RADAR TULUNGAGUNG - Rangkuman Istiqamah Cinta malam ini kembali menyuguhkan konflik emosional yang makin memuncak. Sandiwara Emran demi menyakiti Kansa dan Fatan kian terang-terangan, sementara Funi nekat mengancam demi bisa menjadi istri kedua.
Dalam Rangkuman Istiqamah Cinta malam ini, Emran mulai memainkan peran suami baik dan perhatian. Padahal sebelumnya ia begitu tega menyiksa Kansa secara mental maupun fisik. Perubahan sikap itu ternyata bukan karena penyesalan, melainkan bagian dari rencana besar yang sudah disusun bersama Pak Yuda.
Rangkuman Istiqamah Cinta malam ini menegaskan bahwa tujuan utama Emran tetap sama: menjadikan Kansa sebagai sasaran dendam. Bahkan, ia memanfaatkan Funi sebagai alat untuk melukai hati Kansa. Di sisi lain, Kansa juga dijadikan umpan untuk menyakiti Fatan. Satu langkah, dua hati tersakiti.
Makan Malam Penuh Sandiwara
Emran mengajak Kansa makan di sebuah restoran mewah. Ia bersikap lembut, membelikan gaun putih dan kerudung yang membuat Kansa tampak anggun. Namun di balik penampilan manis itu, tersembunyi niat jahat.
Fatan yang masih trauma karena Kansa pernah dibuang ke hutan, memutuskan mengikuti mereka diam-diam. Ia khawatir Kansa kembali disakiti. Meski sudah dilarang menjaga jarak, Fatan tetap merasa bertanggung jawab melindungi wanita yang ia cintai.
Di restoran, Emran sengaja menunjukkan kemesraan di depan Fatan. Ia menyuapi Kansa, berbicara manis, dan bersikap seolah suami paling perhatian. Padahal itu semua hanya sandiwara untuk memancing kecemburuan Fatan.
Benar saja, Fatan terlihat menahan sakit hati. Namun ia memilih diam sampai Emran mulai bersikap kasar pada Kansa. Saat itulah Fatan tak lagi bisa menahan diri dan siap membela Kansa.
Tekanan Batin Kansa
Meski tampak tegar, Kansa sebenarnya berada dalam tekanan batin luar biasa. Ia bahkan diduga sudah diberi tahu Emran soal rencana menikah lagi dengan Funi, putri dari Dr. Aksan.
Namun Kansa tetap bertahan. Ia memilih sabar dan mencoba menjadi istri berbakti, meski tanpa cinta. Keputusan itu membuat nasibnya kian miris. Ia rela dimadu demi mempertahankan rumah tangga yang sebenarnya dibangun di atas kebohongan.
Yang belum diketahui Kansa, pernikahannya dengan Emran sebenarnya tidak sah. Fakta ini akan menjadi titik balik besar ketika identitas ayah kandung terungkap dan hubungan mereka dinyatakan tidak memenuhi syarat sebagai pasangan sah.
Funi Ancam Bunuh Diri
Di sisi lain, konflik keluarga tak kalah panas. Funi tetap bersikeras ingin menikah dengan Emran meski sudah dilarang keras oleh ayahnya, Dr. Aksan.
Dalam adegan emosional, Funi membantah dan menuding ayahnya lebih peduli pada Kansa daripada dirinya sendiri. Bahkan tersirat ancaman bunuh diri jika pernikahan itu tidak direstui.
Dr. Aksan dengan tegas menyatakan tidak akan merestui hubungan yang salah. Ia menyebut Emran sebagai pria berbahaya yang tidak pantas dijadikan suami. Namun Funi tetap keras kepala, menutup mata terhadap risiko menjadi istri kedua tanpa cinta.
Monika Makin Frustrasi
Sementara itu, Monika juga menunjukkan sisi gelapnya. Ia sudah mempertaruhkan segalanya demi mendapatkan Fatan. Tinggal di rumah Linda pun tak membuat Fatan meliriknya.
Saat Monika datang ke rumah sakit membawa makanan untuk Fatan, ia justru mendapati Fatan pergi demi menemui Kansa. Kekecewaan itu membuat Monika marah dan mulai merencanakan langkah licik berikutnya.
Ancaman Monika kepada Fatan menunjukkan bahwa ia tak akan menyerah begitu saja. Besar kemungkinan ia akan memasang jebakan baru demi mengikat Fatan.
Cinta dan Dendam Beradu
Rangkuman Istiqamah Cinta malam ini memperlihatkan pertarungan antara cinta tulus dan dendam membara. Emran terus menanam luka, sementara Fatan berusaha menjadi pelindung.
Namun semua sandiwara pada akhirnya akan terbongkar. Ketika Kansa mengetahui fakta pernikahan yang tidak sah, posisi Emran akan semakin terpojok.
Publik kini dibuat penasaran: akankah Kansa akhirnya meninggalkan Emran? Apakah Funi tetap nekat menikah tanpa restu? Dan mampukah Monika menjebak Fatan?
Jawaban dari konflik rumit ini dipastikan akan membuat episode selanjutnya semakin emosional dan penuh kejutan.
Editor : Edo Trianto