Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Film Pengepungan di Bukit Duri, Hadirnya Distopia Kelam Karya Terbaru Joko Anwar

Retta Wulansari • Selasa, 29 April 2025 | 00:41 WIB
Pengepungan di bukit duri jadi film destopia Joko Anwar
Pengepungan di bukit duri jadi film destopia Joko Anwar

Radar Tulungagung - Joko Anwar kembali menyapa penggemarnya lewat karya terbarunya yang kini sedang tayang di bioskop.

Dalam Film Pengepungan di Bukit Duri yang pertama kali tayang pada 17 April ini, Joko menghadirkan atmosfer thriller yang tak hanya mendebarkan, tetapi juga sarat pesan sosial.

Film Pengepungan di Bukit Duri bukan hanya menyajikan adegan seru dan menegangkan, tapi juga mengungkap realitas sosial yang mungkin terabaikan.

Film Pengepungan di Bukit Duri memperlihatkan kehancuran sebuah negeri akibat luka sejarah kekerasan yang tak pernah benar-benar sembuh.

Berlatar tahun 2027, Pengepungan di Bukit Duri membawa penonton ke Jakarta versi distopia—sebuah kota yang porak-poranda, penuh coretan kebencian, dan kekerasan yang terjadi secara terang-terangan di ruang publik.

Di tengah kekacauan itu, kisah berpusat pada Edwin, diperankan oleh Morgan Oey. Sebelum kakaknya meninggal, Edwin berjanji untuk menemukan anak kakaknya yang hilang.

Pencarian tersebut membawanya menjadi seorang guru di SMA Duri—sekolah untuk anak-anak bermasalah di Jakarta Timur yang terkenal dengan kekerasan dan atmosfer permusuhan.

Di sana, Edwin harus berhadapan dengan murid-murid beringas sambil diam-diam mencari keponakannya.

Latar belakang Edwin sebagai keturunan Tionghoa membuat keberadaannya di tengah lingkungan keras itu menjadi jauh lebih berisiko.

Ketegangan memuncak ketika akhirnya Edwin menemukan keponakannya. Pada saat yang sama, kerusuhan besar pecah di seluruh kota, menjebak Edwin dan keponakannya di dalam sekolah.

Terisolasi dari dunia luar, mereka harus bertahan hidup melawan murid-murid brutal yang kini berubah menjadi ancaman nyata terhadap nyawa mereka.

Film Pengepungan di Bukit Duri tidak hanya menyajikan aksi intens dan mencekam, tetapi juga berani mengupas bagaimana trauma dan kebencian masa lalu terus diwariskan, membentuk masyarakat yang rapuh dan penuh dendam.

Sebuah pengingat pahit bahwa luka sejarah yang tak pernah diselesaikan dapat menjadi racun yang menghancurkan masa depan.

Seperti kalimat yang tercantum dalam deskripsi final trailer Pengepungan di Bukit Duri di kanal YouTube Come and See Pictures:

"Negara kita itu kayak kaca yang tipis, kalau kita tidak melakukan apa-apa, maka tunggu pecahnya. Kita sedang tidak baik-baik saja."

Sebuah pernyataan sederhana namun kuat, menggambarkan betapa rapuhnya kehidupan sosial yang berdiri di atas ketidakadilan.

Editor : Matlaul Ngainul Aziz
#film terbaru #Pengepungan di Bukit Duri #joko anwar