Sentra Kopi Cethe Tulungagung, Warung Cetul di Ngunut Laku 600 Cangkir per Hari dan Punya 6 Cabang

Davina Ar Raafika • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 20:15 WIB
Sentra Kopi Cethe Tulungagung makin berkembang. Warung Kopi Cetul di Ngunut laku 600 cangkir per hari, punya 6 cabang, dan tetap pakai sangrai kayu bakar. (GEMINI AI)
Sentra Kopi Cethe Tulungagung makin berkembang. Warung Kopi Cetul di Ngunut laku 600 cangkir per hari, punya 6 cabang, dan tetap pakai sangrai kayu bakar. (GEMINI AI)

TULUNGAGUNG - Sentra Kopi Cethe di Tulungagung kembali menunjukkan geliat bisnis warung kopi tradisional. Warung Kopi Cetul di Desa Ngunut, Kecamatan Ngunut, Kabupaten Tulungagung, yang dikelola Ahmad Nabih (24), kini memiliki enam cabang dengan penjualan sekitar 600 cangkir kopi per hari dan tetap mempertahankan racikan kopi hitam serta kopi hijau hasil sangrai kayu bakar.

Perjalanan usaha ini diulas dalam video Pemuda 24 Tahun Bisnis Warung Kopi, Sehari Laku 600 Cangkir & Punya 6 Cabang dari kanal PecahTelur.

Warung Kopi Cetul disebut menjual kopi dengan harga terjangkau, sekitar Rp4.000 hingga Rp5.000 per cangkir, sehingga dapat menjangkau berbagai kalangan masyarakat.

Enam Cabang dengan Konsep Berbeda

Ahmad Nabih menjelaskan bahwa usahanya kini berkembang menjadi enam titik cabang.

Empat di antaranya berkonsep warung kopi tradisional.

Selain itu, terdapat satu cabang angkringan untuk anak muda dan satu cabang dengan konsep coffee shop.

Perbedaan konsep tersebut dilakukan untuk menyesuaikan karakter pelanggan di tiap lokasi.

Penjualan Capai 600 Cangkir per Hari

Dari cabang-cabang utama, total penjualan rata-rata mencapai sekitar 600 cangkir setiap hari.

Angka tersebut menjadi indikator tingginya budaya ngopi di kawasan Ngunut dan sekitarnya.

Dengan harga yang relatif murah, warung kopi tetap mampu menarik pelanggan dari pagi hingga malam.

Dirintis Keluarga Sejak 1994

Warung Kopi Cetul bukan usaha yang baru berdiri.

Usaha ini dirintis oleh orang tua Ahmad Nabih sejak tahun 1994.

Awalnya, sang ayah bekerja sebagai kondektur bus.

Namun, ia memutuskan berhenti karena merasa sering melewatkan waktu salat dan ingin pekerjaan yang lebih dekat dengan masjid serta memungkinkan beribadah dengan tenang.

Berawal dari Toko Kelontong

Setelah berhenti menjadi kondektur, keluarga membuka usaha kelontong atau sembako.

Dalam perjalanannya, pembeli lebih sering datang untuk meminta kopi.

Permintaan yang terus meningkat membuat usaha perlahan beralih sepenuhnya menjadi warung kopi.

Baca Juga: Kasus HIV/AIDS di Tulungagung Bergeser ke Remaja, 630 Usia Sekolah Terdiagnosis Sejak 2006, KPAD Minta Edukasi Diperkuat

Filosofi Nama “Cetul”

Nama “Cetul” diambil dari filosofi ikan kecil yang hidup bergerombol di parit.

Harapannya, usaha yang awalnya kecil dapat berkembang menjadi banyak dan memberi manfaat lebih luas.

Filosofi tersebut kini tercermin dari pertumbuhan cabang dan jumlah pelanggan yang terus bertambah.

Titik Balik Terjadi pada 2021

Perubahan besar terjadi pada awal 2021.

Ahmad Nabih sebenarnya bercita-cita kuliah di luar kota dan menjadi Pegawai Negeri Sipil setelah lulus SMK.

Namun, rencana itu berubah ketika sang ayah terkena stroke.

Memilih Pulang dan Mengurus Usaha

Ia memutuskan memendam mimpinya untuk kuliah jauh dari rumah.

Nabih memilih kuliah di Tulungagung agar bisa merawat dan mendampingi orang tuanya.

Pada saat yang sama, ia mulai fokus mengelola dan mengembangkan Warung Kopi Cetul.

Keputusan tersebut kemudian menjadi titik awal ekspansi usaha ke beberapa cabang baru.

Produksi Kopi Dilakukan Sendiri

Salah satu kekuatan Warung Kopi Cetul adalah produksi kopi secara mandiri.

Kopi hitam dan kopi hijau disangrai sendiri menggunakan kayu bakar.

Metode tradisional itu telah dipertahankan sejak tahun 2000-an.

