Membuat film bukan hal baru bagi Muhammad Wulida Fidhdhuha. Warga asli Desa Batangsaren, Kecamatan Kauman itu sudah cukup lama berkecimpung dalam dunia film atau audio visual. Karena keahliannya itu, dia kerap bekerja sama dengan para sutradara dan produser terkenal seperti Hanung Bramantio, Arturo GP, dan masih banyak lainnya.
WHENDY GIGIH PERKASA
Kota Marmer memang tidak pernah sepi melahirkan para generasi muda berkualitas dalam berbagai bidang. Salah satunya dalam dunia produksi film. Seperti Muhammad Wulida Fidhdhuha atau dikenal dengan nama David Dhuha. Meski belum menjadi sutradara, namun kinerjanya cukup diakui. Terbukti sering bekerja bersama produsen profesional dalam dan luar negeri dalam pembuatan berbagai film.
Saat wawancara, David mengaku, sudah tertarik dengan syuting sejak masih duduk di bangku SMP. Saat itu, dia kali pertama mendapatkan kamera yang langsung dipakai untuk merekam setiap momen sesuai keinginan David. Bukan hanya itu, dia juga sudah belajar editing video di komputer.
Berlanjut di SMA, saat itu David membuat film pendek sendiri berisi catatan akhir sekolah. Dia mengambil gambar lingkungan sekolah, teman-teman, kepala sekolah, dan guru. Film itu diputar saat purnawiyata, dan saat itulah banyak guru dan siswa yang menangis. Ketertarikan David terhadap dunia audio visual diketahui guru BK. Guru itu memberikan saran agar David melanjutkan kuliah di kampus yang memiliki jurusan tentang produksi film.
Saran dari guru itu dilakoni David. Dia dan temannya berangkat mendaftar di Universitas Negeri Surabaya (Unesa). David diterima melalui jalur PMDK karena nilai rapornya bagus. Dia lantas memilih jurusan Broadcasting dan lebih tertarik dengan produksi film, lantas melanjutkan magang di sebuah rumah produksi di Jakarta. Dan itu berlanjut hingga saat ini yang terus berkarya dalam dunia film. “Kuliah dua tahun, lulus 2009,” ungkap David.
Sebelum lulus kuliah, David sudah menyelesaikan film pendek lintas kampus yang dikirim untuk kompetisi di Jakarta. Dia satu tim dengan mahasiswa dari ITS dan UM. Ternyata film yang dibuat berhasil mendapatkan penghargaan yakni Best Movie dan Favorite Movie berdasarkan pilihan penonton. Saat itu yang menjadi juri yakni Hanung Bramantio, Nadine Candrawinata, dan Arturo GP.
Masuk kejenjang karir. David memulai debutnya dalam dunia produksi film sebagai asisten produser (production asistance). Dia bertugas mempersiapkan segala kebutuhan produksi, seperti peralatan syuting, filter kamera, konsumsi kru, dan lain sebagainya. Selanjutnya, David masuk dalam bagian IT yang bertugas memindahkan gambar dari kamera ke data komputer, sekaligus manajemen file.
Jenjang karir kemudian naik menjadi asisten editor. Yakni mendampingi editor utama. Editor butuh gambar apa, harus siap. Selain itu harus memahami jadwal, misalnya hari ini waktunya science apa. Tahapan selanjutnya masuk menjadi editor visual. Ada beberapa film yang digarap David saat menjadi editor visual. Yakni FTV di MNCTV, Bima X dan layar lebar. “Pada awal 2017, jadi sutradara film pendek namun belum selesai,” ujar David.
Pria yang kini lebih sering di Jakarta itu juga pernah membuat video klip. Beberapa di antaranya video klip Isyana Saraswati, Raisa dan lain sebagainya. Menurut David, setiap kali berkarya selalu ada wawasan baru, tantangan baru, permasalahan baru, solusi baru. Namun itu semua demi menghasilkan karya yang lebih baik.
Apa saja yang perlu disiapkan untuk membuat film? David mengatakan, cukup banyak. Beberapa di antaranya tema, konsep pesan apa yang disampaikan dalam film yang akan dibuat. Kemudian bagaimana menuliskan ceita yang baik dan benar (tidak perlu bagus dulu). Langkah selanjutnya dikembangkan menjadi treatment story. Yakni bagaimana konfliknya, benturan yang ada dalam cerita dan lain sebagainya. “Setelah itu cari produser atau rekan-rekan yang membantu dalam hal pendanaan, alat, dan lain sebagainya. Paling lama itu konsep,” ujarnya.
Meski sudah cukup ahli dalam dunia film, David tidak menampik kesulitan tetap ada. Menurut dia, kesulitan dalam membuat film yakni menyelesaikannya dari rangkaian ide, menulis skenario, syuting, editing, dan tahapan lainnya. Banyak faktor yang membuat film belum terselesaikan. Misalnya berkaitan dengan pendanaan dan waktu serta kendala teknis. “Untuk berapa lama produksi film, tergantung skenario, produser, dan tentu saja budget yang dibutuhkan,” jelasnya.
Ada beberapa film yang pernah dibuat. Namun dia menegaskan, belum menjadi sutradara, melainkan dibalik layar membantu sutradara. Di antaranya FTV di MNCTV yang disutradarai Hanung Bramantio. Film lebaran 2015 yang berjudul Seputih Cinta Melati. Saat menggarap film itu, David menjadi editor II. Kemudian ada film serial TV 20 episode. Dalam film itu, David menjadi editor dengan sutradara Arturo GP. David juga ikut terlibat dalam pembuatan film Bima X yang ditayangkan RCTI.
Selama ini sudah cukup banyak penghargaan yang diraih. Beberapa di antaranya Best Movie LA Indie movie Competition 2009 dengan judul film Missing Spot sebagai director of photography. Favourite movie LA Indie Movie Compeition 2009 dengan judul film Missing Spot director of photography. Penghargaan lain Nominasi film terbaik dan editing terbaik Festival Film Jawa Timur Dinas Pendidikan Budaya dan Pariwisata 2012 dengan judul film Pusaka Lereng Kelud sebagai editor film.
Untuk dunia perfilman, David berharap semakin semarak secara kualitas tayang, genre yang diangkat, dan menjadi tuan rumah di negeri sendiri. “Pesan saya untuk semua penonton film, stop menonton bajakan. Dukung film Indonesia agar semakin maju dan berkembang. Saya juga pengen banget bikin film di Tulungagung,”pungkasnya. (*/din)
Editor : Dharaka Russiandi Perdana