Neraca Dagang Akhiri Rekor Surplus Enam Tahun
Sorotan terbesar datang dari data perdagangan Indonesia. Untuk pertama kalinya setelah sekitar 73 bulan berturut-turut mencatat surplus, neraca dagang Indonesia mengalami defisit sebesar 1,61 miliar dolar AS pada Mei 2026.
Menurut analis, penyebab utama berasal dari melonjaknya impor migas yang dipicu tingginya harga minyak dunia beberapa waktu lalu. Akibatnya, nilai impor tumbuh jauh lebih tinggi dibandingkan ekspor.
Di sisi ekspor, sejumlah komoditas unggulan seperti batu bara, nikel, besi baja, hingga sektor manufaktur juga menunjukkan perlambatan. Kondisi tersebut diperparah oleh kontraksi sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang telah berlangsung sejak pertengahan 2025.
Meski secara kumulatif Indonesia masih membukukan surplus perdagangan, nilainya jauh lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
IHSG Menguat, Tetapi Sentimen Pasar Belum Sepenuhnya Pulih
Analis menilai kenaikan IHSG lebih dipengaruhi oleh penguatan beberapa saham tertentu dibandingkan membaiknya kondisi fundamental pasar secara keseluruhan.
Arus dana asing masih cenderung berhati-hati, sementara berbagai data ekonomi domestik belum memberikan katalis yang cukup kuat untuk mendorong reli pasar secara berkelanjutan.
Selain itu, indeks manufaktur yang turun ke level 46 turut memperkuat kekhawatiran terhadap perlambatan aktivitas ekonomi nasional.
Karena itu, investor disarankan tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa pasar telah mencapai titik terendah. Pelaku pasar masih menunggu rilis laporan keuangan kuartal II 2026 yang diharapkan mampu memperbaiki sentimen.
BBCA Dinilai Masih Menarik untuk Investasi Jangka Panjang
Di tengah kondisi pasar yang belum stabil, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) tetap menjadi salah satu emiten yang direkomendasikan untuk dicermati.
Secara fundamental, perusahaan dinilai masih memiliki kinerja yang solid dengan prospek pertumbuhan laba dan dividen yang tetap menarik. Penurunan harga saham justru membuat valuasi BBCA menjadi lebih murah dibandingkan sebelumnya.
Meski demikian, analis mengingatkan bahwa potensi kenaikan harga saham dalam jangka pendek masih cukup terbatas karena tekanan pasar secara keseluruhan belum sepenuhnya mereda.
Investor jangka panjang dinilai masih dapat memanfaatkan pelemahan harga untuk melakukan akumulasi secara bertahap, sedangkan trader jangka pendek disarankan memanfaatkan momentum teknikal dengan tetap menerapkan manajemen risiko yang disiplin.
Editor : Gita Dwi Nuraini