JAKARTA - Prediksi harga emas 2027 kembali menjadi sorotan setelah UBS disebut masih mempertahankan pandangan bullish terhadap emas. Dalam laporan yang dirilis 3 September, institusi tersebut disebut melihat sejumlah faktor yang dapat menopang tren kenaikan emas hingga 2027, meski ada kondisi tertentu yang bisa membuat proyeksi tersebut gagal.
Pembahasan tersebut muncul di tengah pergerakan harga emas dunia yang masih dipengaruhi data ekonomi Amerika Serikat. Salah satu data yang menjadi perhatian adalah nonfarm payroll atau laporan ketenagakerjaan AS.
Dalam transkrip, laporan nonfarm payroll Agustus disebut menjadi salah satu penentu penting arah pasar dalam jangka pendek. Data tersebut mencakup tiga angka utama, yakni jumlah lapangan kerja baru, tingkat pengangguran, dan kenaikan rata-rata upah per jam.
Baca Juga: Harga Emas Hari Ini 10 September 2026: Antam, UBS dan Galeri 24 Berubah
Tingkat pengangguran diperkirakan berada di 4,1 persen. Namun, perhatian utama dalam analisis justru diarahkan pada rata-rata upah per jam karena angka tersebut dinilai dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga The Fed.
UBS melihat tren emas belum berakhir
Salah satu dasar pandangan bullish UBS adalah perubahan hubungan antara suku bunga riil Amerika Serikat dan harga emas.
Secara teori, kenaikan suku bunga riil seharusnya memberikan tekanan terhadap emas. Dalam transkrip disebutkan, UBS menghitung bahwa selama 20 tahun terakhir, setiap kenaikan 1 poin persentase suku bunga riil AS berkaitan dengan penurunan harga emas sekitar 14 persen.
Baca Juga: Harga Emas Antam Naik Rp160 Ribu, Ini Bedanya dengan UBS dan Galeri 24
Jika perhitungan tersebut diterapkan pada periode Maret 2022 hingga Oktober 2023, ketika imbal hasil riil obligasi AS tenor lima tahun melonjak lebih dari 4 poin persentase, harga emas secara teori seharusnya turun sekitar 55 persen.
Namun, yang terjadi justru berbeda. Pada periode tersebut, harga emas disebut naik sekitar 7 persen.
Ketidaksesuaian itu menjadi salah satu alasan mengapa hubungan lama antara suku bunga riil dan emas dinilai tidak lagi sesederhana sebelumnya. Dalam dua tahun berikutnya, imbal hasil riil AS bahkan belum turun sampai 1 poin persentase, tetapi harga emas disebut melonjak hingga 110 persen.
Baca Juga: Harga Emas Hari Ini 10 September 2026 Turun, Antam hingga UBS Segini
UBS kemudian mengaitkan perubahan tersebut dengan meningkatnya pembelian emas oleh bank sentral dan negara berkembang.
Cadangan emas bank sentral jadi perhatian
Dalam transkrip disebutkan, pembekuan cadangan devisa Rusia pada Februari 2022 menjadi salah satu peristiwa yang mengubah cara sejumlah negara melihat aset cadangan.
Cadangan devisa Rusia yang disebut mencapai 630 miliar dolar kemudian dibekukan. Setelah itu, bank sentral negara berkembang dinilai semakin memperhatikan emas sebagai bagian dari cadangan mereka.
Baca Juga: Harga Emas Turun, Beli atau Jual? Ini Kesalahan yang Sering Dilakukan Pemula
Porsi emas dalam cadangan negara berkembang disebut meningkat dari 5,7 persen pada 2022 menjadi 11 persen. Sebagai pembanding, porsi tersebut pada bank sentral negara maju disebut telah mencapai 26 persen.
Perbedaan itu dinilai masih memberikan ruang bagi pembelian emas lebih lanjut.
Data lain yang disebut dalam transkrip adalah pembelian emas oleh People's Bank of China. Pada Juli tahun ini, bank sentral China disebut membeli 20 ton emas. Angka tersebut disebut sebagai penambahan bulanan terbesar sejak Oktober 2023.
Baca Juga: Harga Emas Hari Ini 10 September 2026: Antam, UBS dan Galeri 24 Berubah
Akumulasi pembelian bersih China sepanjang tahun ini disebut mencapai 60 ton, sehingga total cadangannya menjadi 2.366 ton.
Meski demikian, prediksi harga emas 2027 menurut UBS tidak disebut tanpa risiko. Salah satu kondisi yang dapat mengganggu prospek bullish adalah apabila inflasi turun dan hubungan saham dengan obligasi kembali normal. Dalam situasi tersebut, investor besar berpotensi kembali memilih obligasi yang memberikan bunga tetap dibandingkan emas.
Faktor fiskal Amerika Serikat juga menjadi perhatian. Total utang pemerintah AS disebut telah menembus 40 triliun dolar dan defisit fiskalnya sekitar 6 persen dari produk domestik bruto.
Baca Juga: Harga Emas Antam Naik Rp15.000 Jadi Rp2,625 Juta, Buyback Ikut Menguat
Dalam analisis tersebut, tekanan fiskal yang kemudian memengaruhi kebijakan moneter disebut sebagai fiscal dominance. Kondisi ini menjadi bagian dari alasan UBS melihat dinamika suku bunga dan utang AS sebagai faktor penting bagi arah emas dalam jangka panjang.
Untuk jangka pendek, data ketenagakerjaan AS tetap menjadi pemicu volatilitas. Jika data menunjukkan ekonomi lebih kuat dari perkiraan, ekspektasi kenaikan suku bunga dapat meningkat dan memberi tekanan terhadap emas.
Sebaliknya, data ekonomi yang lebih lemah dapat memperkuat harapan pelonggaran kebijakan moneter. Karena itu, laporan ketenagakerjaan hanya menjadi salah satu bagian dari rangkaian data yang perlu diperhatikan sebelum data inflasi dan keputusan suku bunga berikutnya.
Editor : Muhammad Tafrihatu Zaidan Al AkhbariSumber : Logika Cuan