RADAR TULUNGAGUNG - Kisah perjalanan meriam Banteng Blorok pada masa revolusi kemerdekaan ternyata tak hanya bisa diketahui dalam format tulisan.
Adalah Film berjudul Penjeberangan yang diproduksi pada tahun 1963 merupakan salah satu karya layar lebar yang mengangkat kisah perjuangan Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) pada masa Revolusi Kemerdekaan.
Cerita utamanya berpusat pada usaha mengawal dan menyebrangkan meriam Banteng Blorok, sebuah artileri medan buatan Bofors Swedia yang perannya sangat menentukan dalam pertempuran melawan Belanda.
Baca Juga: Meriam Banteng Blorok Pernah Terlibat Tiga Pertempuran di Tulungagung, Di Mana Saja?
Sejak awal film, penonton dibawa pada suasana mencekam di awal 1949 ketika pasukan TRIP Jawa Timur bersama Tentara Republik Indonesia (TRI, cikal bakal TNI) mendapat mandat membawa meriam Banteng Blorok dari wilayah Trenggalek menuju Malang.
Tantangan terbesar adalah penyeberangan Kali Brantas yang tidak hanya berhadapan dengan arus deras, tetapi juga ancaman mata-mata dan serangan pasukan Belanda.
Beberapa korban jiwa pun jatuh sebelum meriam itu akhirnya berhasil diseberangkan dan kemudian dipakai menggempur Belanda di Malang.
Film ini menghadirkan tokoh fiktif Sampurno (diperankan Wahab Abdi) dan Puji (Ismed M. Noor), dua anggota TRIP yang ditugaskan menjemput sekaligus memastikan perjalanan meriam berjalan lancar.
Melalui keduanya, film tidak hanya menampilkan aksi militer, tetapi juga menggali sisi sosial masyarakat pada masa revolusi: kegelisahan, semangat kepahlawanan, hingga cita-cita tentang arti kemerdekaan.
Menariknya, Penjeberangan tidak sepenuhnya mengglorifikasi heroisme pada masa revolusi kemerdekaan.
Baca Juga: Ajarkan Semangat Nasionalime, Inilah Serat Tripama Karya KGPAA Mangkunegara IV
Pada bagian akhir, film memperlihatkan bagaimana Sampurno dan Puji, dua prajurit muda yang sering tampil sok gagah, justru mengalami ketakutan luar biasa saat pertempuran sesungguhnya bahkan sampai terkencing-kencing sebelum akhirnya tewas.
Adegan ini menyentil sisi manusiawi seorang pejuang: bahwa di balik semangat revolusi, ada juga rasa takut, rapuh, dan tragis.
Secara sinematografi, Penjeberangan mencerminkan gaya film Indonesia era 1960-an dengan tempo lambat, dialog padat, dan penekanan pada pesan moral.
Namun, kekuatan utama film ini justru terletak pada keberaniannya mengangkat peristiwa sejarah nyata—kisah perjalanan meriam Banteng Blorok yang mungkin jarang diketahui publik.
Baca Juga: 5 Monumen di Tulungagung yang Sarat Sejarah, Wajib Dikunjungi saat Perayaan HUT Kemerdekaan RI
Film ini menempatkan TRIP sebagai aktor penting dalam revolusi, sekaligus menunjukkan bahwa perjuangan bukan hanya milik tentara reguler, melainkan juga kaum muda dan pelajar.
Hingga kini, Penyeberangan bisa dibaca sebagai upaya sinema Indonesia pasca-revolusi untuk mengabadikan memori kolektif tentang perlawanan rakyat.
Film ini tidak hanya menuturkan kisah heroik, tetapi juga menghadirkan nuansa realisme sosial, bahwa kemerdekaan diperoleh melalui pengorbanan nyata—darah, air mata, dan bahkan ketakutan para pejuang muda yang akhirnya gugur.
Editor : Dharaka R. Perdana