JAKARTA – Momen emosional menyelimuti para kontestan calon bintang dangdut masa depan. Di sela-sela jadwal kompetisi yang padat, para Akademia D'Academy 7 baru saja menggelar acara nonton bareng (nobar) film terbaru berjudul Rumah Tanpa Cahaya di Studio Cinema Art. Alih-alih sekadar melepas penat, suasana di dalam studio justru berubah menjadi penuh isak tangis saat para akademia menyaksikan alur cerita yang menyentuh hati.
Film Rumah Tanpa Cahaya yang mengangkat tema sentral mengenai peran vital seorang ibu dalam keluarga ini rupanya berhasil mengaduk-aduk emosi para Akademia D'Academy 7. Bagi mereka yang kini tengah berjuang di asrama dan jauh dari keluarga, kisah dalam film tersebut terasa sangat personal dan nyata.
Tasya D'Academy 7: "70 Persen Isinya Bawang"
Salah satu akademia, Tasya, mengungkapkan betapa dalamnya dampak emosional yang ia rasakan. Menurutnya, hampir seluruh penonton di dalam studio tidak mampu membendung air mata. Tasya menyebutkan bahwa kekuatan cerita yang menonjolkan sosok ibu sebagai pilar keluarga menjadi faktor utama yang menguras air mata para Akademia D'Academy 7.
"Paling banyak, sekitar 70 persen kayaknya itu sedih semua, isinya 'bawang' (menangis) gitu. Kita merasa kehilangan sosok paling penting di keluarga dalam cerita itu," ujar Tasya dengan mata yang masih sembab setelah pemutaran film.
Momen ini pun dimanfaatkan Tasya untuk mengirimkan pesan menyentuh kepada ibundanya di rumah. Ia berharap sang ibu selalu diberikan kesehatan dan kekuatan untuk terus mendukung kariernya di panggung megah Indosiar. "Mau sampaiin ke Mama kalau Mama harus sehat selalu, panjang umur, enggak boleh banyak pikiran. Harus semangat terus buat Tasya," tambahnya.
Perpaduan Komedi dan Konflik Keluarga yang Tak Terduga
Berbeda dengan Tasya yang fokus pada sosok ibu, Yusuf merasakan gejolak perasaan yang campur aduk akibat perubahan suasana film yang sangat dinamis. Film Rumah Tanpa Cahaya tidak hanya menyuguhkan kesedihan, tetapi juga bumbu komedi yang segar melalui karakter-karakter unik di dalamnya.
Yusuf menceritakan bagaimana penonton dibawa terbang tinggi dengan tawa, lalu seketika dijatuhkan ke dalam kesedihan yang mendalam. "Dari perpindahan ketawa ke nangis itu rasanya seru banget. Ada salah satu karakter cewek yang lucu banget, bikin ramai suasana warung yang diceritakan hampir bangkrut itu," jelas Yusuf.
Ketegangan antara tawa dan tangis inilah yang membuat para Akademia D'Academy 7 merasa film ini memiliki kualitas penceritaan yang kuat. Transisi emosi yang halus namun menohok membuat pengalaman menonton kali ini menjadi salah satu momen yang paling berkesan bagi mereka selama masa karantina.
Relate dengan Kehidupan Pribadi: Perseteruan Kakak Beradik
Selain unsur kasih sayang orang tua, film ini juga menyoroti dinamika hubungan antar saudara. Hal inilah yang sangat dirasakan oleh Dela, Cantika, Mutya, dan Ferdi. Mereka mengaku melihat cerminan diri mereka sendiri dalam konflik-konflik yang ditampilkan di layar lebar.
Dela dan Cantika, misalnya, menyoroti betapa seringnya terjadi perselisihan kecil antara kakak dan adik yang berujung pada kerinduan saat berjauhan. Mutya dan Ferdi juga menilai alur cerita persaingan antar saudara yang sama-sama keras kepala sangat dekat dengan kehidupan pribadi mereka di dunia nyata.
"Aku paling berkesan itu konflik antar saudara. Itu pernah aku alamin sendiri sama abang aku. Jadi kayak berasa banget di real life," ungkap Dela. Ia menambahkan bahwa adegan saat sesama saudara saling berpelukan dan memaafkan adalah puncak emosinya. "Tadi sedih banget pas sesama saudara itu berpelukan. Jadi tahu kalau sebenarnya kita itu saling sayang meski sering berantem."
Pesan Haru untuk Orang Tua di Rumah
Kegiatan nobar ini bukan sekadar hiburan bagi para Akademia D'Academy 7, melainkan momen refleksi diri. Di akhir acara, suasana berubah menjadi sesi curhat kolektif di mana para akademia mengungkapkan rasa terima kasih mereka kepada orang tua yang telah mendidik mereka hingga mencapai titik ini.
Dela secara khusus menyampaikan pesan penuh cinta untuk ibunya. "Terima kasih sudah menjadi ibu yang baik. Semoga enggak bosan-bosan ngajarin Dela terus. Jaga terus kesehatan di rumah," ucapnya menutup momen nobar tersebut.
Keseruan dan keharuan yang dirasakan para akademia ini menjadi bukti bahwa selain olah vokal, kematangan emosional juga menjadi bagian penting dalam perjalanan mereka menjadi bintang. Pengalaman menonton film Rumah Tanpa Cahaya ini diharapkan dapat menjadi penyemangat tambahan bagi mereka untuk terus berjuang demi membahagiakan keluarga tercinta di kampung halaman.
Editor : Natasha Eka Safrina