Bawang Merah Gagal Panen? 2 Kesalahan Ini Disebut Jadi Penyebab Utama

Maylanni Diana Fitri • Dipublikasikan Sabtu, 15 Agustus 2026 | 19:35 WIB
Bawang merah gagal panen bisa dipicu tanam tidak serempak dan lahan tanpa rotasi. Simak cara mengolah lahan sebelum tanam kembali.
Bawang merah gagal panen bisa dipicu tanam tidak serempak dan lahan tanpa rotasi. Simak cara mengolah lahan sebelum tanam kembali.

BOJONEGORO - Tanaman bawang merah usia 45 hari setelah tanam (HST) mengalami serangan penyakit jamur dan hama ulat. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena tanaman dinilai tidak tumbuh maksimal menjelang masa panen.

Menurut pemantauan di lahan, bawang merah gagal panen dapat dipicu sejumlah faktor dari pola budidaya. Salah satunya adalah penanaman yang tidak dilakukan secara serempak dengan lahan di sekitarnya.

Selain itu, lahan yang terus-menerus ditanami bawang merah tanpa rotasi tanaman juga dinilai meningkatkan risiko masalah hama dan penyakit. Kondisi tersebut dapat membuat pengendalian di lahan menjadi semakin sulit.

Tanam Tidak Serempak Picu Masalah di Lahan

Penanaman bawang merah secara serempak menjadi salah satu hal yang ditekankan dalam pemantauan tersebut. Ketika satu lahan baru ditanami sementara lahan di sebelahnya baru selesai panen, siklus tanaman menjadi tidak bersamaan.

Baca Juga: HP 1 Jutaan Terbaik 2026, Ada Baterai 7.000 mAh hingga RAM 8 GB

Lahan yang baru dipanen masih dapat memiliki sisa organisme pengganggu tanaman. Dalam kondisi tertentu, hama maupun patogen dapat berpindah ke tanaman baru di sekitarnya.

Pada lahan yang diamati, tanaman bawang merah berusia sekitar 45 HST berada berdekatan dengan lahan yang baru dipanen sekitar satu minggu sebelumnya. Tanaman tersebut juga disebut mengalami serangan jamur dan ulat.

Karena itu, keserempakan tanam dinilai penting untuk membantu memutus siklus hama dan penyakit di kawasan pertanian bawang merah.

Hindari Menanam Bawang Merah Terus-Menerus

Faktor kedua berkaitan dengan rotasi tanaman. Lahan yang terus ditanami bawang merah tanpa jeda atau pergiliran tanaman berpotensi mempertahankan sumber masalah di dalam tanah.

Baca Juga: Rencana Penutupan JPL 225 Ngunut Batal, Akses Warga 4 Desa di Tulungagung Tetap Dipertahankan

Dalam kasus yang diamati, lahan tersebut disebut sudah tiga kali berturut-turut digunakan untuk bawang merah. Pola bawang merah, kemudian bawang merah lagi, dinilai tidak ideal jika lahan sebelumnya telah memiliki masalah hama atau penyakit.

Pengolahan lahan setelah panen menjadi bagian penting sebelum penanaman berikutnya. Tujuannya untuk membantu mengurangi sumber patogen dan organisme pengganggu tanaman yang masih berada di lahan.

Pengolahan Lahan Perlu Dilakukan dengan Benar

Salah satu langkah yang disarankan adalah memberikan jeda sebelum lahan kembali digunakan untuk bawang merah. Dalam materi tersebut disebutkan jeda minimal sekitar 21 hari setelah tanaman sebelumnya dipanen.

Pengolahan lahan juga perlu dilakukan secara menyeluruh. Salah satu tahap yang disebut adalah menggenangi atau merendam bedengan selama tiga hari tiga malam.

Setelah itu, pH tanah perlu diperiksa. Jika tanah terlalu masam atau pH berada di bawah standar yang dibutuhkan tanaman, kapur dolomit dapat diberikan sesuai kebutuhan lahan.

Tanah kemudian dapat diolah menggunakan kultivator atau dicangkul. Setelah pengolahan, kompos dan bahan organik seperti arang sekam dapat ditambahkan.

Trichoderma untuk Menekan Jamur Patogen

Penggunaan Trichoderma juga menjadi bagian dari pengelolaan lahan yang disarankan. Trichoderma dikenal sebagai kelompok jamur antagonis yang dapat membantu menekan perkembangan jamur patogen tertentu di lingkungan tanah.

Dalam materi tersebut, aplikasi Trichoderma dilakukan lebih dari satu kali. Aplikasi pertama dilakukan setelah bahan organik diberikan dan lahan diolah.

Kemudian, aplikasi berikutnya dilakukan kembali sekitar tiga hari sebelum penanaman. Tujuannya untuk membantu menekan keberadaan jamur patogen sebelum bibit bawang merah ditanam.

Dosis penggunaan perlu disesuaikan dengan produk yang digunakan dan petunjuk pada label. Penerapan mikroorganisme hayati juga sebaiknya mempertimbangkan kondisi tanah dan teknik budidaya setempat.

Beri Jeda Sebelum Tanam Kembali

Setelah pemberian dolomit, lahan perlu dibiarkan selama periode tertentu sebelum masuk ke tahap berikutnya. Materi tersebut menyebut pengolahan dilakukan setelah pemberian dolomit, kemudian kompos dan Trichoderma diberikan secara bertahap.

Setelah tahapan pengelolaan tanah selesai, pupuk dasar dapat diberikan. Penanaman bawang merah kemudian dilakukan setelah jeda sesuai kondisi lahan.

Inti dari pengelolaan tersebut adalah tidak terburu-buru menanam kembali bawang merah di lahan yang baru selesai dipanen.

Pola tanam serempak, pengolahan lahan yang baik, pergiliran tanaman, serta pengelolaan organisme pengganggu tanaman menjadi bagian penting untuk menjaga kesehatan lahan.

Tanaman bawang merah usia 45 HST yang terserang jamur dan ulat menjadi gambaran bahwa masalah budidaya tidak hanya berasal dari tanaman. Kondisi lahan dan pola tanam juga perlu diperhatikan sejak awal.

Editor : Maylanni Diana Fitri
penyakit bawang merah budidaya bawang merah bawang merah gagal panen hama bawang merah Trichoderma