RADAR TULUNGAGUNG - Festival musik tahunan Pestapora 2025 kembali digelar meriah, namun tak lepas dari sorotan tajam publik.
Digelar di Jakarta, event musik Pestapora 2025 yang berdurasi tiga hari ini menyuguhkan konsep segar “Bertukar Lagu Antar Musisi”,
Namun Pestapora 2025 juga diwarnai aksi boikot dari sejumlah artis terkait keberadaan sponsor PT Freeport Indonesia.
Pestapora 2025 memperkenalkan konsep unik yang belum pernah ada di festival musik tanah air. Para musisi tampil dengan membawakan lagu milik artis lain, menciptakan kejutan dan nuansa baru di setiap panggung.
Seperti Slank membawakan lagu Sal Priadi, Juicy Luicy meng-cover lagu-lagu era Peterpan, dan kolaborasi Iwan Fals dan Ebiet G. Ade yang membuat ribuan penonton larut dalam nostalgia
Untuk pertama kalinya, jadwal Pestapora diubah menjadi pukul 08.00–20.00 WIB, berbeda dari tahun sebelumnya yang berlangsung hingga malam larut.
Baca Juga: Festival Woodstock 1969, Konser Musik Terbesar yang Menorehkan Sejarah
Pestapora 2025 sempat diguncang kontroversi setelah diketahui menjalin kerja sama dengan PT Freeport Indonesia sebagai salah satu sponsor utama.
Sejumlah musisi seperti Yacko, The Panturas, dan beberapa band indie memilih mundur atau berdonasi penuh dari honor mereka sebagai bentuk protes terhadap perusahaan tambang tersebut.
Tekanan publik akhirnya membuat penyelenggara memutuskan mengakhiri kerja sama dengan Freeport pada hari kedua festival.
“Kami mendengar aspirasi penonton dan musisi. Demi menjaga semangat positif, kami resmi mencabut sponsorship tersebut,” ujar Kiki Ucup, penggagas Pestapora.
Meski diterpa badai kritik, banyak juga musisi yang menunjukkan solidaritas positif, seperti Ari Lasso yang tampil membakar semangat penonton dan memberi dukungan pada penyelenggara.
Selain itu beberapa band mendonasikan penjualan merchandise untuk mendukung gerakan lingkungan. Apalagi penampilan kolaboratif lintas genre sebagai bentuk kekuatan komunitas musik
Pestapora 2025 sukses menciptakan warna baru dalam skena festival musik Indonesia. Di balik sorotan panggung yang gemerlap, terselip dinamika sosial dan solidaritas yang membuat acara ini tak hanya jadi hiburan, tapi juga perbincangan hangat nasional. ****
Editor : Dharaka R. Perdana