RADAR TULUNGAGUNG – Setelah digelar technical meeting (TM), semangat para peserta RaTu Film Festival (RFF) 2025 mendapat sorotan positif dari para juri.
Salah satunya datang dari penulis film sekaligus sutradara ternama, Endik Koeswoyo, yang tahun ini tetap dipercaya menjadi dewan juri RFF 2025.
Baca Juga: Perjalanan Panjang Tim Lagi Film dari Madura Terbayar Lunas, Sabet Dua Penghargaan di RFF 2024
Endik menilai kehadiran 29 tim yang mengikuti TM bukan sekadar bukti tingginya minat sineas muda terhadap dunia perfilman, melainkan juga menunjuk kan keberlanjutan komunitas kreatif di Tulungagung dan sekitarnya.
“Kalau saya lihat, antusiasmenya luar biasa. Ada yang tahun lalu ikut, lalu absen, tahun ini kembali ikut lagi. Itu mem buktikan bahwa gairah membuat film masih terus hidup,” ujarnya.
Baca Juga: RaTu Film Festival 2025 Bakal Seru, 29 Tim Sudah Jalani Technical Meeting
Menurut pria kelahiran Blitar ini, ke depan RFF punya potensi menjadi pusat pergerakan perfilman di Jawa Timur bagian selatan, bahkan tidak menutup kemungkinan berkembang menjadi festival berskala nasional.
“Kalau di Jawa Tengah ada Jogja, di Jawa Timur kita punya Tulungagung. Ini bisa jadi pemacu, apalagi dengan dukungan Radar Tulungagung dan sponsor lainnya. Harapannya, RFF mampu menjadi festival film terbesar di Jawa Timur,” katanya.
Baca Juga: Munculnya Bibit Unggul dalam Perfilman, Ratu Film Festival (RFF) 2024
Endik juga menyoroti peluang pengembangan format festival di masa mendatang. Dia bahkan menggagas ide agar RFF edisi berikutnya menilai film-film nasional yang tayang di bioskop Tulungagung.
“Bayangkan kalau setiap film nasional yang tayang di sini dinilai masyarakat dan dewan juri. Akan muncul penghargaan otentik dari Tulungagung, misalnya aktor terbaik, film terbaik, hingga cerita terbaik versi RFF,” jelasnya.
Baca Juga: Nggreweli Menerima Anugerah RFF 2024, Sineas Muda Berbakat Terus Bermunculan
Terkait tema RFF tahun ini, “Car(e)nifall: Merayakan Tidak Hilangnya Kepedulian”, Endik menilai isu sosial tersebut sangat tepat untuk menggugah kepekaan sineas muda.
“Tema ini menarik, karena dekat dengan realitas masyarakat. Teman-teman filmmaker, baik pelajar maupun umum, pasti mampu mengolahnya menjadi karya yang menyentuh,” ungkapnya.
Sebagai penulis film yang telah menggarap sejumlah karya layar lebar dan serial untuk platform digital, Endik mengaku penasaran dengan karya para peserta.
“Saya selalu menantikan cerita-ce rita baru yang unik. Dari tahun ke tahun selalu ada kejutan, walaupun kadang masih ada kendala teknis seperti audio atau editing. Tapi itu wajar, yang terpenting semangat bercerita mereka tidak hilang,” tambahnya.
Dengan dukungan para juri berpengalaman, RFF 2025 diharapkan tidak hanya menjadi ajang kompetisi film, tetapi juga wadah belajar sekaligus ruang kolaborasi bagi sineas muda di Tulungagung dan sekitarnya. ****
Editor : Dharaka R. Perdana