TULUNGAGUNG - Konflik Ruben Onsu dan Sarwendah kembali memanas dan menyita perhatian publik usai berbagai tuduhan antarpihak meruncing di media sosial. Keretakan hubungan mantan pasangan suami istri ini dinilai semakin melebar akibat munculnya narasi publik yang dianggap menyudutkan salah satu pihak. Padahal, pembagian hak asuh anak serta urusan kewajiban finansial pasca-perceraian pada dasarnya telah diatur secara transparan dan formal dalam dokumen kesepakatan hukum.
Kuasa hukum Ruben Onsu, Minola Sebayang, mengungkapkan bahwa akar dari kerumitan konflik Ruben Onsu dan Sarwendah ini sebenarnya bisa diselesaikan secara sederhana apabila kedua belah pihak mau berpegang teguh pada aturan tertulis. Merujuk pada Akta 39 yang disepakati saat proses perceraian mereka berdua rampung pada tahun 2024 lalu, jadwal pembagian waktu bersama anak-anak telah ditetapkan secara berimbang, yakni empat hari bersama satu pihak dan tiga hari bersama pihak lainnya tanpa perlu diperdebatkan lagi.
Namun, eskalasi konflik Ruben Onsu dan Sarwendah justru terus dipicu oleh kebiasaan melempar persoalan internal keluarga ke ruang publik. Minola sangat menyayangkan tuduhan mengenai uang nafkah anak yang diklaim tidak lagi dibayarkan, padahal Ruben hanya meminta perincian pengeluaran rutin agar mengetahui alokasi kebutuhan buah hatinya secara jelas. Alih-alih melakukan diskusi internal untuk menyerahkan rincian tersebut, pihak Sarwendah dinilai lebih memilih narasi publik bahwa anak-anaknya tidak dinafkahi. Selain itu, isu kedatangan debt collector juga diumbar ke masyarakat luas. Menurut pengacara asal Sumatera Barat tersebut, apabila terdapat kendala mengenai rincian kebutuhan nafkah bulanan, komunikasi langsung dengan Ruben seharusnya menjadi sarana utama penyelesaian, bukan justru mengunggah kekecewaan ke media sosial demi menggiring opini publik dan mempermalukan kliennya.
Baca Juga: Cara Bangun Bisnis dari Nol Tanpa Modal Besar, Ini 3 Langkah Simpel yang Wajib Dicoba!
Isu Lelang Rumah Cilandak dan Keterlibatan Tiket Konser
Salah satu fakta mengejutkan yang dibongkar oleh pihak Ruben Onsu adalah latar belakang sebenarnya di balik munculnya rumor rumah Cilandak yang dikabarkan akan dilelang oleh pihak bank. Minola membeberkan bahwa ancaman mengenai lelang rumah tempat tinggal tersebut sebenarnya bukanlah barang baru, melainkan telah bergulir sejak Oktober 2025 lalu. Gertakan tersebut awalnya dipicu oleh persoalan sepele yang berkaitan dengan permintaan tambahan tiket konser grup musik Blackpink yang tidak dapat dipenuhi secara mendadak.
Kala itu, Ruben tidak membalas pertanyaan yang diajukan secara berulang-ulang mengenai penambahan satu tiket di barisan duduk yang sama karena tiket pertunjukan memang telah habis terjual. Tak berselang lama setelah itu, pesan bernada tekanan soal lelang rumah mulai dilontarkan untuk menjatuhkan mental Ruben. Pihak kuasa hukum Ruben juga menegaskan telah melakukan langkah klarifikasi resmi kepada pihak bank terkait status kredit rumah Cilandak tersebut. Bank mengonfirmasi bahwa posisi kredit atas nama Ruben Onsu masih dalam prosedur penyelesaian internal dan secara tegas membantah pernah mengirimkan debt collector ke kediaman Sarwendah.
Pengaruh Keretakan Hubungan dan Framing terhadap Anak-Anak
Dampak dari polemik yang tak kunjung usai ini tidak hanya memengaruhi kedua belah pihak, tetapi juga menghantam kondisi psikologis anak-anak mereka, yakni Tania dan Talia. Presenter berusia 42 tahun itu kerap mencurahkan kerinduannya dan rasa gelisah di media sosial akibat perubahan sikap yang diperlihatkan oleh kedua buah hatinya. Rasa kecewa Ruben semakin mendalam saat mengingat sejumlah kejadian emosional yang dialaminya. Salah satunya terjadi ketika ia menggendong anaknya di tempat les balet namun didatangi dengan ekspresi marah, hingga momen perayaan malam Natal saat Onyo ingin berfoto bersama adiknya namun tiba-tiba ditarik dari lokasi tersebut.
Baca Juga: Bahan Herbal Alami Ini Simpan Khasiat Ajaib, Nomor 6 Bikin Tekanan Darah dan Kolesterol Anjlok!
Pihak pengacara menilai ada upaya pembentukan stigma atau framing sepihak yang berpotensi membuat anak-anak menjauhi sang ayah. Narasi yang berkembang seolah-olah menempatkan sang ibu sebagai pihak yang paling tersakiti, sehingga memicu kemarahan anak terhadap ayahnya. Padahal, peristiwa sebelum Juli 2026 menunjukkan hal sebaliknya, di mana Ruben justru sering diejek, dikatai pengecut, hingga ditertawakan secara berjamaah dalam siaran langsung TikTok. Minola mempertanyakan mengapa ketika ayah mereka dilecehkan secara terbuka, anak-anak tidak diberi pemahaman yang berimbang. Di tengah kemelut ini, Ruben memilih untuk tetap tenang dan fokus mempersiapkan ibadah umrah dalam waktu dekat sembari berharap suasana emosional keluarga dapat berangsur membaik pasca-kepulangannya nanti.
Untuk mengakhiri perselisihan yang berlarut-larut ini, keterbukaan serta kepatuhan terhadap keputusan pengadilan menjadi kunci paling utama. Pihak Ruben menekankan agar segala bentuk dinamika internal tidak lagi diumbar ke khalayak umum hanya demi mencari empati atau mempermalukan mantan pasangan. Dengan kembali menaati seluruh poin yang tertuang dalam Akta 39 secara konsisten, keharmonisan komunikasi serta kenyamanan tumbuh kembang anak-anak dapat kembali diprioritaskan secara damai.
Editor : Natasha Eka SafrinaSumber : Cumicumi