Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Jenis Musik Asli Indonesia Ini Masih Tetap Menggema di Era Modernisasi

Sandy Sri Yuwana • Sabtu, 1 November 2025 | 06:02 WIB
Pemain musik keroncong sedang beraksi
Pemain musik keroncong sedang beraksi

RADAR TULUNGAGUNG – Di tengah maraknya musik digital dan tren global, keroncong tetap berdiri anggun sebagai saksi perjalanan panjang musik Indonesia. Dentingan ukulele, petikan cello, dan gesekan biola dalam tempo lambat menghadirkan nuansa nostalgia yang khas, seolah membawa pendengar kembali ke masa lalu yang penuh cerita.

Musik keroncong dikenal lahir dari akulturasi budaya. Berawal dari musik Portugis yang dibawa ke Nusantara pada abad ke-16, keroncong kemudian berbaur dengan cita rasa lokal hingga melahirkan identitas baru yang sangat Indonesia.

Dari sinilah lahir legenda-legenda musik keroncong seperti Gesang, Waljinah, hingga Sundari Soekotjo yang menjaga kemurnian sekaligus keindahan genre ini.

Meski sering disebut musik “tempo dulu”, keroncong tak pernah benar-benar hilang. Di berbagai daerah, termasuk Tulungagung dan sekitarnya, kelompok musik keroncong masih aktif berlatih dan tampil di acara-acara budaya, pernikahan, hingga pentas sekolah.

Bahkan, beberapa generasi muda mulai tertarik memadukan keroncong dengan sentuhan modern, menciptakan warna baru yang segar tanpa menghilangkan roh tradisinya.

“Suara keroncong itu menenangkan. Ada rasa yang tak bisa dijelaskan, seperti pulang ke rumah,” ujar salah satu penggemar musik keroncong di Tulungagung. Ia menilai, musik ini memiliki daya tarik emosional yang kuat, terutama bagi pendengar yang merindukan suasana klasik penuh makna.

 

Dalam perkembangannya, keroncong juga mengalami banyak transformasi. Ada keroncong asli yang tetap mempertahankan format klasik, langgam Jawa yang lebih lembut dan puitis, serta keroncong pop yang mencoba menjangkau generasi baru. Musisi muda bahkan mulai menampilkan keroncong dalam versi digital, lengkap dengan aransemen elektronik ringan agar bisa diterima telinga masa kini.

Namun di balik segala perubahan itu, esensi keroncong tetap sama: musik yang lahir dari perasaan, dimainkan dengan kelembutan, dan dinikmati dengan hati. Ia bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari warisan budaya bangsa yang perlu dijaga.

 

Seperti nada-nada yang bergulir pelan di antara senar gitar dan biola, keroncong mengajarkan ketenangan di tengah hiruk pikuk zaman. Selama masih ada yang mau mendengar, keroncong akan tetap hidup — menjadi suara lembut yang tak pernah padam dalam sejarah musik Indonesia.

Editor : Sandy Sri Yuwana
#tulungagung hari ini #Keroncong Asli #musik