Radar Tulungagung - Sepinya kunjungan wisatawan di kawasan Ranu Gumbolo mulai dirasakan langsung oleh pelaku usaha. Jumlah pengunjung yang minim membuat pedagang harus menyesuaikan waktu berjualan dengan momen ketika kawasan wisata mulai ramai.
Pada hari-hari biasa, aktivitas perdagangan di Ranu Gumbolo cenderung sepi. Kondisi tersebut membuat sebagian pedagang memilih tidak membuka warung setiap hari karena jumlah pembeli sangat bergantung pada banyaknya wisatawan yang datang.
Salah satu pedagang di Ranu Gumbolo, Pariyanto, mengatakan kondisi kunjungan saat ini belum terlalu ramai. Menurutnya, wisatawan yang datang pada hari biasa masih relatif sedikit dibandingkan ketika kawasan wisata sedang ramai.
“Sekarang memang sepi. Kalau hari-hari biasa tidak banyak pengunjung. Biasanya kalau Minggu masih ada yang datang,” ujar Pariyanto.
Kondisi tersebut membuat aktivitas berjualan tidak lagi dilakukan setiap hari. Pariyanto mengatakan warung biasanya lebih memilih buka ketika memasuki akhir pekan, khususnya Minggu, saat masih terdapat wisatawan yang datang berkunjung.
“Kalau warung biasanya hanya buka hari Minggu. Kalau Minggu masih ada orang,” katanya.
Menurut Pariyanto, jumlah pengunjung yang datang dalam beberapa hari terakhir tergolong terbatas. Dalam satu kali kunjungan, wisatawan yang datang menggunakan kendaraan hanya berkisar beberapa orang hingga belasan orang.
“Kadang delapan sampai sepuluh orang. Motor juga paling sekitar tujuh, itu rata-rata boncengan. Kalau mobil paling satu atau dua,” jelasnya.
Minimnya jumlah pengunjung tersebut secara otomatis membuat potensi pembeli di warung ikut berkurang. Bagi pedagang yang mengandalkan wisatawan sebagai konsumen utama, keramaian kawasan wisata menjadi faktor penting dalam menentukan aktivitas berjualan.
Pariyanto menyebut kondisi tersebut sebenarnya tidak selalu terjadi. Saat memasuki masa liburan, jumlah wisatawan sempat mengalami peningkatan. Namun, keramaian itu hanya berlangsung sementara dan kembali menurun setelah masa liburan berakhir.
“Waktu liburan kemarin masih ramai. Setelah liburan ini malah sepi lagi. Sebelum liburan sebenarnya juga sepi, tetapi masih ada saja pengunjung,” tuturnya.
Sementara itu, penjaga Ranu Gumbolo, Dani, mengatakan naik-turunnya jumlah wisatawan juga berkaitan dengan kondisi air Waduk Wonorejo. Ketika air waduk mengalami peningkatan, kawasan wisata dinilai lebih menarik sehingga kunjungan biasanya ikut bertambah.
“Kalau musim kemarau biasanya memang sepi. Justru kalau airnya mulai naik, pengunjung kembali ramai,” ujar Dani.
Menurut Dani, perubahan kondisi kawasan tersebut turut memengaruhi aktivitas wisata secara keseluruhan. Saat air waduk menurun pada musim kemarau, suasana Ranu Gumbolo cenderung lebih lengang. Sebaliknya, ketika volume air kembali naik, wisatawan mulai berdatangan.
“Kalau airnya naik lagi, biasanya ramai lagi. Kalau kemarau seperti sekarang, pengunjung justru berkurang,” katanya.
Bagi pedagang, peningkatan kunjungan wisatawan menjadi harapan agar aktivitas usaha kembali bergerak. Sebab, semakin banyak pengunjung yang datang, semakin besar pula peluang warung dan usaha kecil di sekitar kawasan wisata mendapatkan pembeli.
Untuk sementara, pelaku usaha masih menyesuaikan diri dengan kondisi kunjungan yang belum stabil. Akhir pekan menjadi waktu yang lebih diandalkan untuk berjualan, sembari menunggu meningkatnya kunjungan wisatawan seiring perubahan kondisi kawasan Ranu Gumbolo.
Editor : Rahiiq Al BachriSumber : Radar Tulungagung