Bawang Merah Sulit Subur? Ini 3 Kesalahan Perawatan yang Sering Dilakukan Petani

Maylanni Diana Fitri • Dipublikasikan Sabtu, 15 Agustus 2026 | 19:30 WIB
Budidaya bawang merah bisa gagal maksimal karena tiga kesalahan sepele. Simak cara mengatur penyiraman, bedengan, dan kontrol tanaman.(SC Youtube)
Budidaya bawang merah bisa gagal maksimal karena tiga kesalahan sepele. Simak cara mengatur penyiraman, bedengan, dan kontrol tanaman.(SC Youtube)

JAKARTA - Tanaman bawang merah yang pertumbuhannya kurang maksimal tidak selalu disebabkan kualitas bibit atau pupuk. Ada sejumlah kesalahan sederhana dalam perawatan yang justru kerap dilakukan tanpa disadari.

Salah satunya berkaitan dengan budidaya bawang merah, terutama cara menyiram tanaman. Teknik penyiraman yang tidak sesuai musim dan kondisi tanah dapat membuat tanaman kekurangan air atau justru mengalami kelebihan air.

Selain penyiraman, kondisi bedengan dan pemantauan tanaman juga menjadi bagian penting. Tiga hal tersebut terlihat sederhana, tetapi dapat memengaruhi penyerapan air, nutrisi, serta kemampuan petani mendeteksi gangguan sejak awal.

Jangan Asal Menyiram Bawang Merah

Penyiraman menjadi aktivitas rutin dalam budidaya bawang merah. Namun, kebutuhan air tanaman tidak selalu sama pada musim hujan dan kemarau.

Baca Juga: Acer Nitro V15 AI RTX 4050 Jadi Pilihan Gaming 2026, Harga Rp17 Jutaan

Saat musim hujan, penyiraman tidak harus dilakukan seperti pada musim kemarau. Air dapat digunakan untuk membantu membersihkan daun setelah hujan, terutama jika banyak tanah menempel di bagian pangkal daun.

Setelah hujan, petani perlu mengamati kondisi tanaman terlebih dahulu. Jika daun terlihat kotor, penyiraman dapat dilakukan sebelum tanaman mendapatkan perlakuan fungisida.

Sebaliknya, apabila kondisi daun masih sehat, tindakan dapat disesuaikan dengan kondisi tanaman dan kebutuhan pengendalian.

Pada musim kemarau, petani harus melihat kemampuan tanah menyimpan air. Tanah berpasir cenderung lebih cepat kehilangan air sehingga membutuhkan penyiraman lebih sering.

Dalam kondisi tertentu, penyiraman dapat dilakukan pagi dan sore. Namun, frekuensinya tetap harus disesuaikan dengan kondisi lahan.

Bawang merah memang membutuhkan air. Tetapi terlalu banyak air juga dapat menyebabkan masalah dan meningkatkan risiko tanaman membusuk.

Perkuat Pinggir Bedengan

Kesalahan kedua yang sering diabaikan adalah tidak memperhatikan bagian pinggir bedengan. Petani dapat membuat semacam penahan tanah di bagian tepi agar air tidak langsung keluar dari lahan.

Baca Juga: Stasiun Tulungagung Dilewati 13 Kereta Api, Ada Gajayana hingga Commuter Line Dhoho, Ini Daftar Lengkap Rutenya

Saat penyiraman dilakukan, air yang mengalir terlalu cepat dapat langsung masuk ke saluran tanpa sempat meresap ke sekitar akar tanaman.

Hal yang sama bisa terjadi ketika pupuk diberikan melalui air. Nutrisi yang seharusnya diserap tanaman dapat ikut terbawa keluar dari bedengan.

Akibatnya, tanaman di bagian pinggir berpotensi mendapatkan air dan nutrisi lebih sedikit dibandingkan tanaman yang berada di bagian tengah.

Penahan di pinggir bedengan dapat dibuat sejak tanaman berumur sekitar 10 hari setelah tanam. Kondisinya kemudian perlu diperiksa secara berkala.

Jika tanah di bagian tepi mulai terkikis atau mengalami pelapukan, perbaikan dapat dilakukan kembali sekitar umur 30 sampai 35 hari setelah tanam.

Jangan Biarkan Tanaman Tanpa Pengawasan

Kesalahan ketiga adalah kurang rutin memeriksa tanaman. Bawang merah membutuhkan pengawasan seperti tanaman hortikultura lainnya karena kondisi tanaman dapat berubah dalam waktu singkat.

Pemeriksaan sebaiknya dilakukan secara rutin pada pagi dan sore. Perubahan warna daun, bentuk tanaman, maupun kondisi pertumbuhan dapat menjadi tanda awal adanya gangguan.

Pada pagi hari, tanaman biasanya tampak lebih segar. Namun, kondisi tanaman pada sore hari juga perlu diperhatikan untuk melihat apakah ada perubahan yang tidak normal.

Dengan pemantauan setiap hari, petani dapat lebih cepat mengetahui munculnya gejala penyakit atau serangan hama.

Deteksi dini membuat langkah penanganan dapat segera dilakukan. Sebaliknya, jika gejala baru diketahui ketika serangan sudah meluas, pengendalian bisa menjadi lebih sulit.

Perawatan Sederhana Jangan Diabaikan

Budidaya bawang merah membutuhkan perhatian sejak tanaman mulai tumbuh hingga memasuki masa panen. Dalam kondisi ideal, bawang merah dapat dipanen sekitar 60 hari setelah tanam.

Namun, potensi hasil tidak hanya ditentukan oleh bibit dan pemupukan. Pengelolaan air, kondisi bedengan, serta pemantauan tanaman menjadi bagian penting dalam perawatan.

Penyiraman yang efisien membantu tanaman mendapatkan air sesuai kebutuhan. Bedengan yang terawat membantu menahan air dan nutrisi di sekitar perakaran.

Sementara pemeriksaan rutin membuat petani dapat menemukan perubahan tanaman sejak dini.

Karena itu, tiga kebiasaan sederhana tersebut sebaiknya tidak dianggap remeh. Petani perlu menyesuaikannya dengan musim, karakteristik tanah, serta kondisi tanaman di lapangan.

Jika dilakukan secara konsisten, perawatan tersebut dapat membantu menciptakan kondisi pertumbuhan bawang merah yang lebih baik hingga mendekati masa panen.

Editor : Maylanni Diana Fitri
petani bawang merah budidaya bawang merah perawatan bawang merah penyiraman bawang merah bawang merah