JAKARTA, RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM – Prediksi IHSG 2 Juli 2026 menjadi perhatian pelaku pasar setelah indeks berhasil ditutup menguat 0,92 persen pada perdagangan Rabu (1/7). Meski mencatat kenaikan, pergerakan indeks dinilai belum cukup kuat karena masih dibayangi aksi jual investor asing dan pelemahan nilai tukar rupiah.
Dalam analisis terbaru, sejumlah saham unggulan seperti BBCA, BBRI, BMRI, TPIA hingga CUAN diprediksi masih menjadi fokus investor pada perdagangan Kamis (2/7). Kondisi pasar dinilai masih dipenuhi ketidakpastian sehingga investor diminta lebih selektif dalam mengambil posisi.
Analis menyebut penguatan IHSG kali ini setidaknya memberikan sedikit ruang bernapas setelah beberapa hari mengalami tekanan. Namun secara teknikal, indeks masih menghadapi level resistance kuat di kisaran 6.350, sedangkan area support berada di sekitar 5.500.
Baca Juga: Prediksi IHSG 2 Juli 2026: BBRI, BBCA, BMRI hingga CUAN Jadi Sorotan, Saatnya Buy atau Tunggu?
Asing Masih Net Sell, Rupiah Jadi Perhatian
Salah satu sentimen yang masih membebani prediksi IHSG 2 Juli 2026 adalah aksi jual bersih investor asing. Dana asing tercatat keluar dari sejumlah saham perbankan besar seperti BBRI, BMRI, dan BBNI, sementara BBCA menjadi satu-satunya bank besar yang masih mencatatkan aliran dana masuk meski nilainya terbatas.
Selain itu, nilai tukar rupiah juga masih berada di sekitar Rp17.900 per dolar AS. Kondisi tersebut dinilai belum cukup mendukung pemulihan pasar saham domestik karena pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan kekhawatiran investor terhadap kondisi ekonomi nasional.
Di sisi global, situasi justru relatif lebih kondusif. Harga minyak dunia bergerak turun ke kisaran USD69 per barel untuk WTI dan USD72 per barel untuk Brent. Harga emas juga bertahan di sekitar USD4.030 per troy ounce setelah sebelumnya mengalami koreksi.
Sementara itu, Bitcoin masih menunjukkan tren pelemahan setelah gagal bertahan di atas level USD59.000. Jika tekanan berlanjut, aset kripto tersebut berpotensi turun menuju area USD54.000.
Baca Juga: Bermodal HP, Kreator Asal Tulungagung Ini Tembus 6 Juta Views lewat Konten Keseharian
Saham Perbankan Masih Menarik untuk Investasi
BBCA menjadi salah satu saham yang paling banyak mendapat perhatian. Secara teknikal, saham ini masih menghadapi resistance di area Rp5.700. Jika berhasil ditembus, peluang menuju Rp5.900 bahkan lebih tinggi masih terbuka.
Meski aliran dana asing belum terlalu besar, BBCA dinilai tetap menarik untuk investasi jangka panjang karena fundamental perusahaan masih sangat solid.
Sementara itu, BBRI kembali terkoreksi setelah asing melepas saham senilai sekitar Rp352 miliar. Harga yang berada di kisaran Rp2.670 dinilai sudah cukup murah bagi investor jangka panjang, apalagi kinerja perseroan masih menunjukkan pertumbuhan laba yang positif.
Hal serupa juga terjadi pada BMRI. Saham Bank Mandiri kembali melemah ke area Rp3.800 setelah sebelumnya sempat menguat. Dengan valuasi yang relatif murah dan potensi dividen yang menarik, saham ini dinilai masih layak dikoleksi secara bertahap.
Saham Grup Prajogo Pangestu Masih Jadi Sorotan
Perhatian investor juga tertuju pada saham-saham Grup Prajogo Pangestu. TPIA masih bergerak fluktuatif dan belum mampu menembus resistance di sekitar Rp1.770. Namun jika level tersebut berhasil dilewati, peluang menuju Rp1.820 hingga Rp2.200 dinilai masih terbuka.
Berbeda dengan TPIA, BRPT justru berhasil menguat lebih dari 7 persen. Penguatan tersebut didukung aksi beli investor asing meski secara valuasi saham ini dinilai masih tergolong mahal.
Sementara itu, CUAN menjadi salah satu saham dengan kenaikan paling signifikan setelah melonjak sekitar 16 persen. Aksi beli asing mendominasi perdagangan sehingga membuka peluang penguatan lanjutan apabila mampu bertahan di atas level Rp600.
Investor Disarankan Tetap Selektif
Selain saham-saham tersebut, BRMS, BUMI dan DSSA juga masih masuk dalam radar pelaku pasar. Ketiganya dinilai memiliki peluang teknikal masing-masing, namun tetap memerlukan konfirmasi volume transaksi sebelum melanjutkan tren penguatan.
Analis mengingatkan bahwa kondisi pasar saat ini masih dipenuhi berbagai sentimen, baik dari dalam maupun luar negeri. Oleh karena itu, strategi investasi bertahap dengan memilih saham berfundamental kuat dinilai lebih aman dibandingkan melakukan pembelian secara agresif.
Bagi investor jangka panjang, pelemahan harga sejumlah saham perbankan justru dianggap sebagai peluang akumulasi. Sementara trader jangka pendek disarankan tetap disiplin memperhatikan level support dan resistance sebelum mengambil keputusan transaksi.
Editor : Gita Dwi Nuraini