Kisah Bisnis Slime Alea, Berawal Modal Rp300 Ribu hingga Punya 80 Karyawan dan Ribuan Order per Hari

Ingge Nayla Ayu Karina • Dipublikasikan Sabtu, 25 Juli 2026 | 17:15 WIB
Bisnis slime Alea Carolina berawal dari modal Rp300 ribu hingga berkembang menjadi usaha dengan 80 karyawan dan ribuan pesanan setiap hari.
Bisnis slime Alea Carolina berawal dari modal Rp300 ribu hingga berkembang menjadi usaha dengan 80 karyawan dan ribuan pesanan setiap hari.

 

RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Bisnis slime yang dirintis Alea Carolina sejak usia 16 tahun berkembang pesat hanya dalam beberapa tahun. Berawal dari modal sekitar Rp300 ribu, usahanya kini mampu menghasilkan ribuan pesanan setiap hari dan didukung sekitar 80 anggota tim hingga akhir 2024.

 

Alea mengaku memulai usahanya saat masih duduk di bangku SMA dan tinggal di pesantren. Pandemi COVID-19 yang membuat kegiatan belajar dipindahkan ke rumah menjadi titik awal dirinya mencoba berjualan secara daring.

 

Berawal dari Rasa Ingin Sukses

 

Alea menceritakan kondisi ekonomi keluarganya saat itu tergolong pas-pasan. Bahkan, orang tuanya harus meminjam uang untuk membayar biaya sekolahnya.

 

Selama berada di pesantren, uang saku yang diterimanya sekitar Rp300 ribu setiap bulan. Dari jumlah tersebut, ia juga harus memenuhi berbagai kebutuhan pribadi seperti membeli perlengkapan mandi dan kebutuhan harian lainnya.

 

Ketika pandemi berlangsung, Alea lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Saat itulah ia sering melihat konten di TikTok yang menampilkan kisah orang-orang sukses membangun bisnis.

 

Konten tersebut membuatnya terdorong untuk mencoba memiliki usaha sendiri agar dapat memperoleh penghasilan.

 

Percobaan pertamanya dilakukan dengan menjadi reseller produk makanan hewan milik sang ayah. Namun, penjualannya belum berkembang karena hanya mampu menjual satu hingga dua produk setiap bulan.

 

Beralih Menjual Slime

 

Karena menyukai slime, Alea kemudian mencoba membuat produk tersebut sendiri menggunakan uang jajannya.

 

Ibunya menyarankan agar hasil buatannya dijual. Produk itu kemudian dipasarkan melalui Shopee.

 

Selama dua minggu pertama belum ada pembeli. Setelah hampir satu bulan, akhirnya satu produk berhasil terjual.

 

Keuntungan dari penjualan pertama terus diputar untuk membeli bahan baku sehingga bisnisnya perlahan berkembang.

 

Menurut Alea, modal awal yang digunakan hanya sekitar Rp300 ribu yang berasal dari uang sakunya sendiri.

 

Fokus Jualan Online hingga Merambah Offline

 

Bisnis yang dijalankan Alea berkembang melalui berbagai marketplace seperti Shopee, TikTok, WhatsApp, dan platform digital lainnya.

 

Selain memproduksi sendiri seluruh produk slime, ia mulai memperluas pemasaran ke jalur offline.

 

Untuk meningkatkan penjualan, Alea juga memanfaatkan Facebook Ads dan Google Ads dengan target konsumen para orang tua yang lebih sering berkomunikasi melalui WhatsApp.

 

Namun, tingginya jumlah pertanyaan pelanggan membuat proses pelayanan menjadi lebih rumit.

 

Karena itu, ia menggunakan layanan berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk membantu membalas pesan pelanggan secara otomatis selama 24 jam.

 

Menurutnya, sistem tersebut membantu mempercepat respons kepada pelanggan, menekan biaya operasional layanan pelanggan, sekaligus meningkatkan penjualan.

 

Perjalanan Omzet dan Pesanan Terus Meningkat

 

Alea memulai usahanya pada Oktober 2020. Saat itu belum ada penjualan sama sekali.

 

Memasuki November, toko mulai menerima satu hingga dua pesanan setiap minggu.

 

Pada Desember, pesanan mulai datang setiap hari meski hanya satu hingga dua resi.

