Modus Penipuan Online Makin Canggih, Suara Korban Bisa Direkonstruksi AI

Agnes Adelia Hernanda • Dipublikasikan Selasa, 15 September 2026 | 20:30 WIB
Modus penipuan online makin canggih, termasuk memanfaatkan AI untuk merekonstruksi suara. Kenali ciri dan cara menghindarinya.
Modus penipuan online makin canggih, termasuk memanfaatkan AI untuk merekonstruksi suara. Kenali ciri dan cara menghindarinya.

 

JAKARTA - Modus penipuan online kini tidak hanya mengandalkan pesan palsu, tautan mencurigakan, atau akun yang menyamar sebagai pihak resmi. Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) juga berpotensi dimanfaatkan untuk merekonstruksi suara hingga wajah seseorang demi melancarkan aksi penipuan.
Hal itu disampaikan Laksono Kurniadi atau Adi dari Bank Indonesia Provinsi Bali dalam podcast Tribun Bali. Adi yang membidangi sistem pembayaran sekaligus perlindungan konsumen menjelaskan, celah terbesar dalam berbagai modus penipuan justru sering berada pada sisi manusia.
Menurutnya, pelaku memanfaatkan kondisi korban ketika sedang panik, terburu-buru, atau tergiur dengan sesuatu. Situasi tersebut membuat seseorang cenderung mengambil keputusan tanpa melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Baca Juga: Strategi Memilih Formasi CPNS 2026, Ristian Januari Ungkap 4 Hal yang Perlu Diperhatikan


Salah satu contoh yang dibahas adalah penipuan berkedok refund tiket. Korban yang salah membeli tiket dan membutuhkan pengembalian dana bisa berada dalam kondisi terburu-buru. Ketika mencari kontak resmi penyedia tiket melalui Google, korban belum tentu menemukan nomor yang benar.
Pelaku dapat memanfaatkan kondisi tersebut dengan menempatkan kontak yang seolah-olah merupakan pusat layanan resmi. Korban kemudian diarahkan melakukan transfer ke rekening atau virtual account tertentu. Setelah transaksi dilakukan, kontak tersebut tidak dapat dihubungi kembali.
“Pentingnya adalah teliti. Teliti lagi teliti lagi,” kata Adi dalam podcast tersebut.

Baca Juga: Gagal di LAFESTDA 2025, Aziz Bangkit dan Raih Juara Tiga pada 2026


Suara Bisa Dimanfaatkan untuk Penipuan
Selain memanfaatkan kepanikan korban, modus penipuan online juga dapat bersinggungan dengan perkembangan AI. Adi menjelaskan adanya potensi penyalahgunaan rekaman suara untuk mengenali karakter suara seseorang dan kemudian merekonstruksinya.
Salah satu contoh yang dibahas adalah panggilan dari nomor tidak dikenal. Ketika seseorang menjawab dengan sapaan seperti “halo”, suara tersebut berpotensi menjadi sumber untuk mengenali suara korban.
Menurut Adi, suara yang telah diperoleh dapat direplikasi dan digunakan dengan skrip tertentu untuk menyasar orang-orang yang memiliki hubungan dengan korban.

Baca Juga: Soal TKP SKD CPNS 2026, Alfaiz Ungkap Cara Memilih Jawaban dengan Poin Tertinggi

 

Modus serupa juga dapat memanfaatkan gambar atau video. Dalam percakapan tersebut, Dayu menceritakan pengalaman ketika seseorang mengaku sebagai temannya melalui WhatsApp. Nomor yang digunakan berbeda, tetapi foto profilnya sama. Saat melakukan video call, gambar yang muncul terlihat seperti foto dengan bagian mulut yang bergerak.
Adi menjelaskan, teknik semacam itu masih tergolong sederhana jika hanya bagian mulut yang dibuat bergerak. Namun, perkembangan teknologi memungkinkan manipulasi yang lebih kompleks sehingga semakin sulit membedakan konten asli dan palsu.
Waspadai Link, Identitas dan Harga Terlalu Murah
Ciri lain yang perlu diwaspadai adalah pihak yang mengaku sebagai bank atau e-commerce tetapi menghubungi konsumen menggunakan nomor yang tidak resmi. Konsumen juga diminta tidak sembarangan mengeklik tautan.
Modusnya kini dapat dibuat seolah-olah berkaitan dengan transaksi yang benar-benar dilakukan. Misalnya, korban mendapat pesan bahwa terdapat transaksi tertentu dan diminta mengeklik tautan untuk membatalkannya.

Baca Juga: Soal TWK CPNS 2026, Privat Alfaiz Bagikan Cara Menjawab Opsi yang Menjebak


Adi juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah tergiur dengan harga barang yang terlalu murah. Ia mencontohkan tiket konser yang seharusnya bernilai jutaan rupiah tetapi ditawarkan jauh lebih rendah.
Dalam kondisi tersebut, transaksi transfer bisa terlihat normal karena korban memang mengirim uang secara sadar. Masalahnya, keputusan tersebut bermula dari kelengahan dan rasa tergiur.
Karena itu, verifikasi menjadi langkah penting sebelum melakukan transaksi. Jika menerima pesan dari orang yang mengaku sebagai teman, penerima dapat menghubungi nomor lain yang sudah diketahui benar milik orang tersebut.

Baca Juga: Strategi Mengerjakan Soal Perbandingan X dan Y agar Lebih Cepat di SKD CPNS


Hal yang sama berlaku ketika menerima tautan dari pihak yang mengaku sebagai bank. Alamat situs perlu diperiksa terlebih dahulu karena domain yang terlihat mirip belum tentu merupakan situs resmi.
Sudah Terlanjur Tertipu, Segera Lapor
Jika transaksi penipuan sudah terjadi, Adi menyarankan korban segera melapor kepada bank atau penyelenggara layanan yang digunakan. Korban perlu menyampaikan kronologi dan memberikan bukti transaksi.
Setelah itu, informasi keamanan seperti sandi dan password perlu segera diganti. Jika masih terdapat dana yang tersisa, dana tersebut dapat dipindahkan ke akun lain untuk membantu mengamankan uang.
Kecepatan laporan menjadi penting karena dana hasil penipuan dapat segera dipindahkan dari satu rekening atau akun ke akun lainnya.

Baca Juga: Konsisten Jaga DNA Racing, Yamaha Dirt Bike Experience Asah Skill Awak Media Bareng WR155 R dan YZ12


Adi juga mengingatkan agar masyarakat tidak mengabaikan transaksi kecil yang tidak dikenali. Pengurangan saldo dalam jumlah kecil, misalnya Rp1.000 atau Rp2.000, tetap perlu diperiksa melalui riwayat transaksi.
Dengan mengenali ciri-ciri penipuan, melakukan verifikasi sebelum bertransaksi, serta tidak sembarangan membagikan informasi pribadi di internet, masyarakat dapat mengurangi risiko menjadi korban modus penipuan online.

Baca Juga: Tiba-Tiba Cinema Kembali Adu Karya di RaTu Film Festival (RFF) 2026

Course: YouTube @tribunbaliupdate

Editor : Agnes Adelia Hernanda
#Keamanan Transaksi #Penipuan Online #Ai #Modus Penipuan Online #Bank Indonesia