RADAR TULUNGAGUNG – Kabar duka datang dari dunia musik Tanah Air. Ecky Lamoh meninggal dunia pada Minggu (30/11) dini hari setelah beberapa hari menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Sardjito Yogyakarta.
Informasi mengenai kepergian mantan vokalis legendaris Edane dan Elpamas ini pertama kali diumumkan melalui akun Instagram EdOfficial dan segera mengundang perhatian para penggemar rock Indonesia.
Kabar Ecky Lamoh meninggal dunia dikonfirmasi langsung oleh Chavis, perwakilan manajemen Edane.
Menurutnya, kabar itu diterima dari anak Ecky, Poha Ariani, yang menyampaikan bahwa kondisi sang ayah menurun drastis menjelang akhir masa perawatan.
Dokter menyatakan Ecky berpulang sekitar pukul 02.15 WIB. Konfirmasi ini seketika membuat publik, terutama pencinta musik rock, terkejut dan berduka.
Dalam pernyataannya, Chavis menuturkan bahwa Ecky Lamoh meninggal dunia akibat komplikasi yang ia derita belakangan ini.
“Betul, Ecky meninggal dunia. Diinfokan langsung dari anaknya,” ujar Chavis saat dihubungi wartawan.
Jenazah Ecky rencananya disemayamkan terlebih dahulu di rumah duka RS Panti Rapih Yogyakarta sebelum dimakamkan oleh keluarga besar.
Perjalanan Hidup dan Karier Rock Sang Legenda
Nama asli Ecky adalah Alexander Tiedor Lamoh, lahir di Jakarta pada 13 Juli 1961.
Ia dikenal sebagai salah satu vokalis rock dengan karakter vokal paling unik di Indonesia.
Suara tinggi, serak, dan bertenaga membuatnya mudah dikenali, bahkan sejak awal kemunculannya di panggung musik era 1980–1990-an.
Nama “Ecky” berasal dari panggilan masa kecilnya. Alexander kecil awalnya dipanggil “Leki”.
Namun karena belum bisa melafalkan namanya sendiri dengan benar, panggilan itu berubah menjadi “Ecky”, yang kemudian dikenal publik hingga akhir hayatnya.
Sementara “Lamoh” merupakan marga keluarga besarnya dari Minahasa, Sulawesi Utara.
Karier Ecky panjang dan penuh warna. Ia pertama kali dikenal publik sebagai vokalis Elpamas, grup rock legendaris yang banyak mengisi panggung musik nasional pada era keemasan rock Indonesia.
Bersama Elpamas, Ecky tampil dengan gaya lantang dan ekspresif yang menjadikannya salah satu ikon rock Tanah Air.
Namanya semakin melambung ketika ia bergabung dengan Edane, band rock papan atas Indonesia yang dikenal dengan suara gitar cadas dan aksi panggung spektakuler.
Masuknya Ecky sebagai vokalis membuat identitas musik Edane kian kuat.
Karakter vokalnya menjadi ciri khas tersendiri, sekaligus menambah daya dobrak band tersebut di industri musik Indonesia.
Tak hanya berkarier bersama band, Ecky juga dikenal sebagai penyanyi solo. Vokalnya yang kuat dan unik membuat banyak musisi muda menaruh hormat padanya.
Selama puluhan tahun, ia menjadi salah satu figur yang menggambarkan energi rock sejati: intens, emosional, dan selalu total di atas panggung.
Duka Mendalam dari Rekan Sesama Musisi
Kepergian Ecky meninggalkan duka mendalam di kalangan sesama musisi dan para penggemarnya.
Banyak rekan musisi yang mengenangnya sebagai pribadi yang rendah hati, humoris, dan sangat berdedikasi terhadap dunia musik.
Mereka menyebut Ecky sebagai seorang legenda yang tetap setia pada jalur rock hingga akhir hayatnya.
Di media sosial, ucapan belasungkawa mengalir deras. Para penggemar menuliskan kenangan tentang aksi panggung Ecky yang penuh energi, hingga suara seraknya yang khas dan sulit digantikan.
Bagi banyak orang, Ecky bukan hanya vokalis, tetapi simbol dari era rock Indonesia yang berkesan dan penuh semangat.
Warisan Musik yang Tidak Akan Pernah Padam
Meski Ecky Lamoh meninggal dunia, karya dan pengaruhnya akan terus hidup di hati para pencinta musik.
Ia adalah bagian penting dari perjalanan panjang rock Indonesia. Suara, gaya panggung, serta kontribusinya dalam memperkuat identitas musik Edane dan Elpamas menjadi warisan berharga bagi generasi berikutnya.
Kepergian Ecky meninggalkan ruang kosong di dunia musik, namun semangat dan dedikasinya akan tetap menjadi inspirasi bagi para musisi muda.
Ia adalah contoh bahwa karakter suara dan keberanian untuk tampil autentik dapat menciptakan jejak yang tidak lekang oleh waktu.***