RADAR TULUNGAGUNG – Kabar gembira datang bagi para pecinta film horor-komedi Tanah Air. Sutradara sekaligus komedian multitalenta, Bayu Skak, secara resmi mengumumkan dimulainya proses syuting untuk sekuel film fenomenalnya, Sekawan Limo 2: Gunung Klawih.
Pengumuman ini menyusul kesuksesan luar biasa film pertama Sekawan Limo yang berhasil memikat hati lebih dari 2,5 juta penonton di seluruh Indonesia, menegaskan kembali daya tarik unik dari karya-karya Bayu Skak di kancah perfilman nasional.
Pencapaian ini membuktikan bahwa kombinasi horor yang mencekam dengan humor khas Jawa Timur menjadikannya salah satu film paling ditunggu kelanjutannya.
Baca Juga: Sutradara Endik Koeswoyo Menilai Positif RaTu Film Festival 2025, Begini Pendapatnya
Informasi mengenai proyek Sekawan Limo 2 ini disebarkan langsung oleh Bayu Skak melalui akun Instagram pribadinya, @moektito, pada Selasa, 10 September 2025.
Dalam video singkat yang diunggahnya, Bayu memperlihatkan cuplikan proses reka adegan bersama tim produksi.
Ia dan krunya tampak berupaya keras untuk menemukan angle dan shot yang paling tepat demi menghidupkan setiap momen dalam film.
Sebuah detail menarik yang diungkapkan Bayu adalah latar cerita untuk sekuel ini tidak akan lagi menggunakan gunung pendakian, berbeda dari film pertamanya yang ikonik.
Perubahan latar ini mengisyaratkan eksplorasi elemen horor yang segar dan berbeda, menjanjikan kejutan bagi para penonton.
Meskipun detail alur cerita untuk Sekawan Limo 2 masih dirahasiakan rapat-rapat, Bayu Skak telah menjanjikan bahwa film ini akan menyajikan pengalaman yang benar-benar berbeda dari pendahulunya.
“Pastinya beda. Ini koplak pol. Dan juga pesan moralnya sangat dalam. Kamu dibuat ketawa tetapi ada juga intisari yang bakal kamu bawa pulang,” ujar Bayu, mengutip perkataannya dalam video tersebut.
Janji ini mengisyaratkan bahwa meskipun elemen komedi khas Bayu Skak akan tetap kental, kedalaman narasi dan pesan moral akan menjadi fokus utama.
Film Sekawan Limo yang pertama bercerita tentang lima orang yang memutuskan untuk mendaki Gunung Madyopuro.
Namun, dalam perjalanan mereka, kelima pendaki ini dengan sengaja mengabaikan pantangan-pantangan lokal yang diyakini menjaga kesakralan gunung tersebut.
Akibat pelanggaran aturan tak tertulis tersebut, mereka mulai mengalami serangkaian teror mistis yang menguji keberanian dan akal sehat mereka.
Puncak ketegangan terjadi ketika secara perlahan terungkap sebuah fakta mengejutkan: ternyata salah satu dari lima pendaki tersebut bukanlah manusia, menambah lapisan horor yang mendalam pada cerita.
Meskipun alur ceritanya didominasi nuansa horor yang mencekam, film Sekawan Limo tetap tidak kehilangan identitasnya dengan menyematkan humor segar khas Bayu Skak yang mampu meredakan ketegangan dan membuat penonton tertawa di tengah rasa takut.
Formula ini terbukti efektif dalam menarik minat penonton dan menjadi salah satu faktor kunci kesuksesannya.
Salah satu ciri khas yang telah menjadi identitas kuat dari film-film garapan Bayu Skak adalah konsistensinya dalam menggunakan bahasa daerah sebagai medium utama dialog.
Terutama, dialek Malangan seringkali menjadi pilihan utamanya. Konsistensi ini bukan hal baru; sejak film Yowis Ben pada tahun 2018, hingga Sekawan Limo di tahun 2024, Bayu Skak secara teguh mempertahankan kekayaan bahasa lokal dalam setiap karyanya.
Pendekatan ini tidak hanya memberikan sentuhan autentisitas yang mendalam pada cerita dan karakter, tetapi juga menjadi jembatan bagi penonton untuk lebih mengenal dan mengapresiasi keragaman budaya dan bahasa di Indonesia.
Selain sedang dalam tahap syuting untuk Sekawan Limo 2, Bayu Skak juga diketahui tengah mempersiapkan proyek film lainnya yang berjudul FOUFO.
Menariknya, dalam film FOUFO ini, Bayu Skak akan menampilkan bahasa Madura sebagai bahasa utama, menunjukkan keberaniannya untuk terus mengeksplorasi dan mengangkat berbagai bahasa daerah lainnya ke layar lebar.
Baca Juga: Film Jumbo Duduki Puncak Box Office Film Indonesia 2025. Kalahkan Sederet Film Horor
Konsistensi Bayu Skak dalam menggunakan bahasa daerah dalam karya-karyanya membuktikan sebuah premis penting: bahwa film berbahasa daerah memiliki pasar dan penikmat yang patut diperhitungkan.
Upayanya dianggap sebagai langkah penting dalam memperkenalkan keragaman bahasa di Indonesia melalui medium film, tidak hanya sebagai tontonan, tetapi juga sebagai sarana edukasi dan pelestarian budaya.
Dengan hadirnya dua proyek terbarunya, yaitu Sekawan Limo 2: Gunung Klawih dan FOUFO, diharapkan mampu mengobati kerinduan para penggemar film berbahasa daerah di Tanah Air.
Film-film ini diharapkan dapat kembali menyajikan perpaduan unik antara humor, horor, dan nilai moral yang mendalam, sekaligus menginspirasi sineas lain untuk lebih berani mengangkat kekayaan budaya lokal ke kancah perfilman nasional dan internasional. ****
Editor : Dharaka R. Perdana