JAKARTA - Bank Indonesia (BI) menilai nilai tukar rupiah saat ini berada dalam kondisi undervalue atau lebih rendah dari nilai yang tercermin dari fundamental ekonomi Indonesia. BI meyakini rupiah ke depan akan stabil dan cenderung menguat.
Hal tersebut disampaikan dalam pembahasan mengenai kondisi ekonomi dan nilai tukar rupiah bersama pemerintah dan sejumlah otoritas terkait. Dalam pemaparan tersebut, fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih kuat.
Salah satu indikatornya adalah pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama yang mencapai 5,61 persen. Angka tersebut disebut menjadi salah satu pertumbuhan tertinggi di antara negara-negara G20 dan berada di atas sejumlah negara, termasuk China, Korea Selatan, serta Amerika Serikat.
Baca Juga: Purbaya Yudi Sadewa Tinggalkan Rapat DPD RI, Sore Digantikan Suahasil Nazara
Pertumbuhan tersebut juga berada di atas ekspektasi sejumlah lembaga yang sebelumnya memperkirakan rata-rata pertumbuhan berada di kisaran 5,2 persen.
Dari sisi komponen ekonomi, konsumsi tumbuh 5,52 persen. Konsumsi pemerintah juga meningkat hingga 21,31 persen. Sementara itu, ekspor dan impor disebut mencatat perkembangan positif.
Sejumlah lapangan usaha turut menunjukkan kinerja yang baik. Di antaranya industri, perdagangan, administrasi pemerintahan, jasa lainnya, transportasi dan pergudangan, pertanian, serta konstruksi.
Baca Juga: Suahasil Nazara Menteri Keuangan, Dilantik Prabowo untuk Sisa Masa Jabatan 2024-2029
Fundamental Ekonomi Dinilai Kuat
Gubernur BI dalam pemaparannya menyebut terdapat sejumlah indikator yang menjadi dasar penilaian bahwa rupiah berada dalam kondisi undervalue.
Inflasi tercatat 2,42 persen, turun dari 3,48 persen pada periode sebelumnya. Indeks keyakinan konsumen berada di level 122,9. Neraca perdagangan juga mencatat surplus selama 71 bulan dengan nilai 3,32 miliar dolar AS.
Selain itu, cadangan devisa per Maret tercatat 148 miliar dolar AS. Neraca pembayaran juga mencatat surplus 6,1, sementara realisasi investasi meningkat 7 persen menjadi Rp498,8 triliun.
Baca Juga: Suahasil Nazara Menteri Keuangan, Dilantik Prabowo untuk Sisa Masa Jabatan 2024-2029
Dari sektor perbankan, pertumbuhan kredit mencapai 9,49 persen. Dana pihak ketiga yang mencerminkan penghimpunan dana masyarakat juga tumbuh 13,5 persen.
Meski fundamental dinilai kuat, rupiah masih menghadapi tekanan dalam jangka pendek. BI menyebut tekanan tersebut berasal dari faktor global dan musiman.
Dari sisi global, tekanan dipengaruhi harga minyak yang tinggi, kenaikan suku bunga Amerika Serikat, serta penguatan dolar AS. Imbal hasil US Treasury 10 tahun disebut berada di level 4,47 persen.
Baca Juga: Suahasil Nazara Jadi Menkeu, Tegaskan Defisit APBN Tetap di Bawah 3 Persen
Sementara secara musiman, April, Mei, dan Juni menjadi periode ketika kebutuhan dolar meningkat. Kebutuhan tersebut antara lain berkaitan dengan pembayaran repatriasi dividen, pembayaran utang, serta kebutuhan jemaah haji.
Tujuh Langkah BI Jaga Rupiah
Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, BI menyampaikan tujuh langkah yang telah dan akan ditempuh.
Pertama, BI akan terus melakukan intervensi melalui pasar domestik dan non-deliverable forward (NDF) di pasar luar negeri, termasuk Hong Kong, Singapura, London, dan New York.
Baca Juga: Suahasil Nazara Jadi Menkeu, Ini Jejak Karier dan Pendidikan hingga Guru Besar UI
Kedua, BI bersama Kementerian Keuangan akan menjaga arus masuk portofolio asing. SRBI akan diperkuat untuk membantu mencukupi arus keluar dari SBN dan saham.
Ketiga, BI akan terus membeli SBN dari pasar sekunder melalui koordinasi dengan Kementerian Keuangan. Dalam transkrip disebutkan, pembelian SBN dari pasar sekunder secara year to date telah mencapai Rp3,1 triliun.
Keempat, BI bersama pemerintah akan menjaga likuiditas perbankan dan pasar. Kondisi tersebut tercermin dari pertumbuhan uang primer yang disebut mencapai 14,1 persen.
Baca Juga: Panggung Gembira Winong Raya Tulungagung, Ruang Tumbuh Talenta Anak dan Kebersamaan Tujuh Sekolah
Kelima, BI membatasi pembelian dolar AS di pasar domestik tanpa underlying. Batas yang sebelumnya 100.000 dolar AS per orang per bulan diturunkan menjadi 50.000 dolar AS. BI juga menyampaikan rencana menurunkannya kembali menjadi 25.000 dolar AS.
Keenam, BI memperkuat intervensi melalui pasar NDF di luar negeri serta memberikan ruang bagi bank domestik untuk ikut melakukan transaksi NDF di luar negeri.
Ketujuh, pengawasan terhadap bank dan korporasi dengan aktivitas pembelian dolar tinggi akan diperkuat. Langkah tersebut dilakukan melalui koordinasi dengan OJK untuk menjaga stabilitas sistem keuangan.
Baca Juga: Suahasil Nazara Ungkap Tugas dari Prabowo: Jaga APBN Tetap Sehat dan Kredibel
BI juga menyebut perkembangan transaksi rupiah dengan yuan China di pasar domestik dapat menjadi bagian dari diversifikasi penggunaan mata uang sehingga tidak terlalu bergantung pada dolar AS.
Dengan berbagai langkah tersebut, BI tetap meyakini fundamental ekonomi Indonesia mampu menopang stabilitas nilai tukar. Rupiah dinilai masih undervalue dan ke depan diperkirakan bergerak stabil dengan kecenderungan menguat.
Baca Juga: Suahasil Nazara Resmi Jadi Menkeu, Tegaskan Defisit APBN Tetap di Bawah 3 Persen
Course: YouTube @metrotvnews
Editor : Agnes Adelia Hernanda