Mengapa Regenerasi Kepemimpinan Koperasi Penting? Ini Peran Anak Muda Menyambung Estafet Organisasi

Vidya Sajar Fitri • Dipublikasikan Minggu, 20 September 2026 | 10:30 WIB
Regenerasi kepemimpinan koperasi penting untuk keberlanjutan organisasi. Ini peran anak muda dalam menyambung estafet koperasi.(ILUSTRASI AI)
Regenerasi kepemimpinan koperasi penting untuk keberlanjutan organisasi. Ini peran anak muda dalam menyambung estafet koperasi.(ILUSTRASI AI)

RADAR TULUNGAGUNG - Regenerasi kepemimpinan koperasi menjadi bagian penting untuk menjaga keberlanjutan organisasi. Keterlibatan generasi muda tidak hanya dibutuhkan sebagai anggota, tetapi juga perlu diarahkan agar mereka memahami cara kerja, nilai, dan tanggung jawab dalam koperasi.

Di tengah perubahan zaman, regenerasi kepemimpinan koperasi semakin relevan. Koperasi menghadapi regulasi yang semakin kompleks, persaingan usaha yang ketat, serta perkembangan digitalisasi yang mengubah cara organisasi memberikan layanan kepada anggota.

Karena itu, regenerasi kepemimpinan koperasi tidak cukup dilakukan ketika pergantian pengurus sudah dekat. Anak muda perlu dikenalkan dengan koperasi sejak awal agar memiliki kesempatan belajar dan memahami bagaimana estafet kepemimpinan dapat berlangsung secara berkelanjutan.

Baca Juga: Anak Muda Perlu Mengenal Koperasi, Ini Perannya agar Gerakan Koperasi Tetap Berlanjut di Era Digital

Mengapa Regenerasi Kepemimpinan Koperasi Penting?

Kepemimpinan dalam koperasi tidak hanya berkaitan dengan menjalankan kegiatan organisasi. Pengurus juga perlu memahami kebutuhan anggota, mengelola organisasi secara demokratis, serta menjaga koperasi tetap berjalan sesuai tujuan dan prinsipnya.

Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian mencantumkan sejumlah prinsip koperasi. Di antaranya keanggotaan yang sukarela dan terbuka, pengelolaan demokratis, pembagian sisa hasil usaha secara adil sesuai jasa usaha anggota, kemandirian, serta pendidikan perkoperasian.

Prinsip tersebut menunjukkan bahwa penyiapan generasi penerus tidak hanya menyangkut kemampuan mengelola usaha. Anak muda juga perlu memahami nilai kebersamaan, tanggung jawab sebagai anggota, serta mekanisme pengambilan keputusan dalam organisasi.

Di Tulungagung, gerakan koperasi mulai menyasar kalangan muda melalui berbagai kegiatan. Jalan Sehat Koperasi yang diikuti sekitar 7 ribu peserta dengan rute sekitar lima kilometer, misalnya, juga melibatkan pelajar dan masyarakat umum sebagai bagian dari pengenalan koperasi.

Baca Juga: 7 Ribu Peserta Meriahkan Jalan Sehat Koperasi, Rangkaian Hari Koperasi dan RAKOP Ke-79 Tulungagung

Anak Muda Bisa Belajar dari Kegiatan Koperasi

Pengenalan koperasi kepada generasi muda dapat dimulai dari kegiatan sederhana. Mengikuti kegiatan organisasi, memahami manfaat keanggotaan, mengenal layanan koperasi, hingga terlibat dalam program sosial dapat menjadi bagian dari proses pembelajaran.

Rangkaian peringatan Hari Koperasi dan Rapat Anggota Koperasi ke-79 di Tulungagung juga diisi berbagai kegiatan. Sebelumnya terdapat tasyakuran, lomba catur, bakti sosial, pembagian bantuan sembako, beasiswa tabungan untuk siswa, dan donor darah.

Dalam bakti sosial tersebut, gerakan koperasi menyalurkan 350 paket sembako dengan nilai sekitar Rp100 ribu setiap paket. Kegiatan semacam ini memperlihatkan bahwa aktivitas koperasi dapat bersentuhan langsung dengan masyarakat dan tidak hanya berkaitan dengan kegiatan ekonomi.

Keterlibatan anak muda kemudian dapat dikembangkan menjadi proses kaderisasi. Mereka bisa diberi ruang untuk mengenal administrasi, pelayanan anggota, kegiatan usaha, komunikasi organisasi, hingga pengambilan keputusan sesuai kapasitas dan aturan organisasi.

Pendidikan perkoperasian sendiri merupakan salah satu prinsip yang tercantum dalam UU 25/1992. Artinya, proses mengenalkan koperasi dan menyiapkan sumber daya manusia memiliki tempat dalam pengembangan koperasi.

Baca Juga: 257 Desa dan 14 Kelurahan di Tulungagung Punya KDKMP, 2.618 Pengurus Kini Disiapkan Jalankan Koperasi

Regenerasi Harus Mengikuti Perubahan Zaman

Regenerasi koperasi juga berkaitan dengan kemampuan organisasi menghadapi perubahan. Perkembangan teknologi digital membuat cara berkomunikasi, mengelola data, memberikan pelayanan, dan menjalankan kegiatan usaha terus berubah.

Karena itu, anak muda dapat mengambil peran dalam memperkenalkan cara kerja yang lebih sesuai dengan perkembangan teknologi. Namun, pemanfaatan teknologi tetap perlu berjalan bersama tata kelola yang baik dan pemahaman terhadap prinsip koperasi.

Kebutuhan tersebut semakin penting karena tantangan koperasi bukan hanya pergantian pengurus. Persaingan usaha dan tuntutan pengelolaan organisasi juga membutuhkan sumber daya manusia yang mampu belajar dan beradaptasi.

Di Tulungagung, perhatian terhadap regenerasi muncul karena kepemimpinan koperasi selama ini masih banyak diisi generasi lebih tua. Penyiapan anak muda menjadi bagian dari upaya menyambungkan kepemimpinan agar organisasi memiliki penerus ketika pengurus saat ini memasuki masa pergantian.

Dengan demikian, regenerasi kepemimpinan koperasi sebaiknya dipandang sebagai proses jangka panjang. Anak muda tidak sekadar ditempatkan sebagai peserta kegiatan, tetapi perlu diberi kesempatan memperoleh pengetahuan, pengalaman, dan ruang berkontribusi dalam organisasi.

Estafet kepemimpinan akan lebih mudah berjalan ketika generasi berikutnya sudah mengenal koperasi sebelum pergantian kepengurusan terjadi. Pada akhirnya, keberlanjutan koperasi bergantung pada kemampuan organisasi mempertahankan prinsipnya sekaligus menyiapkan sumber daya manusia yang mampu menghadapi perubahan.

 

Editor : Vidya Sajar Fitri
Sumber : Diolah dari berbagai sumber
regenerasi koperasi generasi muda koperasi regenerasi kepemimpinan koperasi kepemimpinan koperasi pendidikan perkoperasian