RADAR TULUNGAGUNG - Hiroshi Aoyama menjadi sorotan setelah menunjukkan ekspresi frustrasi di garasi Honda Team Asia usai Veda Ega Pratama gagal menembus Q2 Moto3 Catalunya 2026. Kegagalan tersebut diduga bukan disebabkan performa pembalap, melainkan masalah teknis pada motor yang membuat Veda harus memulai balapan dari posisi ke-21.
Nama Hiroshi Aoyama mendadak ramai diperbincangkan setelah kamera televisi menangkap reaksinya saat sesi kualifikasi Moto3 Catalunya 2026 berlangsung.
Manajer Honda Team Asia itu terlihat tidak puas dengan hasil yang diraih Veda Ega Pratama meskipun pembalap muda Indonesia tersebut telah berjuang maksimal sepanjang sesi Q1.
Situasi ini memunculkan berbagai spekulasi di kalangan penggemar balap motor mengenai penyebab utama performa Veda yang jauh dari harapan.
Hiroshi Aoyama Tunjukkan Kekecewaan Usai Kualifikasi Moto3 Catalunya
Fakta di lintasan menunjukkan Veda Ega Pratama harus menjalani sesi Q1 pada Sabtu, 16 Mei 2026, karena gagal mengamankan tiket otomatis ke Q2 dari hasil latihan sebelumnya.
Target utama Veda saat itu adalah finis di empat besar Q1 agar bisa melanjutkan perjuangan ke sesi penentuan pole position.
Namun kenyataan berkata lain.
Veda hanya mampu mencatatkan waktu terbaik 1 menit 47,636 detik yang menempatkannya di posisi ketujuh Q1.
Catatan tersebut membuat pembalap asal Gunungkidul itu gagal melaju ke Q2 dan harus memulai balapan dari urutan ke-21.
Yang membuat hasil ini terasa menyakitkan adalah selisih waktunya yang sangat tipis.
Veda hanya terpaut sekitar 0,052 detik dari pembalap Irlandia, Cormac Buchanan O'Gorman, yang berhasil merebut posisi keempat atau batas terakhir tiket menuju Q2.
Di tengah hasil mengecewakan itu, kamera televisi menangkap Hiroshi Aoyama terlihat berdiskusi serius dengan kru teknis sambil memperhatikan data telemetri motor.
Masalah Setup Motor Diduga Jadi Penyebab Utama
Berdasarkan berbagai indikasi yang muncul selama sesi kualifikasi, sumber masalah diduga berasal dari paket teknis motor yang digunakan Veda Ega Pratama.
Beberapa kendala yang menjadi sorotan adalah masalah grip ban belakang, setelan suspensi, hingga mapping elektronik mesin.
Sirkuit Catalunya dikenal memiliki karakter aspal yang cukup menantang ketika temperatur meningkat.
Dalam kondisi seperti itu, pengaturan tekanan ban menjadi faktor penting.
Jika tekanan tidak sesuai, ban belakang akan kesulitan menghasilkan traksi optimal saat motor keluar tikungan.
Akibatnya pembalap kehilangan momentum ketika mulai membuka gas.
Selain itu, suspensi juga diduga menjadi perhatian utama Hiroshi Aoyama.
Setelan yang terlalu kaku dapat membuat motor kehilangan stabilitas saat pengereman keras.
Kondisi tersebut mengurangi kepercayaan diri pembalap ketika melakukan time attack dalam sesi kualifikasi.
Faktor lain yang disebut berpotensi memengaruhi performa adalah mapping elektronik.
Pengaturan engine brake dan respons throttle yang tidak sesuai dapat membuat ritme balap terganggu, terutama pada kelas Moto3 yang memiliki persaingan sangat ketat.
Hiroshi Aoyama Tetap Percaya pada Potensi Veda Ega Pratama
Meski terlihat frustrasi, indikasi yang muncul menunjukkan kemarahan Hiroshi Aoyama bukan ditujukan kepada Veda Ega Pratama.
Sebaliknya, reaksi tersebut justru mencerminkan tingginya ekspektasi yang dimiliki Honda Team Asia terhadap pembalap muda Indonesia tersebut.
Apalagi masalah serupa disebut sudah muncul pada seri sebelumnya di Prancis.
Keluhan mengenai ban belakang yang cepat kehilangan traksi serta motor yang sulit dikendalikan saat keluar tikungan pernah disampaikan sebelumnya.
Karena itu, kegagalan memperbaiki persoalan yang sama menjadi alasan kuat mengapa suasana garasi memanas.
Di sisi lain, Veda menunjukkan sikap profesional meski menghadapi situasi sulit.
Alih-alih menyalahkan tim, ia tetap memberikan masukan teknis kepada mekanik untuk membantu proses evaluasi.
Fakta bahwa Veda hanya terpaut 0,052 detik dari tiket Q2 meskipun diduga mengalami kendala teknis menjadi bukti bahwa potensinya masih sangat besar.
Balapan utama Moto3 Catalunya tetap membuka peluang bagi pembalap Indonesia tersebut untuk bangkit.
Sirkuit Catalunya memiliki lintasan lurus panjang yang memungkinkan pembalap memanfaatkan slipstream untuk melakukan banyak manuver menyalip.
Karena itu, pekerjaan rumah terbesar Honda Team Asia adalah menemukan solusi terbaik sebelum balapan dimulai.
Pada akhirnya, drama yang melibatkan Hiroshi Aoyama dan garasi Honda Team Asia menjadi pengingat bahwa hasil balapan tidak hanya ditentukan kemampuan pembalap.
Faktor teknis dan keputusan setup motor juga memiliki peran besar dalam menentukan hasil akhir di lintasan.
Editor : Muhammad Rusdian Nuzula