Kunjungan Wisatawan ke Ranu Gumbolo Masih Bergantung Momentum, Ramai Saat Liburan dan Akhir Pekan

Rahiiq Al Bachri • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 23:22 WIB
Kunjungan wisatawan ke Ranu Gumbolo masih bergantung pada momentum liburan dan akhir pekan. (RAHIIQ AL BACHRI/RADAR TULUNGAGUNG)
Kunjungan wisatawan ke Ranu Gumbolo masih bergantung pada momentum liburan dan akhir pekan. (RAHIIQ AL BACHRI/RADAR TULUNGAGUNG)

Radar Tulungagung - Aktivitas wisatawan di Ranu Gumbolo, Kecamatan Sendang, Tulungagung, belum menunjukkan keramaian yang stabil. Jumlah pengunjung sempat meningkat saat masa liburan, tetapi kembali menurun setelah periode libur berakhir.

Kondisi tersebut terlihat dari aktivitas wisatawan yang datang ke kawasan Ranu Gumbolo. Pada hari-hari biasa, jumlah pengunjung relatif terbatas. Sementara saat akhir pekan, terutama Minggu, masih terdapat wisatawan yang datang meski jumlahnya tidak sebanyak ketika musim liburan.

Penjaga Ranu Gumbolo, Dani, mengatakan kondisi kunjungan memang mengalami perubahan mengikuti situasi kawasan. Menurutnya, Ranu Gumbolo cenderung lebih ramai ketika kondisi air Waduk Wonorejo meningkat.

“Kalau musim kemarau biasanya memang sepi. Justru kalau airnya mulai naik, pengunjung kembali ramai,” ujar Dani.

Pola tersebut juga terlihat dari pengalaman pedagang di kawasan wisata. Pariyanto, salah satu penjual di Ranu Gumbolo, mengatakan jumlah pengunjung sempat meningkat ketika masa liburan. Namun, keramaian tersebut tidak bertahan lama.

“Waktu liburan kemarin masih ramai. Setelah liburan ini malah sepi lagi. Sebelum liburan sebenarnya juga sepi, tetapi masih ada saja pengunjung,” tuturnya.

Setelah masa liburan berakhir, jumlah wisatawan kembali menurun. Pada hari-hari biasa, pengunjung yang datang hanya dalam jumlah terbatas. Kondisi tersebut membuat suasana kawasan wisata kembali lengang.

Pariyanto memperkirakan, dalam satu kali kunjungan, wisatawan yang datang menggunakan kendaraan tidak terlalu banyak. Untuk sepeda motor, jumlahnya rata-rata sekitar tujuh unit dengan mayoritas wisatawan datang secara berboncengan.

“Kadang delapan sampai sepuluh orang. Motor juga paling sekitar tujuh, itu rata-rata boncengan. Kalau mobil paling satu atau dua,” jelasnya.

Kondisi berbeda masih terlihat pada hari Minggu. Akhir pekan menjadi salah satu waktu yang masih diandalkan karena jumlah pengunjung cenderung lebih banyak dibandingkan hari biasa.

“Kalau Minggu masih ada orang,” katanya.

Menurut Dani, naik-turunnya jumlah pengunjung tidak hanya dipengaruhi momentum liburan, tetapi juga perubahan kondisi lingkungan Ranu Gumbolo. Penurunan volume air waduk saat musim kemarau turut membuat daya tarik kawasan wisata berubah.

Ketika volume air kembali meningkat, lanskap kawasan Ranu Gumbolo dinilai menjadi lebih menarik bagi wisatawan. Kondisi tersebut berdasarkan pengalaman pengelola biasanya diikuti dengan meningkatnya jumlah kunjungan.

“Kalau airnya naik lagi, biasanya ramai lagi. Kalau kemarau seperti sekarang, pengunjung justru berkurang,” ujar Dani.

Sementara itu, kondisi kunjungan yang belum stabil membuat aktivitas di kawasan Ranu Gumbolo masih sangat bergantung pada momentum tertentu. Libur panjang dan akhir pekan menjadi waktu ketika aktivitas wisata lebih terlihat dibandingkan hari biasa.

Bagi pelaku usaha, pola tersebut membuat keramaian wisatawan belum bisa berlangsung secara konsisten. Setelah momentum liburan berakhir, kawasan kembali sepi dan aktivitas perdagangan ikut menyesuaikan.

Dengan kondisi tersebut, peningkatan kunjungan Ranu Gumbolo masih menunggu dua momentum, yakni datangnya akhir pekan atau masa liburan serta perubahan kondisi air waduk. Jika volume air kembali meningkat, pengelola dan pelaku usaha berharap keramaian wisatawan turut kembali.

Editor : Rahiiq Al Bachri
Sumber : Radar Tulungagung
wonorejo tulungagung sepi radar tulungagung Ranu Gumbolo wisata