YOGYAKARTA - Peternak ayam di Bantul, Yogyakarta, menghadapi tekanan akibat harga pakan ayam naik sementara harga telur justru mengalami penurunan. Kondisi tersebut membuat peternak, terutama skala menengah ke bawah, semakin kesulitan menjaga keuntungan.
Salah seorang peternak ayam, Agit, mengatakan kenaikan harga pakan menjadi persoalan yang terus dirasakan dalam beberapa bulan terakhir. Peternak hingga kini juga belum mengetahui secara pasti faktor utama yang membuat harga pakan terus meningkat.
Menurut Agit, harga pakan ayam pabrikan saat ini berada di kisaran Rp410.000 per sak dengan berat 50 kilogram. Sementara itu, harga pakan oplosan atau campuran berada di kisaran Rp380.000 hingga Rp390.000 per sak.
Kondisi tersebut berbeda dengan harga sebelumnya. Dalam sekitar empat bulan terakhir, harga pakan pabrikan disebut telah mengalami kenaikan sekitar Rp30.000 hingga Rp40.000 per sak.
Kenaikan harga tersebut membuat sebagian peternak memilih alternatif pakan campuran. Langkah itu dilakukan untuk menekan biaya produksi yang semakin tinggi.
Harga Telur Justru Mengalami Penurunan
Di tengah kenaikan biaya pakan, peternak juga menghadapi persoalan lain. Harga telur ayam yang sempat mengalami kenaikan pada awal pekan justru kembali turun.
Baca Juga: Berhenti Merokok Bikin Tubuh Pulih Bertahap, Ini Perubahan yang Terjadi
Agit menyebut harga telur sempat mengalami kenaikan pada Selasa, Rabu, dan Kamis. Namun, memasuki Jumat, harga kembali mengalami penurunan.
Harga telur di tingkat peternak saat ini berada di kisaran Rp2.700 per butir. Perubahan harga yang terjadi hampir setiap hari membuat peternak kesulitan menentukan strategi penjualan.
Menurut Agit, peternak juga mempertanyakan mekanisme penentuan harga telur yang beredar di media online. Perubahan harga yang cepat dinilai menyulitkan peternak kecil dan menengah.
“Setiap hari itu harga telur berubah,” kata Agit dalam wawancara yang ditayangkan televisi.
Situasi tersebut semakin berat karena biaya produksi justru bergerak naik. Peternak harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk membeli pakan, sedangkan harga jual telur tidak selalu mengikuti kenaikan biaya tersebut.
Peternak Memilih Bertahan
Agit menggambarkan kondisi peternak saat ini sebagai situasi yang serba sulit. Menghentikan usaha bukan pilihan mudah karena kerugian yang ditanggung juga akan semakin besar.
Baca Juga: Podium Aragon Jadi Bukti Veda Ega Pratama Makin Berbahaya, Dani Pedrosa Ikut Disorot
Karena itu, peternak berupaya mempertahankan usaha semaksimal mungkin. Salah satu caranya dengan mencari jalur penjualan yang dinilai memberikan harga lebih realistis.
Peternak mencoba menjual telur secara langsung kepada konsumen maupun melalui grosir. Strategi tersebut dilakukan agar selisih harga jual dapat membantu menutup biaya produksi.
Kenaikan harga pakan ayam menjadi perhatian karena pakan merupakan salah satu komponen utama dalam biaya pemeliharaan ayam petelur. Ketika harga pakan meningkat, tekanan terhadap keuntungan peternak ikut bertambah.
Di sisi lain, penurunan harga telur membuat ruang keuntungan semakin sempit. Kondisi ini terutama dirasakan oleh peternak dengan skala usaha menengah dan kecil yang memiliki kemampuan modal lebih terbatas.
Agit berharap terdapat kondisi harga yang lebih stabil sehingga peternak dapat memperkirakan biaya produksi dan menentukan harga jual dengan lebih baik.
Saat ini, peternak masih memilih bertahan sambil menyesuaikan pola penjualan. Mereka berharap harga telur dapat kembali membaik sehingga kenaikan biaya pakan tidak semakin menekan usaha peternakan ayam.
Editor : Maylanni Diana Fitri