RADAR TULUNGAGUNG - Fenomena gerhana bulan total atau blood moon yang berakhir pada Senin dini hari (8/9/2025) benar-benar luar biasa.
Masyarakat di seluruh penjuru Indonesia terlihat antusias melihat fenomena gerhana bulan total yang terhitung cukup langka ini.
Bahkan tua maupun muda rela begadang alias melekan untuk menyaksikan dan memotret bulan merah untuk diunggah di media sosial.
Sejarawan M. Dwi Cahyono dalam unggahannya di Facebook menggambarkan nuansa malam ketika terjadi Blood Moon menjadi fenomena alam yang terbaik, meski kala itu bulan terlihat berdarah dan ada suasana yang hadir terasa mencekam.
Suasana yang demikian itu laksana gundah hati lantaran duka asmara atau kerinduan yang tak terhingga.
Fenomena Bulan Merah (Blood Mood) tak pelak menginspirasi sejumlah musisi untuk oleh kreasi menggubah lirik lagu sendu yang juga diberinya judul "Bulan Merah".
Berikut empat lagu berjudul Bulan Merah beserta musisinya.
1. Toto Salmon (2006).
Bulan merah di angkasa raya
Menerangi alam mayapada
Bintang kemilau mengedip manja
Cantik nian alami
Namun hati tak seindah malam
Kar'na kau tiada di sisiku
Andai kudapat terbang ke awan '
Kan kujemput, kusayang
Baca Juga: Fenomena Gerhana Bulan Memasuki Fase Awal, Begini Penjelasan Ilmiahnya
Ho, bulan merah
Adakah dia di sana
Bagai diriku saat ini
Dilamun duka dan lara
Ho, bulan merah
Ceritakan kepadanya
Setiap saat kumenunggu
Bila kasihku kembali
2. Acil Bimbo
Di lengkung puncak bukit
Cemara yang tegak sendiri
Diterpa badai kelam
Kelam jatuh di bumi
Bulan merah di langit
Yang biru kelabu
Berhembus badai di hati
Kelam sendu
Badai kan reda
Langit kan cerah
Tegar tegar tegar
3. Conny Dio.
Malam yang diam tiada beranjak
Bulan merah meremang
Hati tersentak tiada percaya
Engkau perankan dusta
Reff:
Malam pun kelam seperti mengerti
Dua hati gagal bersatu
Sunyi disini menjadi saksi
Dari perpisahan kita
Anak manusia tertunduk pilu
Atas duka yang ada
Malam pun kelam sperti mengerti
Dua hati gagal bersatu
Sunyi disini menjadi saksi
Dari perpisahan kita
4. Tom Misch
[Intro]
(Bulan merah) Katakan padaku
Bagaimana cara memperbaikinya
(Bulan merah) Karena aku biru seperti
langit
(Bulan merah) Ya, aku tersesat,
Maukah kau bersinar malam ini?
(Bulan merah) Aku tahu
Aku membutuhkannya
[Verse 1]
Bisakah kau mengubah hatinya?
Bisakah kau mengubah pikirannya?
Bisakah kau bergerak untukku
Seperti kau menggerakkan ombak?
Bisakah kau mengubah bintang-bintang?
Bisakah kau memperbaikinya?
Aku tahu aku membutuhkannya
Selain keempat lagu itu, ada pula lagu yang berjudul "Bulan Merah", yang dinyanyikan oleh Utha Likumahua dan Herdden Music.
Tergambar bahwa fenomena "Bukan Merah" menjadi sumber inspirasi bagi seniman dalam menggubah lirik lagu.
Dwi Cahyono melanjutkan, Lirik dari empat lagu itu menggambarkan tentang kesenduan hati. Purnama yang seharusnya bercahaya terang, lantaran gerhana total, menjadikan cahaya terang keperakannya men- jadi merah kelam.
"Serupa itu, ceria hati berubah sendu, terbaluti oleh nestapa yang mengharu biru. Bulan merah adalah nuansa alam yang oleh seniman mususi dijadikan sebagai gambaran psikologis mengenai hari yang sendu," jelasnya.
Meski malam jelang tengah malam hingga dini pagi ini purnana bulan dilanda "gerhana total" hingga menjadi "Bulan Darah", namun berharap hati kita tak tengah dalam duka nestapa, tidak dalam kesenduan. "Kalaupun sendu, tak terlalu lama itu berlangsung, segera tergantikan oleh kecerahan," tandasnya. ****
Editor : Dharaka R. Perdana