Prediksi Harga Emas 2027 Menurut UBS, Bisa Tembus US$5.400

Muhammad Tafrihatu Zaidan Al Akhbari • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 17:50 WIB
: Prediksi harga emas 2027 dari UBS berpotensi menembus US$5.400, didukung dedolarisasi, pelemahan dolar, dan pembelian bank sentral. (Gemini AI)
: Prediksi harga emas 2027 dari UBS berpotensi menembus US$5.400, didukung dedolarisasi, pelemahan dolar, dan pembelian bank sentral. (Gemini AI)

JAKARTA - Prediksi harga emas 2027 dari UBS menunjukkan prospek bullish masih terbuka lebar. Bank asal Swiss tersebut memperkirakan harga emas berpotensi menembus US$5.400 dalam 12 bulan ke depan, ditopang sejumlah perubahan struktural dalam sistem keuangan global.

UBS melihat setidaknya tiga katalis utama yang dapat menopang harga emas global. Ketiganya adalah dedolarisasi, pelemahan dolar Amerika Serikat, serta tingginya pembelian emas oleh bank sentral.

Ketiga faktor tersebut dinilai saling berkaitan. Ketika dolar melemah dan sejumlah negara mulai melakukan diversifikasi cadangan devisa, emas berpeluang mendapat ruang lebih besar sebagai alternatif penyimpan nilai.

Baca Juga: Harga Emas Hari Ini 8 September 2026 Kompak Turun, UBS Anjlok Rp19 Ribu

Proyeksi UBS menjadi perhatian bukan hanya karena target harganya yang tinggi. Bank tersebut melihat adanya perubahan struktural yang berpotensi meningkatkan permintaan emas dalam jangka menengah hingga panjang.

Dedolarisasi Jadi Katalis Harga Emas

Selama puluhan tahun, dolar Amerika Serikat memiliki posisi dominan dalam sistem keuangan global. Mata uang tersebut digunakan secara luas sebagai mata uang cadangan, alat perdagangan internasional, serta aset keuangan global.

Namun, menurut UBS, perhatian investor terhadap pergeseran jangka panjang dari dominasi dolar kembali meningkat. Salah satu pemicunya adalah kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Amerika Serikat.

Baca Juga: Harga Emas Antam Naik Rp160 Ribu, Ini Bedanya dengan UBS dan Galeri 24

Ketika defisit fiskal Amerika terus membesar, investor global dinilai dapat mulai mempertanyakan keberlanjutan kondisi keuangan pemerintah Amerika dalam jangka panjang.

Situasi tersebut memberikan keuntungan bagi emas. UBS menyebut emas sangat diuntungkan oleh dedolarisasi karena investor global melihat logam mulia itu sebagai penyimpan nilai sekaligus alternatif terhadap mata uang cadangan tradisional.

Dengan begitu, ketika sebagian pelaku pasar ingin mengurangi konsentrasi aset berbasis dolar, emas dapat menjadi salah satu pilihan diversifikasi.

Baca Juga: Harga Emas Hari Ini 10 September 2026 Turun, Antam hingga UBS Segini

Selain dedolarisasi, pelemahan dolar Amerika juga menjadi faktor penting. Dalam satu bulan terakhir, indeks dolar Amerika disebut telah turun 2,4 persen.

UBS memperkirakan pelemahan dolar dalam jangka menengah hingga panjang masih berpotensi berlanjut. Proyeksi tersebut antara lain dipengaruhi defisit fiskal Amerika yang terus membesar, ketidakpastian kebijakan perdagangan Amerika, serta meningkatnya diversifikasi cadangan devisa sejumlah negara.

UBS mencatat harga emas telah naik sekitar 15 persen sepanjang Agustus 2026. Kenaikan tersebut disebut menunjukkan momentum permintaan yang kuat.

