Radar Tulungagung - Sutradara kenamaan Joko Anwar kembali menggebrak industri film Indonesia lewat karya terbarunya, film Pengepungan di Bukit Duri.
Film Pengepungan di Bukit Duri menjadi bukti bahwa Joko Anwar adalah salah satu sineas paling visioner di Indonesia saat ini.
Film Pengepungan di Bukit Duri merupakan Film Indonesia bergenre thriller yang yang Tak hanya menampilkan aksi menegangkan, tapi juga menggambarkan perjuangan moral dan etika di tengah krisis sosial yang memuncak. Berikut beberapa fakta menarik tentang film Pengepungan di Bukit Duri:
1. Jejak Tragedi Mei 1998
Tak hanya soal kekerasan remaja, film Pengepungan di Bukit Duri juga menyentuh tragedi sejarah: kerusuhan Mei 1998.
Melalui simbol-simbol seperti siaran radio 98.05 FM dan dinamika antar karakter, film ini mengangkat dampak kerusuhan tersebut terhadap masyarakat Tionghoa di Indonesia.
Tanpa terasa menggurui, Joko Anwar mengajak penonton merenungkan bagaimana trauma masa lalu bisa membentuk masa depan.
2. Kolaborasi Bersejarah dengan Hollywood
Siapa sangka, film ini menjadi proyek perdana Amazon MGM Studios dengan rumah produksi Asia Tenggara untuk film layar lebar.
Pengepungan di Bukit Duri Come and See Pictures bekerjasama dengan Amazon MGM Studios. Hal ini menjadi bukti bahwa sinema Indonesia kini dilirik serius oleh pelaku industri global.
Kerja sama ini membuka peluang besar bagi sineas lokal untuk menembus pasar internasional dengan standar produksi kelas dunia.
3. Penuh Peringatan: Konten Kekerasan dan Konflik Rasial
Sejak opening sequence, film ini sudah menyajikan adegan yang intens dan mengganggu. Tidak heran jika sebelum film dimulai, penonton diberi trigger warning.
Pengepungan di Bukit Duri memuat materi kekerasan, bullying, dan konflik rasial yang bisa terasa terlalu keras bagi sebagian penonton.
Joko Anwar tampaknya tidak segan mengajak penonton melihat wajah keras dari realitas sosial.
4. 2007 dan 2027
Menariknya, naskah film ini sudah mulai ditulis sejak tahun 2007, dan proses riset dimulai pada 2002. Namun, latar waktu film justru ditempatkan di tahun 2027.
Menurut Joko, ini dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa jika masalah sosial seperti diskriminasi dan kebencian terus dibiarkan, masa depan bisa jadi jauh lebih kelam. Film ini menjadi semacam peringatan dini lewat kisah fiksi yang terasa sangat nyata.
5. Lokasi Syuting: Jakarta Timur Rasa Bandung
Meski berlatar di Jakarta Timur, syuting film ini justru dilakukan di Bandung, tepatnya di bangunan bersejarah Laswi Heritage.
Sekolah tempat sebagian besar aksi berlangsung dibangun dari nol selama dua bulan, dan total ada 22 titik lokasi syuting yang digunakan. Hasilnya, suasana kelam dan tertutup dari SMA Duri berhasil menciptakan atmosfer yang mendukung cerita.
Pengepungan di Bukit Duri bukan hanya tontonan penuh ketegangan, tapi juga refleksi mendalam tentang luka sejarah dan masa depan sosial kita. Siap-siap dibuat berpikir, merasa, dan mungkin juga bertanya: apakah kita sudah belajar dari masa lalu?
Editor : Matlaul Ngainul Aziz