Pelanggan Tetap Memilih Racikan Lama

Menurut Nabih, mereka sempat bereksperimen menggunakan biji kopi dari berbagai daerah seperti Bondowoso, Ijen, Wonosobo, dan Temanggung.

Namun, pelanggan justru lebih menyukai rasa kopi asli racikan Cetul yang sudah dikenal sejak lama.

Karena itu, konsistensi rasa menjadi prioritas utama dalam produksi.

Sangrai Kayu Bakar Dipertahankan

Penggunaan kayu bakar dianggap memberi karakter rasa yang khas.

Metode ini juga menjadi bagian dari identitas kopi cethe Tulungagung.

Di tengah tren mesin sangrai modern, Warung Cetul tetap mempertahankan cara tradisional untuk menjaga cita rasa yang familiar bagi pelanggan lama.

Pelayanan Dibuat Seperti Kafe

Meski berkonsep warung kopi tradisional, standar pelayanan dibuat menyerupai kafe.

Pesanan diantarkan langsung ke meja pelanggan.

Kebersihan juga menjadi perhatian utama di seluruh cabang.

Fasilitas Pendukung Disiapkan

Setiap cabang menyediakan musala dan toilet yang dijaga kebersihannya.

Langkah ini dilakukan agar pelanggan merasa nyaman berlama-lama di warung.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa warung tradisional pun dapat menerapkan standar kenyamanan yang baik.

Owner Turun Langsung ke Lapangan

Strategi pemasaran Warung Cetul tidak hanya mengandalkan media sosial.

Nabih mengaku setiap hari berkeliling ke seluruh cabang untuk menyapa pelanggan secara langsung.

Pendekatan personal ini dianggap penting untuk membangun hubungan yang lebih dekat dengan pengunjung.

Program Jumat Berkah

Warung Cetul juga menjalankan program sosial bernama Jumat Berkah.

Setiap hari Jumat pukul 04.00-06.00 WIB, pelanggan dapat menikmati kopi gratis.

Program tersebut dimaksudkan sebagai bentuk apresiasi kepada pelanggan sekaligus mendorong kebiasaan bangun dan beraktivitas lebih pagi.

Baca Juga: Cara Mencegah Penyakit Jantung Koroner dan Panduan Pola Makan Sehat Menurut dr. Roni Senjaya

Mempekerjakan 32 Orang

Ekspansi usaha berdampak pada penyerapan tenaga kerja.

Saat ini, sekitar 32 orang bekerja di seluruh titik cabang Warung Cetul.

Sebagian di antaranya ditempatkan di dapur umum pusat yang memasok kebutuhan cabang.

Merangkul Janda untuk Bekerja

Nabih menyebut usaha ini juga berupaya merangkul para janda agar memiliki kesempatan bekerja.

Mereka dilibatkan dalam aktivitas dapur dan produksi.

Pendekatan tersebut membuat bisnis tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga pemberdayaan masyarakat sekitar.

Sentra Kopi Cethe Terus Berkembang

Kisah Warung Cetul memperlihatkan bahwa sentra kopi cethe di Tulungagung terus berkembang mengikuti zaman.

Konsep tradisional tetap dipertahankan, tetapi pengelolaannya dibuat lebih modern dan terstruktur.

Perpaduan antara racikan lama, pelayanan yang baik, dan kedekatan dengan pelanggan menjadi kunci pertumbuhan usaha.

Budaya Ngopi Masih Sangat Kuat

Tingginya penjualan harian menunjukkan bahwa budaya ngopi di Tulungagung masih sangat kuat.

Warung kopi tetap menjadi ruang pertemuan masyarakat untuk berbincang, beristirahat, dan membangun relasi sosial.

Di kawasan seperti Ngunut, kopi bukan sekadar minuman, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari warga.

Penutup

Secara keseluruhan, Sentra Kopi Cethe Tulungagung melalui Warung Kopi Cetul di Desa Ngunut menunjukkan bagaimana warung kopi tradisional dapat berkembang menjadi jaringan usaha modern tanpa meninggalkan identitas aslinya.

Dirintis keluarga sejak 1994, usaha ini kini memiliki enam cabang, menjual sekitar 600 cangkir per hari, memproduksi kopi sendiri dengan sangrai kayu bakar, serta menyerap sekitar 32 tenaga kerja.

Perjalanan Ahmad Nabih yang memilih mengurus usaha keluarga setelah ayahnya terkena stroke juga menjadi gambaran bahwa konsistensi rasa, pelayanan yang baik, dan kedekatan dengan pelanggan masih menjadi fondasi utama keberhasilan bisnis kopi cethe di Tulungagung.

Editor : Davina Ar Raafika
Sumber : Yt Pecah Telur
Sentra Kopi Cethe Warung Kopi Cetul kopi Ngunut Tulungagung bisnis warung kopi tradisional kopi hijau Tulungagung