RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Siapa yang tidak mengenal Aqua? Merek air minum dalam kemasan ini sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia. Namun, di balik kesuksesan besar tersebut, terdapat perjuangan panjang dari pendiri Aqua, Tirto Utomo, yang sempat dianggap memiliki ide "gila" karena menjual air putih dalam botol.
Pada era 1970-an, masyarakat Indonesia belum terbiasa membeli air minum. Sebagian besar orang lebih memilih mengonsumsi air sumur atau air yang direbus sendiri di rumah. Karena itu, gagasan menjual air putih dalam kemasan dianggap tidak masuk akal.
Bahkan, banyak orang menolak produk Aqua meski diberikan secara cuma-cuma. Kondisi itu membuat perusahaan yang dirintis Tirto Utomo hampir gulung tikar.
Ide Bisnis Berawal dari Kasus Keracunan Air
Inspirasi mendirikan bisnis air minum kemasan muncul pada 1971. Saat itu, Tirto Utomo sedang mengikuti pertemuan dengan delegasi perusahaan asal Amerika Serikat di Jakarta.
Namun, salah satu anggota delegasi mengalami gangguan pencernaan setelah meminum air yang tersedia di lokasi pertemuan. Peristiwa tersebut membuka mata Tirto mengenai pentingnya air minum yang higienis dan aman.
Ia kemudian melihat peluang besar di sektor air minum dalam kemasan, terutama karena saat itu produk serupa masih sangat minim di Indonesia.
Dengan naluri bisnis yang kuat, Tirto memutuskan untuk mendalami teknologi pengolahan air dan mulai merintis usaha yang kelak menjadi Aqua.
Membangun Aqua dari Nol
Untuk mempelajari proses produksi, Tirto mengirim adiknya, Slamet Utomo, ke Thailand untuk belajar dari perusahaan air minum kemasan yang lebih dulu berkembang.
Setelah memperoleh pengetahuan yang cukup, Tirto mendirikan PT Golden Mississippi di Bekasi. Dengan modal sekitar Rp150 juta, perusahaan mulai memproduksi air mineral dengan merek Aqua.
Produk pertama resmi diluncurkan pada 1 Oktober 1974. Namun, respons pasar jauh dari harapan.
Masyarakat menganggap membeli air putih adalah pemborosan. Bahkan, banyak yang mempertanyakan mengapa seseorang harus mengeluarkan uang untuk membeli sesuatu yang bisa didapat secara gratis.
Akibatnya, penjualan Aqua sangat rendah. Setiap bulan, Tirto harus menanggung kerugian besar demi mempertahankan operasional perusahaan.
Hampir Ditutup karena Terus Merugi
Kondisi keuangan Aqua semakin memburuk hingga pada akhir 1977 Tirto mulai mempertimbangkan untuk menghentikan bisnis tersebut.
Ia bahkan mengumpulkan para pimpinan perusahaan untuk membahas masa depan Aqua yang saat itu terus merugi.
Salah satu tantangan terbesar adalah rendahnya kepercayaan masyarakat terhadap air minum dalam kemasan. Produk tersebut dinilai tidak memiliki nilai lebih dibandingkan air sumur.
Namun, di tengah situasi sulit itu, Tirto mengambil langkah yang tidak biasa.
Strategi Harga yang Menyelamatkan Aqua
Alih-alih menurunkan harga demi menarik minat konsumen, Tirto justru menaikkan harga jual Aqua.
Saat itu, satu botol Aqua dijual seharga 75 perak. Harga tersebut kemudian dinaikkan menjadi 175 perak.
Keputusan tersebut ternyata menjadi titik balik yang mengubah nasib perusahaan.
Konsumen mulai menilai Aqua sebagai produk premium dengan kualitas yang lebih terjamin. Kepercayaan masyarakat perlahan tumbuh, dan penjualan meningkat drastis.
Dalam waktu singkat, penjualan Aqua melonjak hingga beberapa kali lipat.
Sejak saat itu, Aqua semakin dikenal luas. Produk ini mulai digunakan di berbagai perkantoran, hotel, acara olahraga, hingga rumah tangga.
Kini, Aqua menjadi salah satu merek air minum terbesar di Indonesia dan menguasai sebagian besar pasar air mineral nasional.
Kisah Tirto Utomo menjadi inspirasi bahwa sebuah ide yang dianggap mustahil bisa menjadi peluang besar apabila dijalankan dengan keyakinan, inovasi, dan kerja keras.
Editor : Ingge Nayla Ayu KarinaSumber : You Tube, Diolah dari berbagai sumber, Nadia omara