RADAR TULUNGAGUNG - Hiroshi Aoyama menjadi pusat perhatian setelah ekspresi kemarahannya tertangkap kamera usai sesi kualifikasi Moto3 Catalunya 2026. Reaksi manajer Honda Team Asia itu muncul setelah Veda Ega Pratama gagal lolos ke Q2 dan harus puas menempati posisi start ke-21 untuk balapan utama.
Peristiwa tersebut langsung memancing berbagai komentar dari penggemar balap motor.
Sebagian pihak mempertanyakan performa Veda Ega Pratama.
Namun sejumlah indikasi menunjukkan akar persoalan justru berasal dari aspek teknis yang menghambat performa motor sepanjang sesi kualifikasi.
Hiroshi Aoyama sendiri terlihat aktif memeriksa data telemetri dan berdiskusi intens dengan kru mekanik setelah sesi berakhir.
Kegagalan Lolos Q2 Diawali Selisih Waktu yang Sangat Tipis
Moto3 dikenal sebagai kelas dengan persaingan paling rapat dalam kejuaraan dunia balap motor.
Selisih sepersekian detik sering menjadi pembeda antara keberhasilan dan kegagalan.
Hal itu dialami Veda Ega Pratama di Catalunya.
Pada sesi Q1, pembalap Indonesia tersebut mencatat waktu terbaik 1 menit 47,636 detik.
Catatan itu hanya cukup menempatkannya di posisi ketujuh.
Padahal tiket terakhir menuju Q2 berada di posisi keempat.
Perbedaannya hanya sekitar 0,052 detik.
Dengan selisih yang sangat kecil tersebut, peluang lolos sebenarnya masih terbuka apabila motor mampu bekerja secara maksimal sepanjang sesi.
Sayangnya kondisi itu tidak terjadi.
Data Telemetri dan Setup Motor Jadi Sorotan Hiroshi Aoyama
Salah satu momen yang menarik perhatian adalah ketika Hiroshi Aoyama terlihat mengamati layar data telemetri sambil berdiskusi dengan kru teknis.
Reaksi tersebut memunculkan dugaan adanya ketidaksesuaian setup motor yang berdampak langsung terhadap performa Veda.
Beberapa aspek yang diduga bermasalah meliputi grip ban belakang, pengaturan suspensi, serta sistem elektronik motor.
Masalah grip membuat pembalap kesulitan mendapatkan akselerasi maksimal saat keluar tikungan.
Sementara suspensi yang kurang ideal dapat mengganggu stabilitas ketika memasuki area pengereman.
Dalam balapan modern, pengaturan elektronik juga menjadi faktor penting.
Kesalahan kecil dalam mapping mesin dapat memengaruhi respons motor sepanjang putaran.
Kombinasi beberapa faktor tersebut diyakini membuat performa Veda tidak berkembang sesuai potensi sebenarnya.
Veda Ega Pratama Tetap Menunjukkan Mentalitas Pembalap Dunia
Meski menghadapi situasi sulit, Veda Ega Pratama tetap menunjukkan sikap yang tenang dan profesional.
Pembalap muda Indonesia itu tidak larut dalam kekecewaan meskipun gagal mencapai target masuk Q2.
Sebaliknya, ia fokus memberikan umpan balik teknis kepada tim untuk membantu proses evaluasi.
Sikap tersebut menjadi nilai penting dalam proses perkembangan seorang pembalap muda yang sedang meniti karier internasional.
Tantangan berikutnya adalah balapan utama yang akan dimulai dari posisi ke-21.
Posisi tersebut memang tidak ideal karena Moto3 dikenal memiliki kelompok pembalap yang sangat rapat dan penuh risiko kontak.
Namun peluang bangkit masih terbuka.
Karakter sirkuit Catalunya yang memiliki trek lurus panjang memungkinkan pembalap melakukan banyak manuver slipstream dan overtaking.
Karena itu, fokus Honda Team Asia kini tertuju pada proses penyempurnaan setup motor sebelum balapan berlangsung.
Drama di garasi yang melibatkan Hiroshi Aoyama menunjukkan besarnya perhatian tim terhadap perkembangan Veda Ega Pratama.
Kemarahan yang terlihat bukan sekadar emosi sesaat, melainkan bentuk tuntutan agar seluruh elemen tim mampu memberikan paket terbaik bagi pembalap yang digadang-gadang menjadi salah satu talenta masa depan Indonesia.
Editor : Muhammad Rusdian Nuzula