JAKARTA - Penyakit antraknosa bawang merah menjadi salah satu ancaman serius bagi petani, terutama saat musim hujan dan kelembapan tinggi. Penyakit yang juga dikenal sebagai busuk daun ini dapat menyebar dengan cepat hingga menyebabkan tanaman mati mendadak.
Penyakit antraknosa bawang merah menyerang bagian daun tanaman. Gejala awalnya berupa bercak putih berbentuk lonjong atau bulat. Bercak kemudian membentuk cekungan seperti lubang, membuat daun mudah patah dan terkulai.
Jika tidak segera dikendalikan, penyakit antraknosa bawang merah dapat menyerang bagian umbi. Umbi menjadi busuk, kemudian daun mengering. Penyebaran yang cepat membuat tanaman sehat di sekitarnya ikut berisiko terinfeksi.
Gejala Antraknosa Bawang Merah
Penyakit ini disebut memiliki gejala yang sekilas mirip dengan penyakit bercak ungu atau trotol pada bawang merah. Namun, perkembangan antraknosa disebut jauh lebih cepat.
Baca Juga: Polytron Fox 350 Jadi Motor Listrik Paling Laris di Indonesia, Harga Rp16 Jutaan
Pada tanaman yang terinfeksi, daun dapat mengalami kerusakan dalam waktu singkat. Bahkan, tanaman yang sudah terserang berat dapat mati sekitar dua hingga tiga hari setelah infeksi.
Kondisi tersebut membuat pengendalian sejak awal menjadi penting. Petani perlu memperhatikan kondisi daun, terutama ketika tanaman tumbuh pada musim dengan curah hujan dan kelembapan tinggi.
Serangan berat juga berpotensi menurunkan hasil produksi. Dalam materi tersebut disebutkan, kehilangan hasil dapat mencapai sekitar 50 persen apabila penyakit sudah berkembang parah.
Cara Mencegah Penyakit Antraknosa
Salah satu langkah awal adalah memilih benih atau bibit unggul yang memiliki ketahanan terhadap penyakit. Untuk penanaman pada musim hujan, beberapa varietas yang disebut dapat digunakan antara lain Pikatan, Pancasona, Ambasador, dan Trisula.
Baca Juga: 5 Motor Listrik Terbaik 2026, Ada yang Bisa Tempuh 130 Km Sekali Cas
Sementara untuk penanaman menggunakan benih atau biji, varietas Sumenep dan Sunren F1 disebut sebagai pilihan.
Langkah berikutnya adalah membuat bedengan dengan drainase yang baik. Bedengan sebaiknya dibuat lebih tinggi saat musim hujan agar air tidak menggenangi tanaman.
Penggunaan mulsa juga dapat membantu menjaga kelembapan tanah. Mulsa plastik dapat menjadi pilihan, sedangkan penggunaan bahan organik seperti jerami perlu diperhatikan agar tidak membawa sisa hama atau patogen.
Perhatikan pH dan Jarak Tanam
Sebelum penanaman, kondisi pH tanah juga perlu diperiksa. Dalam materi tersebut, tanah dengan pH di bawah 5,6 dianjurkan diberi kapur dolomit sesuai kebutuhan lahan.
Jarak tanam juga perlu diperhatikan. Pada musim hujan, jarak yang lebih lebar dapat membantu mengurangi kelembapan berlebih di sekitar tanaman.
Jarak tanam yang disebut dalam materi adalah 20 x 20 sentimeter atau 20 x 30 sentimeter.
Pemupukan juga dianjurkan dilakukan secara berimbang. Penggunaan pupuk nitrogen yang berlebihan perlu dihindari agar tanaman tidak terlalu rentan terhadap serangan penyakit.
Perlakuan Benih dan Trichoderma
Sebelum bibit ditanam, petani dapat melakukan perlakuan benih atau seed treatment. Materi tersebut menyebut penggunaan fungisida berbahan aktif metil tiofanat atau mankozeb sebagai salah satu pilihan.
Selain itu, aplikasi Trichoderma disebut dapat membantu menghambat perkembangan jamur patogen. Pengaplikasiannya dapat dilakukan sebagai campuran pupuk organik atau dikocorkan ke tanaman sesuai dosis produk yang digunakan.
Penerapan langkah pencegahan secara terpadu menjadi penting karena penyakit dapat berkembang cepat ketika kondisi lingkungan mendukung.
Tanaman Terinfeksi Perlu Segera Ditangani
Apabila gejala antraknosa mulai muncul, pengendalian perlu dilakukan sedini mungkin. Materi tersebut menyarankan penggunaan fungisida kontak dan sistemik secara bergiliran dengan memperhatikan aturan label dan bahan aktif.
Untuk tanaman yang sudah menunjukkan serangan berat, terutama ketika bagian umbi mulai membusuk, tanaman sebaiknya segera dicabut dan dimusnahkan agar sumber penyakit tidak menyebar ke tanaman lain.
Penggunaan fungisida juga harus dilakukan secara bijak. Penyemprotan berlebihan atau tidak sesuai aturan dapat meningkatkan risiko resistensi maupun keracunan tanaman.
Dengan menjaga drainase, memilih bibit yang tepat, mengatur jarak tanam, melakukan pemupukan berimbang, serta memantau gejala sejak dini, risiko penyakit antraknosa bawang merah dapat ditekan. Petani juga perlu mengikuti dosis dan petunjuk penggunaan setiap produk pengendali penyakit yang digunakan.
Editor : Maylanni Diana Fitri