RADAR TULUNGAGUNG - Roby Tremonti buka suara soal Broken Strings setelah namanya ramai diseret dalam pusaran polemik buku karya Aurelie Moeremans yang tengah viral.
Pesinetron tersebut merasa terusik dengan berbagai narasi di media sosial yang mengaitkan dirinya dengan kisah dalam buku Broken Strings, meski hingga kini tidak ada pernyataan resmi yang menyebut identitas asli sosok “Bobby”.
Melalui siaran langsung di Instagram, Roby Tremonti buka suara soal Broken Strings dan menyampaikan klarifikasi panjang.
Ia mengaku selama bertahun-tahun memilih diam, namun kini merasa perlu berbicara karena namanya kembali menjadi sasaran opini publik yang dinilainya tidak berdasar.
Dalam penjelasannya, Roby Tremonti buka suara soal Broken Strings dengan menegaskan bahwa dirinya tidak bisa terus-menerus diam ketika reputasinya diserang melalui isu sensitif, termasuk tuduhan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
Merasa Diseret Masa Lalu
Roby Tremonti mengakui bahwa dirinya memang pernah memiliki hubungan dengan seorang perempuan keturunan Jawa-Belgia di masa lalu.
Namun, ia menilai hubungan tersebut kini kembali diungkit dan dipelintir seiring rilisnya buku Broken Strings.
Menurut Roby, selama 16 tahun terakhir, ia memilih tidak menanggapi berbagai tudingan dan hinaan yang dialamatkan kepadanya.
Ia mengklaim sikap diam itu diambil untuk menghindari konflik dan kegaduhan publik. Namun kali ini, ia merasa situasinya sudah berbeda.
“Selama ini saya diam, dihina, diinjak-injak tanpa bukti. Sekarang malah muncul isu KDRT. Mana buktinya?” ujar Roby dalam siaran langsungnya.
Bantah Isu KDRT
Salah satu poin yang paling ditekankan Roby adalah bantahan terhadap tuduhan KDRT.
Ia menyebut tudingan tersebut muncul tanpa dasar yang jelas dan hanya berupa opini liar di media sosial.
Roby mempertanyakan relevansi tuduhan yang baru mencuat setelah bertahun-tahun berlalu.
Ia menegaskan bahwa jika memang ada bukti hukum, seharusnya sudah muncul sejak lama, bukan baru ramai ketika isu Broken Strings mencuat.
Singgung Isi Buku Broken Strings
Dalam live Instagram tersebut, Roby juga menyinggung buku Broken Strings yang ditulis Aurelie Moeremans.
Ia mempertanyakan proses penulisan buku yang dilakukan saat penulisnya berada di luar negeri.
Roby bahkan menuding buku tersebut bukan sepenuhnya ditulis oleh sang penulis, melainkan menggunakan bantuan pihak lain.
Ia menilai gaya bahasa dan pilihan kata dalam buku tersebut terasa “terlalu rapi” dan tidak mencerminkan pengalaman personal secara langsung.
Meski begitu, Roby tidak secara eksplisit menyebut bahwa dirinya adalah sosok “Bobby” dalam buku tersebut.
Hingga saat ini, memang belum ada keterangan resmi dari pihak Aurelie Moeremans mengenai identitas asli tokoh yang disebut melakukan grooming dalam buku Broken Strings.
Tuduhan Cancel Culture
Roby Tremonti juga menyinggung soal cancel culture. Ia merasa namanya sengaja disudutkan dan disebarkan kebencian agar publik membencinya tanpa klarifikasi yang seimbang.
Ia mengaku heran mengapa opini publik dengan mudah terbentuk hanya dari potongan narasi di media sosial, tanpa menunggu kejelasan fakta atau pernyataan resmi dari pihak terkait.
“Seolah-olah ada upaya sistematis untuk bikin saya dibenci,” ucap Roby.
Pertimbangkan Jalur Hukum
Tak berhenti di situ, Roby menyatakan tengah mempertimbangkan langkah hukum terhadap pihak-pihak yang menuding dan menghina dirinya tanpa bukti.
Ia menegaskan siap meminta pertanggungjawaban jika tuduhan tersebut terus bergulir.
Roby menyebut, selama masih ada celah hukum, ia tidak akan ragu memproses secara legal siapa pun yang menyebarkan fitnah atau pencemaran nama baik.
Pernyataan ini menandai sikap baru Roby yang sebelumnya dikenal enggan tampil ke publik untuk membahas urusan pribadi.
Belum Ada Klarifikasi dari Aurelie
Di sisi lain, hingga berita ini ditulis, Aurelie Moeremans belum memberikan klarifikasi terkait pernyataan Roby Tremonti maupun spekulasi publik soal identitas “Bobby” dalam buku Broken Strings.
Polemik ini pun masih berkembang dan menjadi perhatian warganet. Publik kini menunggu kejelasan lebih lanjut dari pihak-pihak terkait agar isu sensitif ini tidak terus bergulir dalam ruang spekulasi.***
Editor : Vidya Sajar Fitri