JAKARTA - Bank Indonesia (BI) bukan berada di bawah kementerian dan masyarakat tidak bisa membuka rekening maupun menabung di lembaga tersebut. Bank sentral itu merupakan lembaga negara yang independen dengan kewenangan sendiri dalam merumuskan dan menjalankan tugasnya.
Penjelasan tersebut disampaikan dalam video edukasi Bank Indonesia yang membahas sejumlah pertanyaan masyarakat mengenai kebanksentralan. Salah satunya terkait posisi BI dalam struktur pemerintahan.
“Bank Indonesia bukan berada di bawah kementerian apapun,” demikian penjelasan dalam video tersebut. Meski independen, BI tetap bersinergi dengan pemerintah melalui KSSK agar kebijakan moneter, kebijakan fiskal, dan kebijakan lainnya dapat berjalan selaras.
Baca Juga: Jaden Bogle Jadi Sorotan Usai Leeds United Hajar Newcastle United 4-1
Status sebagai bank sentral juga menjadi alasan masyarakat tidak dapat menggunakan layanan BI seperti bank umum. BI bukan tempat untuk membuka rekening, menyimpan uang, mengajukan pinjaman, maupun melakukan aktivitas perbankan sehari-hari.
Kegiatan seperti menabung, transfer antar rekening, membuka rekening, dan mengajukan kredit dilakukan melalui bank umum, baik bank BUMN maupun bank swasta. Sementara itu, tugas utama BI berkaitan dengan pencapaian dan pemeliharaan kestabilan nilai rupiah melalui kebijakan moneter, stabilitas sistem keuangan, dan sistem pembayaran.
Mengapa Uang Tidak Dicetak dan Dibagikan?
Pertanyaan lain yang dibahas adalah alasan negara tidak mencetak lebih banyak uang lalu membagikannya kepada masyarakat. Secara sederhana, mencetak uang dalam jumlah besar memang terlihat seperti solusi untuk meningkatkan kesejahteraan.
Baca Juga: Leeds United Gaspol di Babak Pertama, Augsburg Ditekuk 4-0
Namun, dalam penjelasan BI, kebijakan tersebut tidak sesederhana itu. Jika jumlah uang yang dicetak terlalu banyak sementara barang dan jasa tidak ikut bertambah, harga-harga dapat meningkat. Kondisi tersebut dikenal sebagai inflasi.
Inflasi yang terlalu tinggi dapat memberikan dampak langsung terhadap masyarakat. Harga kebutuhan pokok meningkat, nilai tabungan dapat tergerus, sementara pendapatan terasa semakin kecil. Nilai tukar rupiah juga dapat melemah.
Baca Juga: Leeds United Menang 4-0 atas Augsburg, Tutup Pramusim dengan Kemenangan Meyakinkan
Video tersebut mencontohkan Zimbabwe sebagai negara yang pernah mengalami hiperinflasi hingga nilai mata uangnya kehilangan nilai. Karena itu, peran bank sentral bukan sekadar memastikan uang tersedia dalam perekonomian, tetapi juga menjaga kestabilan nilainya.
BI disebut memiliki tugas menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, mengendalikan inflasi, serta mengelola jumlah uang yang beredar. Tujuannya agar kestabilan ekonomi dan daya beli masyarakat tetap terjaga.
Baca Juga: Leeds United vs Newcastle United: Tiga Gol di Babak Pertama, Newcastle Hancur 4-1
QRIS dan Kebijakan Moneter
Video tersebut juga membahas QRIS sebagai bagian dari kebijakan BI di bidang sistem pembayaran. Disebutkan bahwa sejak 17 Agustus 2019, QRIS dirancang untuk membuat transaksi nontunai di Indonesia menjadi lebih cepat, mudah, murah, aman, dan andal.
Dengan QRIS, satu kode QR dapat dipindai menggunakan berbagai aplikasi pembayaran. Sistem tersebut membuat masyarakat tidak perlu mencari kode QR berbeda untuk setiap aplikasi pembayaran.
Bagi pelaku usaha, khususnya UMKM, penggunaan QRIS juga disebut membantu pencatatan keuangan karena histori transaksi tercatat secara otomatis. Pelaku usaha juga tidak perlu repot menyediakan uang kembalian dalam transaksi nontunai.
Baca Juga: Leeds United vs Newcastle United: Tuan Rumah Pesta 4-1, Naik ke Posisi Ketiga
Selain sistem pembayaran, kebijakan moneter menjadi bagian penting dari tugas BI. Berbeda dengan kebijakan fiskal yang berkaitan dengan penerimaan dan pembelanjaan negara oleh pemerintah, kebijakan moneter dilakukan BI untuk mencapai dan memelihara kestabilan nilai tukar rupiah.
Dalam penerapannya, BI menjaga inflasi dan nilai tukar melalui pengaturan suku bunga, pengelolaan jumlah uang yang beredar, serta berbagai instrumen moneter lainnya.
Secara sederhana, kebijakan moneter digambarkan seperti mengatur ritme perekonomian. Ketika harga meningkat terlalu cepat, kondisi tersebut perlu dikendalikan. Sebaliknya, ketika perekonomian melambat, diperlukan dorongan agar aktivitas ekonomi kembali bergerak.
Baca Juga: Leeds United Menang 4-1, Pelatih Ungkap Kunci Sukses Tekuk Newcastle
Pemahaman mengenai tugas bank sentral tersebut penting agar masyarakat tidak hanya mengetahui istilah seperti inflasi, kebijakan moneter, dan QRIS, tetapi juga memahami alasan di balik kebijakan ekonomi yang diterapkan.
Baca Juga: Noa Lang Puas Leeds United Menang 4-1, Sebut Suasana Tim seperti Keluarga
Course: YouTube @KanalBankIndonesia
Editor : Agnes Adelia Hernanda