3 Kesalahan Petani Bawang Merah yang Sering Diabaikan, Bisa Bikin Tanaman Tak Subur

Maylanni Diana Fitri • Dipublikasikan Sabtu, 15 Agustus 2026 | 19:26 WIB
Petani bawang merah wajib menghindari 3 kesalahan sepele ini. Salah penyiraman, bedengan lemah, dan minim kontrol bisa menghambat pertumbuhan.
Petani bawang merah wajib menghindari 3 kesalahan sepele ini. Salah penyiraman, bedengan lemah, dan minim kontrol bisa menghambat pertumbuhan.

JAKARTA - Tiga kesalahan petani bawang merah yang sering dianggap sepele ternyata dapat memengaruhi pertumbuhan tanaman. Perawatan yang dilakukan setiap hari justru bisa menjadi kurang maksimal jika tekniknya tidak disesuaikan dengan kondisi lahan dan musim.

Dalam budidaya, petani bawang merah perlu memperhatikan kebutuhan air, kondisi bedengan, hingga kesehatan tanaman. Ketiganya menjadi bagian penting agar pertumbuhan bawang merah tetap optimal sampai masa panen.

Kesalahan dalam perawatan bawang merah tidak selalu berkaitan dengan pupuk atau obat-obatan. Kebiasaan sederhana seperti penyiraman, memperkuat pinggir bedengan, dan memantau tanaman juga menentukan kondisi tanaman di lapangan.

1. Penyiraman Tidak Disesuaikan Kondisi Lahan

Hal pertama yang sering dilupakan adalah melakukan penyiraman secara efisien. Kebutuhan air bawang merah berbeda antara musim hujan dan musim kemarau.

Baca Juga: HP Sejutaan Terbaik 2026: 10 Pilihan Spek Gahar, Ada AMOLED hingga 8 GB RAM

Saat musim hujan, penyiraman bukan berarti membuat tanah kembali basah atau menggenangi lahan. Penyiraman dapat dilakukan untuk membantu membersihkan daun setelah hujan, terutama ketika tanah atau kotoran menempel pada pangkal daun.

Kondisi daun perlu diperhatikan sebelum menentukan tindakan berikutnya. Jika daun terlihat kotor dan banyak tanah menempel, penyiraman dapat dilakukan terlebih dahulu sebelum aplikasi fungisida.

Namun, jika kondisi daun masih sehat, petani dapat menyesuaikan perawatan berdasarkan kebutuhan tanaman.

Saat musim kemarau, kebutuhan air juga bergantung pada karakteristik tanah. Tanah berpasir cenderung lebih cepat kehilangan air sehingga membutuhkan penyiraman lebih sering.

Sebaliknya, tanah yang mampu menyimpan air lebih lama tentu memiliki kebutuhan penyiraman berbeda. Prinsipnya, bawang merah membutuhkan air, tetapi kelebihan air juga dapat merusak tanaman dan meningkatkan risiko pembusukan.

2. Pinggir Bedengan Tidak Diperkuat

Kesalahan berikutnya adalah mengabaikan kondisi pinggir bedengan. Petani dapat melakukan penelokan atau memperkuat bagian tepi bedengan menggunakan tanah atau lumpur.

Langkah sederhana ini berfungsi menahan air agar tidak langsung mengalir ke saluran. Tanpa penguatan di bagian pinggir, air penyiraman dapat langsung keluar dari bedengan sebelum meresap ke sekitar akar.

Kondisi tersebut juga berpengaruh ketika petani memberikan pupuk melalui air. Nutrisi yang seharusnya masuk ke area perakaran bisa ikut terbawa aliran air menuju saluran.

Akibatnya, tanaman bawang merah di bagian pinggir bedengan berpotensi tidak memperoleh nutrisi dan air secara optimal.

Penelokan dapat dilakukan sejak tanaman berumur sekitar 10 hari setelah tanam. Perbaikan kembali bisa dilakukan sekitar umur 30 hingga 35 hari setelah tanam apabila bagian bedengan mengalami pelapukan atau terkikis akibat penyiraman.

Dengan bedengan yang lebih kuat, air dan nutrisi diharapkan lebih banyak tertahan di area tanaman.

3. Tanaman Tidak Dipantau Setiap Hari

Hal ketiga yang sering dianggap sepele adalah pengawasan tanaman. Budidaya bawang merah membutuhkan pemantauan rutin untuk mengetahui perubahan kondisi tanaman sejak dini.

Baca Juga: 5 Motor Listrik Terbaik 2026, Harga Mulai Rp15 Jutaan dan Jarak Tempuh 140 Km

Petani dianjurkan melihat kondisi tanaman pada pagi dan sore hari. Perubahan penampilan tanaman dapat menjadi petunjuk awal adanya gangguan.

Pada pagi hari, tanaman biasanya terlihat lebih segar. Kondisi pada sore hari juga perlu diamati untuk mengetahui apakah tanaman menunjukkan perubahan yang tidak normal.

Pemantauan rutin membantu petani mengenali gejala serangan hama maupun penyakit lebih cepat. Dengan begitu, tindakan pengendalian dapat dilakukan sebelum masalah berkembang dan menyebar ke tanaman lain.

Perawatan Rutin Menentukan Hasil Panen

Budidaya bawang merah memang relatif singkat. Dalam materi tersebut, tanaman disebut dapat dipanen sekitar 60 hari setelah tanam. Namun, waktu tersebut tetap membutuhkan perawatan yang konsisten.

Petani bawang merah tidak cukup hanya mengandalkan bibit, pupuk, dan fungisida. Pengelolaan air, kondisi bedengan, serta pengawasan tanaman menjadi bagian yang tidak boleh diabaikan.

Penyiraman harus disesuaikan dengan musim dan karakter tanah. Bedengan perlu dijaga agar air serta nutrisi tidak terbuang. Sementara tanaman harus diperiksa secara rutin agar gejala gangguan dapat diketahui lebih awal.

Tiga langkah sederhana tersebut memang terlihat sepele. Namun, jika dilakukan secara konsisten dan sesuai kondisi lahan, perawatan tanaman bawang merah dapat menjadi lebih efektif hingga memasuki masa panen.

Editor : Maylanni Diana Fitri
tanaman bawang merah petani bawang merah budidaya bawang merah perawatan bawang merah penyiraman bawang merah