JAKARTA - Antraknosa bawang merah menjadi ancaman yang perlu diwaspadai petani ketika musim hujan tiba. Kelembapan tinggi dapat membuat tanaman lebih rentan terserang penyakit yang juga dikenal sebagai busuk daun tersebut.
Antraknosa bawang merah menyerang bagian daun dan dapat berkembang dengan sangat cepat. Gejala awalnya terlihat berupa bercak putih berbentuk bulat atau lonjong pada permukaan daun.
Bercak kemudian berkembang menjadi cekungan seperti lubang. Daun menjadi mudah patah, terkulai, lalu mengering. Dalam kondisi serangan berat, penyakit dapat menjalar hingga bagian umbi dan menyebabkan pembusukan.
Penyebaran Antraknosa Sangat Cepat
Penyakit antraknosa pada bawang merah memiliki perkembangan yang berbeda dengan bercak ungu atau trotol. Gejala keduanya memang dapat terlihat mirip, tetapi antraknosa disebut dapat menyebabkan kematian tanaman dalam waktu lebih singkat.
Baca Juga: Rekomendasi HP 2026: Ini Pilihan Terbaik Tiap Kelas Harga, Ada yang Cuma Rp1 Jutaan
Tanaman yang sudah terinfeksi berat bahkan dapat mati dalam waktu sekitar dua sampai tiga hari. Jamur penyebab penyakit juga dapat menyebar ke tanaman sehat di sekitarnya.
Apabila bagian umbi sudah ikut terserang, pembusukan akan terjadi. Daun kemudian mengering dan tanaman berpotensi mati.
Serangan yang terlambat ditangani dapat berdampak langsung terhadap produksi. Dalam materi tersebut, kehilangan hasil disebut bisa mencapai sekitar 50 persen ketika penyakit sudah berkembang parah.
Karena itu, petani perlu melakukan pencegahan sejak sebelum penanaman hingga tanaman memasuki masa pertumbuhan.
Pilih Bibit yang Lebih Tahan Penyakit
Langkah pertama adalah menggunakan benih atau bibit berkualitas. Tidak hanya mengejar potensi hasil tinggi, petani juga disarankan memperhatikan ketahanan varietas terhadap penyakit.
Baca Juga: Tecno Pova 8 5G Naik Harga, Bawa Baterai 8.000 mAh dan Alive Matrix
Untuk penanaman pada musim hujan, beberapa varietas yang disebut cocok antara lain Pikatan, Pancasona, Ambasador, dan Trisula.
Sedangkan untuk penanaman menggunakan benih atau biji, varietas Sumenep dan Sunren F1 disebut dapat menjadi pilihan.
Pemilihan varietas tetap perlu disesuaikan dengan kondisi lahan, musim, dan rekomendasi teknis setempat.
Buat Drainase dan Bedengan Lebih Baik
Pengelolaan air menjadi faktor penting untuk mengurangi risiko penyakit. Saat musim hujan, bedengan sebaiknya dibuat lebih tinggi dibandingkan kondisi normal.
Tujuannya agar air hujan tidak menggenangi tanaman bawang merah. Drainase yang baik juga membantu mengendalikan kelembapan di sekitar perakaran.
Penggunaan mulsa plastik juga dapat dipertimbangkan. Mulsa membantu menjaga kondisi kelembapan tanah lebih stabil.
Jika menggunakan bahan organik seperti jerami, kondisinya perlu diperhatikan. Bahan yang tidak bersih berpotensi membawa sisa hama atau patogen dari musim sebelumnya.
Atur pH dan Jarak Tanam
Kondisi tanah juga perlu diperiksa sebelum penanaman. Dalam materi tersebut disebutkan, tanah dengan pH kurang dari 5,6 perlu mendapatkan perhatian dan dapat diberi dolomit sesuai dosis yang dianjurkan.
Jarak tanam juga perlu diperlebar saat musim hujan. Pengaturan jarak bertujuan mengurangi kelembapan berlebih di sekitar tanaman.
Jarak yang disebutkan adalah 20 x 20 sentimeter atau 20 x 30 sentimeter.
Pemupukan berimbang juga tidak kalah penting. Petani perlu memberikan nutrisi sesuai kebutuhan tanaman dan menghindari penggunaan nitrogen secara berlebihan.
Lakukan Perlakuan Benih
Sebelum bibit ditanam, perlakuan benih atau seed treatment dapat dilakukan sebagai bagian dari pencegahan. Materi menyebut fungisida berbahan aktif metil tiofanat maupun mankozeb sebagai pilihan.
Selain itu, Trichoderma dapat digunakan untuk membantu menghambat perkembangan jamur patogen. Aplikasi dapat dilakukan melalui campuran pupuk dasar organik atau dikocorkan ke tanaman sesuai petunjuk penggunaan.
Langkah pencegahan tersebut sebaiknya dilakukan secara terpadu, bukan hanya mengandalkan satu metode.
Segera Cabut Tanaman yang Sudah Parah
Ketika gejala antraknosa mulai terlihat, petani perlu segera melakukan pengendalian. Materi tersebut menjelaskan penggunaan fungisida kontak dan sistemik secara bergiliran sebagai salah satu metode pengendalian.
Namun, penggunaan fungisida harus mengikuti label produk, dosis, interval aplikasi, dan ketentuan keselamatan. Rotasi bahan aktif juga perlu diperhatikan untuk membantu mengurangi risiko resistensi.
Tanaman yang sudah terserang berat dan menunjukkan pembusukan pada umbi sebaiknya dicabut dan dibuang agar tidak menjadi sumber penyebaran penyakit.
Dengan pengawasan rutin, drainase yang baik, bibit berkualitas, jarak tanam sesuai kondisi musim, serta pengendalian yang tepat, risiko antraknosa bawang merah dapat ditekan.
Editor : Maylanni Diana Fitri