RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Nama Aqua kini begitu melekat di kehidupan masyarakat Indonesia. Bahkan, banyak orang menyebut semua air minum dalam kemasan sebagai "Aqua". Namun, di balik kesuksesan tersebut, terdapat kisah panjang perjuangan pendiri Aqua, Tirto Utomo, yang sempat mengalami kerugian besar dan hampir menutup perusahaannya.
Pada awal kemunculannya, bisnis air minum dalam kemasan dianggap sebagai ide yang aneh. Masyarakat saat itu belum terbiasa membeli air putih karena merasa kebutuhan tersebut bisa dipenuhi dengan air sumur atau air rebusan di rumah.
Akibatnya, produk Aqua sulit diterima pasar. Bahkan, air mineral kemasan tersebut pernah ditolak masyarakat meski dibagikan secara gratis.
Berawal dari Pengalaman Saat Menjamu Tamu Asing
Tirto Utomo mendapatkan ide bisnis air minum dalam kemasan pada awal 1970-an. Inspirasi itu muncul ketika dirinya melakukan pertemuan dengan delegasi perusahaan asal Amerika Serikat di Jakarta.
Dalam pertemuan tersebut, salah satu anggota delegasi mengalami gangguan pencernaan setelah mengonsumsi air yang tersedia di lokasi.
Kejadian itu membuat Tirto menyadari bahwa Indonesia membutuhkan produk air minum yang higienis dan praktis, terutama bagi kalangan ekspatriat yang tidak terbiasa mengonsumsi air rebusan.
Naluri bisnisnya kemudian melihat peluang besar yang belum digarap oleh siapa pun di Indonesia.
Mendirikan Perusahaan Air Minum Pertama
Dengan tekad yang kuat, Tirto mempelajari proses pengolahan air mineral. Ia bahkan mengirim adiknya untuk belajar ke Thailand agar memahami teknologi produksi air minum kemasan.
Setelah itu, Tirto mendirikan PT Golden Mississippi di Bekasi. Perusahaan tersebut kemudian meluncurkan produk air minum dengan merek Aqua pada 1 Oktober 1974.
Pada awalnya, target pasar Aqua adalah masyarakat asing yang tinggal di Indonesia. Nama Aqua dipilih karena mudah diingat dan memiliki makna yang erat dengan air.
Meski demikian, perjalanan bisnis tersebut tidak berjalan sesuai harapan.
Sulit Terjual dan Hampir Bangkrut
Masyarakat Indonesia saat itu belum melihat manfaat membeli air putih dalam botol. Banyak yang menganggap produk tersebut tidak memiliki nilai tambah.
Para karyawan Aqua bahkan harus turun langsung ke jalan untuk memperkenalkan produk kepada masyarakat.
Namun, upaya itu belum membuahkan hasil. Produk yang dibagikan gratis pun masih banyak ditolak.
Akibat minimnya penjualan, Tirto harus menggunakan uang pribadinya untuk membayar gaji karyawan dan menjaga perusahaan tetap beroperasi.
Setiap bulan, kerugian terus terjadi. Kondisi tersebut membuat Aqua berada di ambang kebangkrutan.
Pada tahun 1977, Tirto sempat mengumpulkan para petinggi perusahaan dan menyampaikan kemungkinan menutup bisnis tersebut apabila tidak segera menghasilkan keuntungan.
Keputusan Berani yang Mengubah Nasib Aqua
Di tengah kondisi yang sulit, Tirto mengambil langkah yang cukup mengejutkan.
Alih-alih menurunkan harga, ia justru menaikkan harga jual Aqua secara signifikan.
Saat itu, satu botol Aqua dijual dengan harga sekitar 75 perak. Harga tersebut kemudian dinaikkan menjadi sekitar 175 perak.
Keputusan tersebut ternyata memberikan hasil yang tidak terduga. Konsumen mulai melihat Aqua sebagai produk berkualitas dan lebih terpercaya.
Kepercayaan masyarakat terhadap air minum kemasan perlahan meningkat. Penjualan Aqua pun melonjak dan terus berkembang dari tahun ke tahun.
Popularitas Aqua semakin meningkat setelah produk tersebut banyak digunakan dalam berbagai kegiatan olahraga, perkantoran, dan rumah tangga.
Kini, Aqua menjadi salah satu merek air minum terbesar di Indonesia dan menguasai pangsa pasar yang sangat besar.
Kisah Tirto Utomo membuktikan bahwa kesuksesan sering kali lahir dari ide yang awalnya dianggap mustahil. Ketekunan, keberanian mengambil risiko, dan keyakinan terhadap visi bisnis menjadi kunci yang mengantarkan Aqua menjadi pemimpin industri air mineral di Indonesia.
Editor : Ingge Nayla Ayu KarinaSumber : You Tube, Nadia omara, DIOLAH