Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Avatar: Fire and Ash Dikritik Tajam, Visual Dewa tapi Cerita Daur Ulang, Benarkah Layak Ditonton di IMAX?

Zahrotul Afkarina • Kamis, 18 Desember 2025 | 18:50 WIB
Film terbaru James Cameron, Avatar Fire and Ash, akhirnya tayang dan langsung memicu perdebatan panas di kalangan penonton.
Film terbaru James Cameron, Avatar Fire and Ash, akhirnya tayang dan langsung memicu perdebatan panas di kalangan penonton.

RADAR TULUNGAGUNG - Film terbaru James Cameron, Avatar: Fire and Ash, akhirnya tayang dan langsung memicu perdebatan panas di kalangan penonton.

Judulnya menjanjikan ledakan konflik api, abu vulkanik, dan suku baru yang brutal. Namun, ekspektasi itu tak sepenuhnya terwujud.

Alih-alih menyuguhkan dunia api yang dominan, Avatar: Fire and Ash justru kembali mengajak penonton “berenang” panjang di lautan Pandora.

Sejak menit awal, Avatar: Fire and Ash terasa sebagai lanjutan langsung dari Avatar: The Way of Water.

Cerita dimulai pascakematian Neteyam, anak sulung Jake Sully. Duka mendalam masih membekas di keluarga Sully, terutama pada Jake yang kini tampil lebih protektif dan militeristik terhadap anak-anaknya.

Sementara itu, Lo’ak terus dihantui rasa bersalah atas kematian sang kakak. Neytiri pun mengalami perubahan paling drastis.

Sosok ibu yang dulu penuh empati kini menjelma menjadi figur yang diliputi dendam mendalam terhadap manusia, termasuk Spider, anak angkatnya sendiri.

Konflik emosional inilah yang sebenarnya menjadi tulang punggung Avatar: Fire and Ash.

Cerita Menjanjikan, Setting Kurang Maksimal

Secara konsep, drama keluarga, trauma, dan grief yang diangkat sebenarnya menarik. Sayangnya, janji besar dari judul Fire and Ash tak sepenuhnya ditepati.

Penonton memang diperkenalkan dengan suku baru bernama Mangkwan atau Ash People, sebuah klan Na’vi yang hidup di tanah gersang dan anti terhadap keseimbangan alam.

Namun, kemunculan suku Abu ini terbilang singkat. Fokus cerita hanya sekitar 20–30 menit berada di wilayah mereka.

Selebihnya, narasi kembali ke laut, desa Metkayina, dan Tulkun. James Cameron seolah terlalu jatuh cinta pada elemen air hingga melupakan potensi eksplorasi dunia api yang lebih segar.

Akibatnya, film ini terasa seperti extended cut dari Avatar 2 ketimbang sebuah film baru yang berdiri sendiri.

Bagi penonton yang berharap perang besar berlatar gunung berapi, bersiaplah menurunkan ekspektasi.

Karakter Baru yang Kurang Dieksplor

Baca Juga: Box Office Meledak! Klaim Zootopia 2 Berhasil Menarik 10 Juta Penonton, Cek Fakta dan Angka Aslinya di Sini

Salah satu daya tarik Avatar Fire and Ash adalah hadirnya Parang, pemimpin suku Abu yang diperankan Ona Chaplin.

Desain karakternya mengerikan, dengan kepribadian sadis dan nihilistik. Potensinya sebagai villain ikonik sangat besar.

Sayangnya, Parang hanya menjadi ancaman sampingan. Fokus utama tetap pada Kolonel Quaritch versi Avatar yang kembali diperankan Stephen Lang.

Akting Lang tetap solid, penuh kegilaan dan intensitas. Interaksinya dengan Parang sempat menjanjikan dinamika penjahat yang unik, namun eksplorasinya terasa tanggung.

Jake Sully sendiri masih berkutat pada konflik yang sama: gagal sebagai ayah dan pemimpin.

Dialognya dengan Neytiri pun terasa fungsional dan kaku. Beruntung, Zoe Saldaña kembali menyelamatkan sisi emosional film lewat akting Neytiri yang penuh luka dan amarah.

Visual Level Dewa, Aksi Menyelamatkan Film

Jika bicara visual, Avatar Fire and Ash nyaris tak tersentuh kritik. CGI-nya begitu realistis hingga penonton lupa bahwa yang ditonton adalah dunia buatan.

Tekstur kulit, ekspresi wajah, pencahayaan, hingga komposisi gambar berada di level tertinggi teknologi sinema saat ini.

Puncaknya ada di satu jam terakhir. Adegan aksi besar di udara, laut, dan bawah air dirangkai dengan rapi tanpa membingungkan.

James Cameron sekali lagi membuktikan keahliannya mengatur kekacauan visual yang tetap mudah diikuti.

Meski begitu, ada catatan kecil soal frame drop yang sesekali terlihat, terutama jika tidak menonton dalam format IMAX 3D.

Namun kekurangan teknis ini tidak sampai merusak pengalaman menonton secara keseluruhan.

Menang di Mata, Kalah di Hati

Secara keseluruhan, Avatar Fire and Ash adalah film yang menang telak secara visual, tetapi kalah dalam urusan cerita.

Plotnya terasa repetitif, pacing di bagian tengah lambat, dan eksplorasi suku api terlalu minim. Durasi lebih dari tiga jam pun terasa berlebihan karena banyak adegan yang sebenarnya bisa dipangkas.

Film ini jelas berfungsi sebagai jembatan menuju Avatar 4. Ending-nya menggantung dan tidak memberi kepuasan naratif.

Namun, bagi penonton yang ingin merasakan pengalaman visual paling megah di layar lebar, film ini tetap layak ditonton, terutama di IMAX 3D.

Kesimpulannya, Avatar Fire and Ash adalah definisi film “menang di mata, kalah di hati”. Sebuah pencapaian teknis luar biasa, namun dengan cerita yang terasa malas dan berulang.***

Editor : Vidya Sajar Fitri
#Avatar Fire and Ash kapan tayang #IMAX 3D #Avatar Fire and Ash #avatar #james cameron #Imax