RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Kisah pendiri Aqua, Tirto Utomo, menjadi salah satu cerita paling inspiratif dalam dunia bisnis Indonesia. Di tengah dominasi berbagai merek air mineral saat ini, tidak banyak yang mengetahui bahwa bisnis air minum dalam kemasan pernah dianggap sebagai ide yang mustahil untuk berhasil.
Saat pertama kali memperkenalkan Aqua, Tirto Utomo justru mendapat banyak cibiran. Banyak masyarakat menilai menjual air putih dalam botol adalah tindakan yang aneh karena air bisa diperoleh secara gratis dari sumur atau cukup direbus di rumah.
Namun berkat keyakinan dan keberaniannya mengambil risiko, Tirto berhasil mengubah kebiasaan masyarakat Indonesia dan membangun salah satu merek paling kuat di Tanah Air.
Berawal dari Pengalaman Saat Bertemu Delegasi Amerika
Tirto Utomo lahir di Wonosobo pada 8 Maret 1930. Sebelum menjadi pengusaha, ia dikenal sebagai wartawan dan sempat bekerja di Pertamina.
Ide mendirikan bisnis air minum kemasan muncul pada tahun 1971. Saat itu, Tirto sedang mengadakan pertemuan bisnis dengan delegasi dari Amerika Serikat di Jakarta.
Pertemuan tersebut nyaris terganggu setelah salah satu anggota delegasi mengalami sakit perut akibat mengonsumsi air yang dinilai kurang higienis.
Peristiwa itu membuat Tirto menyadari pentingnya ketersediaan air minum yang steril dan aman dikonsumsi. Dari sinilah lahir gagasan untuk memproduksi air minum dalam kemasan pertama di Indonesia.
Aqua Pernah Sulit Dijual
Setelah mempelajari teknologi pengolahan air dari Thailand, Tirto mendirikan PT Golden Mississippi di Bekasi. Produk Aqua kemudian resmi diluncurkan pada 1 Oktober 1974.
Namun perjalanan bisnis tersebut tidak berjalan mulus. Pada masa itu, masyarakat Indonesia belum memiliki budaya membeli air minum.
Bahkan, banyak orang menolak Aqua meskipun produk tersebut diberikan secara gratis. Mereka menganggap air sumur jauh lebih baik dibandingkan air yang dikemas dalam botol.
Penjualan yang minim membuat kondisi keuangan perusahaan semakin berat. Tirto harus menggunakan uang pribadinya untuk membayar gaji para karyawan dan menjaga perusahaan tetap beroperasi.
Kerugian demi kerugian membuat Aqua berada di ujung tanduk. Pada akhir 1977, Tirto bahkan mempertimbangkan untuk menghentikan seluruh operasional perusahaan.
Keputusan Menaikkan Harga Jadi Titik Balik
Di tengah kondisi yang sulit, Tirto mengambil langkah yang tidak biasa. Ia justru memutuskan menaikkan harga jual Aqua.
Saat itu, satu botol Aqua dijual dengan harga 75 perak. Harga tersebut kemudian dinaikkan menjadi 175 perak atau lebih dari dua kali lipat.
Keputusan tersebut ternyata membawa hasil yang mengejutkan. Konsumen mulai menilai Aqua sebagai produk premium yang memiliki kualitas lebih baik dibandingkan air biasa.
Kepercayaan masyarakat perlahan tumbuh. Penjualan Aqua meningkat tajam dan mulai menjangkau pasar yang lebih luas.
Tidak hanya kalangan ekspatriat, masyarakat lokal pun mulai menjadikan Aqua sebagai pilihan untuk memenuhi kebutuhan air minum sehari-hari.
Menjadi Pelopor Air Minum Kemasan di Indonesia
Seiring berjalannya waktu, Aqua semakin berkembang dan menjadi pelopor industri air minum dalam kemasan di Indonesia.
Perusahaan terus melakukan inovasi, mulai dari penggunaan mata air pegunungan hingga peluncuran produk galon yang kini menjadi bagian dari kebutuhan rumah tangga modern.
Pada tahun 1996, perusahaan multinasional asal Prancis, Danone, masuk sebagai pemegang saham mayoritas. Langkah tersebut semakin memperkuat posisi Aqua di pasar nasional.
Kini, Aqua telah menjadi merek yang sangat kuat hingga namanya sering digunakan sebagai sebutan umum untuk air minum dalam kemasan.
Kisah Tirto Utomo menjadi bukti bahwa ide yang awalnya dianggap aneh tidak selalu berakhir gagal. Dengan ketekunan, keberanian, dan visi jangka panjang, sebuah gagasan sederhana dapat berubah menjadi bisnis bernilai miliaran rupiah dan mengubah kebiasaan masyarakat secara luas.
Editor : Ingge Nayla Ayu KarinaSumber : You Tube, Nadia omara, DIOLAH