Program Transformasi Kewirausahaan UMKM Diluncurkan BI, Ada Pendidikan hingga Akses Modal

Agnes Adelia Hernanda • Dipublikasikan Selasa, 15 September 2026 | 20:45 WIB
Program Transformasi Kewirausahaan UMKM dari BI mengutamakan pendidikan, sertifikasi, magang, pendirian usaha hingga akses modal.
Program Transformasi Kewirausahaan UMKM dari BI mengutamakan pendidikan, sertifikasi, magang, pendirian usaha hingga akses modal.

 

JAKARTA - Bank Indonesia meluncurkan Program Transformasi Kewirausahaan UMKM Terpadu untuk mendorong penciptaan lapangan kerja sekaligus memperkuat ekonomi kerakyatan. Program ini mengusung model pembinaan yang menitikberatkan pada penguatan kapasitas wirausaha sebelum peserta mendapatkan akses permodalan.
Program bertema “Kebangkitan Wirausaha untuk Menyongsong Indonesia Emas” tersebut dirancang untuk menjawab sejumlah tantangan yang masih dihadapi UMKM nasional. Di antaranya rendahnya adopsi digitalisasi, keterbatasan akses pembiayaan, serta kebutuhan peningkatan kompetensi kewirausahaan pelaku usaha.
Program transformasi kewirausahaan UMKM ini merupakan hasil sinergi Bank Indonesia bersama Kementerian UMKM, Kementerian Agama, dan Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat. Peluncurannya dilakukan secara nasional.

Baca Juga: Suahasil Nazara Jadi Menkeu, Tegaskan Defisit APBN Tetap di Bawah 3 Persen


Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan program tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kemandirian ekonomi di tengah ketidakpastian global. Menurutnya, UMKM memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu pilar penting perekonomian nasional.
“Kita menghadapi dunia yang terus bergolak, terus perang Timur Tengah, Selat Hormuz, kemudian perang dagang, ketidakpastian geopolitik, keuangan, ekonomi,” ujar Perry dalam tayangan tersebut.
Dia menekankan pentingnya kemandirian dalam menghadapi kondisi global yang penuh ketidakpastian. Perry juga melihat pengembangan UMKM sebagai langkah penting karena jumlah pelaku usaha tersebut sangat besar dan sebagian besar memiliki skala usaha kecil.

Baca Juga: Suahasil Nazara Jadi Menkeu, Ini Jejak Karier dan Pendidikan hingga Guru Besar UI


“UMKM menjadi betul-betul menjadi pilar penting dari pembangunan lebih dari 65 juta UMKM di Indonesia dan sebagian besar adalah skalanya kecil,” katanya.
Dalam program tersebut, peserta tidak langsung diarahkan mendapatkan modal usaha. Mereka terlebih dahulu mengikuti pendidikan kewirausahaan dan sertifikasi selama sekitar 2,5 bulan.
Perry menjelaskan, kemampuan teknis dan kemampuan bisnis menjadi dua aspek yang harus dimiliki seorang wirausaha. Setelah menjalani pendidikan dan dinyatakan lulus sertifikasi, peserta kemudian masuk tahap uji coba melalui magang atau sandboxing.

Baca Juga: Panggung Gembira Winong Raya Tulungagung, Ruang Tumbuh Talenta Anak dan Kebersamaan Tujuh Sekolah 


“Wirausaha itu harus ada dua aspek ya. Kalau anu kemampuan teknisnya dan kemampuan bisnisnya,” ujar Perry.

Tahapan tersebut kemudian dilanjutkan dengan pendirian usaha dan akses permodalan. Pendekatan ini diharapkan membuat peserta memiliki kesiapan yang lebih baik sebelum menjalankan usaha secara mandiri.
“Setelah membuat sertifikasi baru diceburkan uji coba magang. Kalau di pesantren nyantrik,” lanjutnya.

Baca Juga: Suahasil Nazara Ungkap Tugas dari Prabowo: Jaga APBN Tetap Sehat dan Kredibel


Program ini juga diarahkan untuk menghubungkan UMKM dengan ekosistem bisnis yang lebih luas. Tujuannya antara lain meningkatkan daya saing produk dan membuka lapangan kerja baru, sejalan dengan target pembangunan nasional dalam RPJMN 2025-2029.
Sejumlah UMKM binaan Bank Indonesia turut hadir dalam peluncuran program. Salah satunya Moza Salti Laboratory, produsen cangkir barista yang produknya telah menembus pasar internasional.
Perwakilan Moza Salti Laboratory menyebut produknya telah dikirim ke lebih dari 30 negara. Dalam satu bulan, pengiriman biasanya dilakukan ke sekitar empat negara. Pasar yang pernah dijangkau di antaranya Kanada dan Eropa.

Baca Juga: Suahasil Nazara Resmi Jadi Menkeu, Tegaskan Defisit APBN Tetap di Bawah 3 Persen


Selain sektor produk barista, Bank Indonesia juga membina UMKM di bidang wastra melalui Zuki Batik Tenun. UMKM tersebut menjadi mitra binaan sejak 2021 dan mendapatkan pendampingan dalam sejumlah aspek, mulai dari inovasi, pelatihan keuangan, pengolahan limbah hingga sertifikasi halal kain.
Ada pula UMKM Pesantren Sunan Gunung Jati yang memproduksi air minum dalam kemasan. Muhammad Zuhair selaku pengusaha UMKM tersebut mengatakan dukungan Bank Indonesia membantu memperluas jaringan usaha.
“Jadi kita lebih tahu dunia luar lagi, lebih tahu mitra-mitra yang ada di luar lagi jaringan,” ujarnya.

Baca Juga: Suahasil Nazara Jadi Menteri Keuangan, Punya Harta Rp138,1 Miliar


Hingga saat ini, Bank Indonesia melalui 46 kantor perwakilan telah membina lebih dari 3.000 UMKM di berbagai sektor. Dari jumlah tersebut, lebih dari 1.500 merupakan usaha berbasis pesantren.
Melalui program transformasi kewirausahaan UMKM tersebut, Bank Indonesia bersama kementerian terkait berkomitmen membangun ekosistem kewirausahaan yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Program ini diharapkan dapat melahirkan wirausaha baru yang lebih tangguh dan berdaya saing.

Baca Juga: Ingin Penghasilan Tambahan? TIKI Tulungagung Buka Peluang Gerai Tanpa Biaya

Course: YouTube @kompastv

Editor : Agnes Adelia Hernanda
#Bank Indonesia #UMKM #Kewirausahaan #Program Transformasi Kewirausahaan UMKM #Perry Warjiyo