 

Tahun 2021 menjadi awal pertumbuhan dengan rata-rata 10 hingga 20 pesanan per hari pada semester pertama.

 

Memasuki semester kedua, jumlah pesanan meningkat menjadi sekitar 50 hingga 60 resi setiap hari.

 

Pada 2022, bisnisnya mulai mencapai ratusan resi per hari, berkisar 200 hingga 300 pesanan.

 

Setahun berikutnya, jumlah tersebut meningkat menjadi sekitar 400 hingga 500 resi setiap hari.

 

Puncak pertumbuhan terjadi pada 2024. Alea mulai fokus pada strategi pemasaran dan pembuatan konten sehingga bisnisnya mampu mencatat sekitar 1.000 resi per hari secara konsisten.

 

Di akhir 2024, jumlah tersebut kembali meningkat hingga sekitar 2.000 resi setiap hari.

 

Ia juga mengungkapkan bahwa pada 2023 sempat mengalami lonjakan hingga sekitar 2.500 resi dalam sehari karena produknya viral.

 

Meski harga produk slime relatif terjangkau, omzet usahanya terus bertumbuh.

 

Pada awal merintis, pendapatan bulanan masih berada di kisaran Rp20 juta hingga Rp30 juta.

 

Selanjutnya meningkat menjadi sekitar Rp70 juta hingga Rp80 juta per bulan, sebelum akhirnya mencapai ratusan juta rupiah setiap bulan.

 

Mentor Menjadi Titik Balik Bisnis

 

Alea menyebut kehadiran seorang mentor menjadi salah satu faktor penting yang mengubah arah perkembangan usahanya.

 

Sebelumnya, ia hanya fokus menyelesaikan persoalan operasional harian.

 

Setelah mendapat arahan dari mentor, Alea mulai menyusun strategi jangka panjang, membangun struktur organisasi, serta merekrut tenaga kerja di berbagai bidang seperti HR, marketing, dan accounting.

 

Perubahan tersebut membuat kapasitas bisnis meningkat signifikan.

 

Jumlah tim yang semula hanya beberapa orang berkembang menjadi sekitar 50 hingga 60 orang pada awal 2024, sebelum akhirnya mencapai sekitar 80 anggota tim di penghujung tahun.

 

Konsisten dan Terus Belajar

 

Alea mengaku salah satu kebiasaan yang terus dipertahankannya adalah bekerja secara konsisten.

 

Sejak 2022, ia berusaha bekerja sekitar delapan jam setiap hari kerja. Jika ada waktu yang terpotong karena kuliah atau kegiatan lain, jam kerja tersebut diganti pada akhir pekan.

 

Selain itu, ia juga rutin mencatat aktivitas harian untuk mengevaluasi produktivitas.

 

Menurutnya, kebiasaan tersebut membantu dirinya mengetahui apakah waktu telah dimanfaatkan secara optimal.

 

Selama bekerja, Alea juga berusaha menghindari gangguan media sosial agar tetap fokus menyelesaikan pekerjaan.

Baca Juga: Bisnis Kerupuk Rambak Pasutri Bogor, dari Kaki Lima Kini Produksi 2,5 Ton dan Masuk 12.000 Gerai

Punya Mimpi Menjadi Brand Sensory Nomor Satu di Asia

 

Meski bisnisnya telah berkembang, Alea mengaku tidak banyak menggunakan hasil usahanya untuk membeli barang mewah.

 

Sebagian besar keuntungan diputar kembali sebagai modal usaha, termasuk menyewa kantor, membangun gudang, dan membeli aset.

 

Ke depan, ia memiliki target menjadikan Slime Bintaro dan Seven Colors sebagai brand sensory nomor satu di Asia.

 

Ia berharap semakin banyak anak muda yang berani membangun bisnis, saling berbagi pengalaman, serta terus belajar agar mampu mengembangkan usaha secara berkelanjutan.

Editor : Ingge Nayla Ayu Karina
Sumber : Naik Kelas, You Tube, Diolah dari berbagai sumber
Bisnis Slime Kisah Alea Membangun Bisnis Slime dari Modal Rp300ribu Hingga Memiliki 80 Karyawan Slime Bintaro Seven Colors bisnis anak muda sukses