Emas Kembali Jadi Uang, Strategi UBS Ungkap Alasan di Balik Tren Baru

Muhammad Tafrihatu Zaidan Al Akhbari • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 17:04 WIB
Emas kembali jadi uang setelah pembekuan cadangan Rusia. Analisis UBS menyoroti perubahan pasar, pembelian bank sentral, dan risiko fiskal AS. (Gemini AI)
Emas kembali jadi uang setelah pembekuan cadangan Rusia. Analisis UBS menyoroti perubahan pasar, pembelian bank sentral, dan risiko fiskal AS. (Gemini AI)

JAKARTA - Emas kembali mendapat perhatian sebagai aset moneter setelah perubahan perilaku pengelola cadangan global sejak pembekuan cadangan devisa Rusia pada Februari 2022. Dalam sebuah opini yang dibahas dalam video Maneco64, Kepala Strategi UBS Investment Bank Banu Baweja menyebut emas kini kembali dipandang sebagai uang.

Perubahan tersebut dikaitkan dengan keputusan negara-negara Barat membekukan cadangan devisa Rusia senilai sekitar USD630 miliar. Cadangan tersebut tersimpan dalam berbagai instrumen, termasuk Treasury, obligasi, dan gilts.

Menurut pembahasan dalam video, peristiwa itu memunculkan pertanyaan bagi pengelola cadangan dan aset di seluruh dunia. Jika aset yang selama ini dianggap sebagai uang dapat dibuat tidak bisa diakses dalam waktu singkat, muncul pertanyaan mengenai bentuk uang yang benar-benar dapat diandalkan.

Baca Juga: Harga Emas 2,6 Juta per Gram pada 2026 Disebut Jadi Momentum, Ini Alasannya

Jawaban yang disebut dalam artikel UBS adalah emas.

Banu Baweja menilai hubungan emas dengan imbal hasil riil Amerika Serikat juga telah berubah secara fundamental sejak 2022. Sebelum Februari 2022, kenaikan satu poin persentase pada suku bunga riil AS biasanya berkaitan dengan penurunan harga emas sekitar 14 persen.

Namun, pola tersebut tidak lagi berjalan seperti sebelumnya.

Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Ini Turun 2,69 Persen, Investor Perlu Cermati Tren

Hubungan emas dan imbal hasil berubah

Dalam periode Maret 2022 hingga Oktober 2023, imbal hasil riil obligasi AS lima tahun disebut naik lebih dari empat poin persentase. Berdasarkan pola historis, kondisi itu seharusnya membuat harga emas turun sekitar 55 persen.

Faktanya, dalam periode tersebut emas justru naik 7 persen.

Pada dua tahun berikutnya, imbal hasil riil turun kurang dari satu poin, sedangkan harga emas melonjak 110 persen. Kondisi itu membuat emas kini dinilai lebih responsif terhadap penurunan imbal hasil riil dan tidak terlalu sensitif terhadap kenaikannya.

Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Ini Turun 2,69 Persen, Investor Perlu Cermati Tren

Perubahan tersebut membuat sejumlah model valuasi lama dinilai tidak lagi cukup untuk menjelaskan pergerakan emas. Dalam analisis UBS yang dibahas, terdapat dua faktor lain yang semakin penting, yakni korelasi positif antara obligasi dan saham serta meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Amerika Serikat.

Selama periode inflasi dalam lima tahun terakhir, obligasi disebut tidak selalu efektif menjadi pelindung terhadap risiko saham. Emas justru dinilai memberikan diversifikasi yang lebih baik untuk portofolio yang banyak berisi saham.

Menurut World Gold Council sebagaimana disebut dalam video, investor individu dan institusi masih menempatkan sekitar 3 persen aset finansial mereka dalam emas. Angka itu dianggap masih memberikan ruang bagi peningkatan alokasi emas.

Baca Juga: Harga Emas Antam Tembus Rp2,71 Juta, Ini Faktor yang Bikin Investor Waspada

Cadangan emas negara ikut berubah

Faktor lain yang menjadi perhatian adalah meningkatnya alokasi emas oleh bank sentral negara berkembang dan sovereign fund. Dalam pembahasan tersebut, porsinya disebut meningkat dari sekitar 5-7 persen cadangan pada 2022 menjadi 11 persen saat ini.

Perubahan itu dinilai menunjukkan pergeseran cara sebagian institusi memandang emas dalam sistem cadangan.

Video juga membahas langkah Bank Sentral Belanda yang memindahkan sebagian emasnya dari Amerika Serikat dan Kanada kembali ke Eropa. Lebih dari 27 metrik ton emas disebut dipindahkan secara fisik dari Amerika Serikat dan Kanada ke penyimpanan milik bank sentral Belanda di dekat Zeist.

Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Ini Turun Rp30.000, Jadi Momen Beli atau Tunggu?

Sebagian emas lainnya disebut dipindahkan ke London. Reposisi tersebut dibahas sebagai bagian dari langkah kesiapsiagaan menghadapi situasi krisis.

Di sisi lain, pembahasan juga menyoroti kondisi fiskal Amerika Serikat. Utang publik AS yang dipegang publik disebut telah mencapai sekitar USD32 triliun, sementara total utang disebut sekitar USD40 triliun.

UBS menilai meningkatnya tekanan fiskal dapat menjadi salah satu faktor struktural yang mendukung emas. Dalam kondisi tersebut, penurunan suku bunga riil dan meningkatnya premi jangka panjang dinilai dapat memberikan dukungan terhadap harga emas.

Baca Juga: Harga Emas Antam Tembus Rp2,71 Juta, Ini Faktor yang Bikin Investor Waspada

Video tersebut juga mengaitkan prospek emas dengan kebijakan Federal Reserve dan data tenaga kerja Amerika Serikat. Namun, pembicara menekankan bahwa pergerakan jangka pendek tidak seharusnya menjadi satu-satunya dasar dalam melihat prospek emas.

Pada akhirnya, pembahasan tersebut menunjukkan adanya perubahan penting dalam cara emas dipandang. Jika sebelumnya emas kerap dianggap sekadar komoditas atau aset pelindung nilai, analisis UBS yang dikutip dalam video menempatkannya kembali dalam pembahasan mengenai fungsi uang dan cadangan.

Editor : Muhammad Tafrihatu Zaidan Al Akhbari
Sumber : maneco64
Emas Kembali Jadi Uang bank sentral harga emas investasi emas UBS