Setiap warga Negara Indonesia berhak mengapresiasikan kegembiraan di hari kemerdekaan ini, begitu juga dengan warga binaan di Rutan Kelas II B Trenggalek. Kemarin(16/8), mereka terlihat antusias mengikuti berbagai perlombaan yang sengaja disediakan untuk menghibur dan sejenak menikmati ‘kebebasan’.
AGUS MUHAIMIN
Ada banyak cara meluapkan kebahagiaan saat hari kemerdekaan. Masyarakat Trenggalek biasanya, menggelar syukuran atau tikaratan di lingkungan masing-masing yang digelar pada 16 Agustus malam. Berbagai perlombaan sebagai refleksi perjuangan para pahlawan zaman dulu juga tak terlewatkan saat hari besar ini. Tak terkecuali mereka yang terbelunggu di balik jeruji besi, Rutan Kelas II B Trenggalek .
Terdengar suara mereka lirih saat mengikuti lomba menyanyi, mungkin karena malu. Pasalnya, bukan hanya karena ada juri yang menilai suara dan keseriusan mereka. Lagu yang dinyanyikan adalah lagu-lagu kebangsaan yang telah lama mereka lupa sehingga membutuhkan bantuan teks.
Beberapa menit kemudian, suasana lapangan rutan berbeda. Itu setelah ada seorang biduan yang menyelingi perlombaan tersebut dengan lagu-lagu dangdut. Lagu-lagu yang tentunya sangat akrab dengan telinga masyarakat, pun sama dengan penghuni rutan ini. Sedetik berikutnya mereka juga berdiri dan berjoget mengikuti irama dangdut tersebut.
Tak hanya lomba menyanyi, tepat di tengah lapangan di dalam rutan ini, terdapat batang pinang yang berbuah kardus dan berbagai macam minuman. Seperti juga di luaran sana, para warga binaan ini pun membuat kelompok dengan sesama napi dan tahanan lainnya untuk bisa mencabut dan mengibarkan bendera yang ada di atas batang pinang tersebut. Dari bawah tak terlihat hadiah yang menarik, dan memang bukan semata karena hadiahnya, perlombaan ini menjadi seru.
Puluhan orang terlihat dengan cepat merapat, membentuk lingkaran mendengarkan pengarahan dari panitia. Beberapa saat kemudian, lima pemuda mulai bersiap. Umumnya, mereka yang memiliki badan besar di bawah, begitu seterusnya hingga yang bagian atas adalah yang memiliki postur tinggi dan kecil dengan harapan lebih ringan.
Namun jika dengan itu mereka berharap bisa mencapai puncak, sebaiknya tak usah mengikuti perlombaan tersebut. Pasalnya tinggi tiang pinang itu sudah diukur dan dibuat lebih tinggi sekitar 1 meter dari total tinggi lima orang dewasa. Selain itu, pinang telah diolesi dengan minyak sehingga mencapai puncak menjadi hal yang sangat sulit.
Satu persatu kelompok itu tumbang. Jangan kan menyentuh bendera, bisa mencapai satu meter di bawah hadiah saja, itu membutuhkan perjuangan yang sulit. Terlebih harus dilakukan sedemikian cepat, mengingat penumpu di bawah tentu tidak bisa bertahan lebih dari 5 menit. Tampak mereka yang menjadi penumpu di bawah meringis menahan beban 4 orang rekan yang berdiri di atasnya.
Setelah berpuluh kali kelompok gurur, mulai ada kelompok yang berlaku tidak sportif. Mereka membawa kaus dan mencoba membersihkan tiang pinang tersebut. Sayang, upaya itupun masih gagal. Hampir satu jam lamanya, puluhan orang berjatuhan di bawah pohon pinang itu.
Sampai tiba giliran kelompok Suliantono yang berhasil menurunkan bendera dan membawa sebagian hadiah turun. Seperti halnya kelompok lain, di bawah adalah yang memiliki postur besar. Suliantono berada di bagian paling atas. Tubuhnya memang kecil, tapi pendek. Saat naik dia juga membawa kaus. Namun kaus itu tidak digunakan untuk membersihkan melainkan membuat pijakan dia melompat naik. Tubuhnya yang kecil memungkinkan dia meraih plang kayu yang dipakai menggantungkan hadiah. Sehingga dia berhasil naik dan mengibarkan bendera di atas pinang. “ Ini karena teman-teman kompak,” katanya singkat saja.
Meski begitu, buka berarti dibutuhkan trik untuk bisa naik kepuncak. Ya pria kecil ini pun memeliki rahasia. Tak hanya menggunakan kaus untuk pijakan dia juga berdoa. “ Ada rahasiannya, bisamillahhirohmannirrohim, lahalauwalakuata illabillahilaliyiladim, kullu nafsin dzaikotulmaut,” ucapnya. (*)
Editor : Dharaka Russiandi Perdana