TULUNGAGUNG - Kementerian Sosial Republik Indonesia tengah mematangkan sistem digitalisasi bansos untuk meningkatkan akurasi data dan memastikan bantuan sosial lebih tepat sasaran. Sistem tersebut telah diuji coba di Kabupaten Banyuwangi pada akhir 2025 dan kini terus diperbaiki berdasarkan hasil evaluasi.
Perkembangan digitalisasi bansos menjadi salah satu poin yang disampaikan Menteri Sosial Saifulah Yusuf dalam rapat kerja bersama Komisi 8 DPR dan Kementerian Sosial. Program tersebut diarahkan untuk memperbaiki ketepatan data penerima bantuan sosial melalui pemanfaatan sistem digital dan data terpadu sosial ekonomi nasional.
Dalam pelaksanaannya, Kementerian Sosial melibatkan Dewan Ekonomi Nasional dalam tim besar yang dipimpin Luhud Binsar Panjaitan. Uji coba di Banyuwangi menjadi bagian penting untuk melihat persoalan yang masih terjadi dalam penyaluran bantuan sosial sekaligus mencari cara memperbaikinya.
Menteri Sosial Saifulah Yusuf atau Gus Ipul mengatakan, hasil uji coba menunjukkan masih terdapat bantuan sosial yang belum tepat sasaran. Temuan tersebut kemudian digunakan untuk memperbaiki data penerima dengan mengacu pada data terpadu sosial ekonomi nasional.
“Alhamdulillah ya dengan adanya uji coba di Banyuwangi kita semakin tahulah ya memang ada bansos-bansos yang belum tepat sasaran,” ujar Gus Ipul dalam pemaparannya.
Ia menyebut kesalahan atau ketidakakuratan data penerima mulai mengalami penurunan setelah dilakukan perbaikan. Menurut dia, proses tersebut masih terus berjalan agar tingkat kesalahan dalam penyaluran bansos dapat ditekan lebih jauh.
Baca Juga: PKH BPNT Ditangguhkan karena Judol atau PLN? Ini 3 Bantuan yang Disebut Tetap Aman
“Yang error-eror ini kita perbaiki dengan dettisen. Ada penurunan error itu ya,” kata Gus Ipul.
Saat ini, tingkat kesalahan yang ditemukan berada di angka 28 persen. Pemerintah menargetkan angka tersebut dapat ditekan hingga di bawah 10 persen setelah sistem digitalisasi bansos diterapkan secara lebih luas.
“Sekarang tinggal hanya 28% errornya. Mudah-mudahan nanti dengan digitalisasi bansos ini erornya sudah di bawah 10%,” ujar Gus Ipul.
Uji coba penyaluran bansos secara digital telah dilakukan di Kabupaten Banyuwangi pada akhir 2025. Hasil dari pelaksanaan tersebut menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki data penerima bantuan sosial.
Digitalisasi bansos tidak hanya diarahkan untuk mengubah mekanisme penyaluran bantuan. Sistem tersebut juga memungkinkan masyarakat mengajukan diri sebagai calon penerima bantuan sosial.
Meski demikian, pengajuan dari masyarakat tidak serta-merta membuat seseorang ditetapkan sebagai penerima. Gus Ipul menjelaskan keputusan akhir tetap ditentukan oleh sistem yang berbasis data.
Dengan pendekatan tersebut, pemerintah berupaya mengurangi kesalahan dalam menentukan penerima manfaat. Data yang digunakan menjadi bagian penting dalam proses penentuan sasaran bantuan sosial.
Baca Juga: Bansos September 2026: 3 Bantuan Disebut Berakhir 30 September, Ada Pengganti Baru
Persoalan akurasi data menjadi salah satu perhatian dalam pengembangan sistem baru tersebut. Dari hasil uji coba, masih ditemukan bantuan sosial yang belum sesuai sasaran. Pemerintah kemudian melakukan perbaikan berdasarkan data terpadu sosial ekonomi nasional.
Angka error yang saat ini disebut mencapai 28 persen menjadi salah satu indikator yang ingin ditekan melalui digitalisasi. Target berikutnya adalah membawa tingkat kesalahan tersebut hingga di bawah 10 persen.
Sistem digital juga membuka ruang bagi masyarakat untuk mengajukan diri sebagai penerima. Namun, proses tersebut tetap bergantung pada pengolahan data dan keputusan sistem.
Dengan demikian, digitalisasi bansos diharapkan tidak hanya mempermudah proses pengajuan, tetapi juga memperbaiki ketepatan sasaran bantuan. Pemerintah masih mematangkan sistem tersebut setelah melakukan evaluasi dari uji coba yang telah berlangsung di Banyuwangi.
Editor : Syarifatul InsaniyahSumber : Diolah dari berbagai sumber