Radar Tulungagung - Industri drama Korea kembali mencuri perhatian dunia. Tak hanya lewat akting menawan dan jalan cerita yang emosional, sederet judul terbaru dari tahun 2023 hingga 2024 juga sukses bikin publik tercengang karena biaya produksinya yang fantastis.
Salah satu yang paling menyita perhatian adalah "Moving", drama bergenre aksi-superhero yang tayang di Disney+.
Drama ini disebut sebagai salah satu proyek paling ambisius sepanjang sejarah industri hiburan Korea, dengan biaya produksi mencapai ± Rp 830 miliar.
Tak tanggung-tanggung, lebih dari 7.000 adegan dalam serial ini menggunakan efek visual (CGI), menjadikannya sebagai drama Korea dengan jumlah CGI terbanyak hingga saat ini.
Keberanian untuk mengeksplor genre superhero dipadukan dengan sentuhan emosional ala drama Korea membuat Moving diterima luas oleh penonton global.
Tak kalah ambisius adalah "Gyeongseong Creature", yang mengangkat kisah kelam Korea tahun 1945 di masa penjajahan Jepang.
Drama bergenre horor-thriller ini diproduksi dengan biaya sekitar Rp 791 miliar dan berhasil tampil memukau lewat visual gelap yang elegan serta detail setting yang autentik.
Perpaduan antara sejarah, aksi, dan unsur monster membuat drama ini tampil beda dari kebanyakan drama sejarah pada umumnya.
Sementara itu, dari ranah romansa, "Queen of Tears" menjadi primadona tahun 2024. Dibintangi oleh Kim Soo-hyun dan Kim Ji-won, drama ini mengisahkan gejolak rumah tangga pasangan konglomerat yang sarat konflik dan emosi.
Dengan bujet produksi sebesar ± Rp 632 miliar, serial ini berhasil mencetak rating luar biasa hingga 24,85% dan menjadi drama dengan rating tertinggi sepanjang sejarah tvN.
Jalan cerita yang menyayat hati ditambah kualitas akting kelas satu menjadikan Queen of Tears sebagai tontonan wajib tahun ini.
Di sisi lain, ada juga drama berjudul "When Life Gives You Tangerines" yang dijadwalkan tayang tahun 2025.
Meski belum tayang penuh, drama ini sudah mencuri perhatian karena visualnya yang sinematik dan nuansa cerita yang puitis.
Berlatar di Pulau Jeju pasca perang, drama ini mengandalkan kekuatan atmosfer dan dialog yang dalam, dengan biaya produksi yang juga fantastis—sekitar Rp 830 miliar.
Menutup deretan drama megabudget, hadir "Korea-Khitan War", sebuah drama sejarah kolosal yang menggambarkan konflik antara Kerajaan Goryeo dan Bangsa Khitan di abad ke-10.
Dengan biaya produksi sekitar Rp 320 miliar, drama ini menawarkan skala peperangan yang megah, kostum kerajaan yang detail, serta alur cerita yang berdasarkan catatan sejarah.
Drama ini menjadi pilihan utama bagi para penggemar genre sageuk (sejarah) yang mendambakan tontonan dengan kekuatan narasi dan visual sekaligus.
Setiap drama di atas bukan cuma tampil dengan bujet besar, tapi juga membawa standar baru dalam kualitas produksi, alur cerita, dan sinematografi.
Dunia drakor kini tak lagi dipandang sebelah mata, karena mampu bersaing dengan produksi televisi dan film berskala internasional.
Dengan sentuhan teknologi mutakhir dan naskah yang semakin matang, drama-drama ini berhasil mengubah ekspektasi penonton terhadap tontonan televisi.
Tak heran jika mereka tidak hanya merajai rating lokal, tapi juga mencuri perhatian pasar global.
Lewat proyek-proyek ambisius ini, Korea Selatan sekali lagi membuktikan diri sebagai raksasa hiburan Asia dengan karya yang bukan cuma ditonton, tapi juga dikenang.