Baca Juga: Harga Emas Hari Ini 10 September 2026: Antam, UBS dan Galeri 24 Berubah

Bank Sentral Masih Borong Emas

Faktor lain yang menjadi perhatian dalam prediksi harga emas 2027 adalah pembelian bank sentral. UBS memperkirakan bank sentral akan tetap mempertahankan pembelian emas dalam jumlah tinggi sebagai bagian dari strategi mengurangi ketergantungan terhadap aset berbasis dolar.

Pada kuartal II 2026, bank sentral disebut telah membeli 289 ton emas. Untuk sepanjang 2026, pembelian diperkirakan berada di kisaran 750 hingga 1.000 ton.

UBS menilai angka tersebut menunjukkan besarnya peran bank sentral terhadap pasar emas global. Meski demikian, pembelian bank sentral belum tentu langsung membuat harga emas melonjak tajam.

Baca Juga: Saham Antam vs Emas, Mana Lebih Cuan dalam 10 Tahun? Ini Hasilnya

Permintaan tersebut lebih berperan sebagai penyangga pasar dan membantu mengimbangi pelemahan permintaan dari sektor perhiasan. Ketika harga emas semakin mahal, konsumen dapat mengurangi pembelian perhiasan.

Dari sisi investasi, aliran dana ke ETF emas juga disebut mulai menguat. Kondisi ini menunjukkan bahwa permintaan emas tidak hanya berasal dari pembeli fisik, tetapi juga investor institusional dan pasar keuangan.

UBS sebelumnya memproyeksikan harga emas menuju US$5.000 per troy ons pada semester pertama 2027. Proyeksi tersebut didukung tiga faktor, yakni penurunan suku bunga, pelemahan dolar, dan meningkatnya permintaan bank sentral.

Baca Juga: Harga Emas Hari Ini 10 September 2026: Antam, UBS dan Galeri 24 Berubah

Pada Mei 2026, UBS memangkas proyeksi harga emas akhir 2026 menjadi US$5.500 dari sebelumnya US$5.900. Saat itu, imbal hasil US Treasury yang tinggi dan penguatan dolar dinilai menjadi hambatan utama bagi harga emas.

Tetap Ada Risiko Harga Emas Jangka Pendek

Meski fundamental jangka panjang dinilai kuat, UBS tetap melihat adanya risiko yang dapat menekan harga emas dalam jangka pendek.

Salah satunya adalah jika data ekonomi Amerika Serikat menunjukkan kekuatan lebih besar dari perkiraan. Kondisi tersebut dapat membuat pasar memperkirakan suku bunga tinggi bertahan lebih lama.

Baca Juga: Harga Emas Antam 10 September 2026 Berpotensi Naik Rp20 Ribu, Ini Pemicunya

Kenaikan harga minyak juga menjadi risiko karena dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi. Inflasi yang terlalu tinggi dapat membuat bank sentral lebih berhati-hati dalam menentukan kebijakan suku bunga.

Ekspektasi kebijakan bank sentral Amerika Serikat yang lebih hawkish juga berpotensi menjadi tantangan bagi emas.

Secara teknikal, UBS mencatat harga emas telah menembus level resistensi US$4.250 per troy ons untuk pertama kalinya dalam dua bulan. Penembusan tersebut disebut mendapat dukungan dari pembelian institusi China dan arus dana ETF.

Baca Juga: Emas Kembali Jadi Uang, Strategi UBS Ungkap Alasan di Balik Tren Baru

Dengan berbagai faktor tersebut, UBS masih melihat fundamental harga emas dalam jangka panjang sangat kuat. Dedolarisasi, pembelian bank sentral, aliran dana investor ke ETF, dan pelemahan dolar menjadi sejumlah penopang utama.

Namun, pasar tetap dapat berubah cepat. Harga emas masih berpotensi terkoreksi apabila kondisi makroekonomi berubah dan ekspektasi kebijakan suku bunga bergeser.

Editor : Muhammad Tafrihatu Zaidan Al Akhbari
Sumber : Inner Boost
Prediksi harga emas 2027 Dedolarisasi bank sentral harga emas UBS